Suami yang Pelit

SUAMI YANG PELIT

Sebuah fenomena yang tak jarang kita temui. Fenomena suami-suami yang PHP-in, lah apa itu kok suami PHP-in? Kok istilahnya keren banget? Ya itulah Suami-Suami Pelit (S2P) suka PHP-in istri alias pemberi harapan palsu. Tak heran terkadang tuntutan ekonomi menuntut segala sesuatu harus hemat, uang belanja hemat, uang saku hemat, uang jajan hemat, uang makan hemat, dan gerakan hemat sedunia mulai muncul. Namun tatkala istri diam tunduk termangu tak ada uang. Jangankan uang, kata-kata romantis pun tak ada. Seharusnya seorang suami itu memikirkan yang dinamakan dengan uang nesu (uang sedih) bukan malah suami yang suka PHP-in istri. Mi nanti kita main kesana ya!, Mi nanti makan yang enak ya!, Mi nanti main kesana ya. Sewaktu sebelum nikah pun sudah PHP-in sampai setelah nikah pun belum terbukti. Seperti, nanti kalau nikah ingin punya anak yang hafal Al-Qur’an, shalih, shalihah, dan lain-lain.

Sobat Sakinah, dari gambaran kehidupan di atas terkadang kehidupan ideal dalam rumah tangga akan menjadi angan-angan setiap orang. Dan ini adalah cita-cita tertinggi setiap rumah tangga. Seorang lelaki yang bertindak sebagai nahkoda berharap agar istrinya seorang wanita shalihah, menjalankan kewajiban kepada Rabbnya, taat kepada suami, dan sayang terhadap anak-anak. Di sisi lain, seorang wanita pun mendambakan suaminya lelaki yang bertanggung-jawab, mengerti kewajiban-kewajibannya sebagai hamba Allâh ‘Azza wa Jalla dan kepala rumah tangga. Inilah harapan-harapan yang harus terpenuhi dalam bingkai rumah tangga sakinah. Anda seorang suami maka berikah kewajiban anda, adapun anda seorang istri laksanakan perintah suami anda dengan penuh tanggungjawab.

Baca:  28 Catatan Singkat Seputar Ramadhan

Namun, tahukah anda sebuah keluarga sulit untuk bebas dari masalah, sebab setiap masalah itu rumit dan butuh penyelesaian secara matang. Di antaranya, sebagian istri menghadapi model suami yang pelit, suami yang hanya pemberi harapan palsu. Meskipun memiliki keuangan yang cukup, serba kecukupan, namun sang suami tidak menyodorkan kepada istrinya nafkah yang cukup bagi istri dan anak-anaknya. Akibatnya, istri akan menghadapi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan anak-anak. Terjadilah banyak sekali ketimpamgan dalam rumah tangga. Sementara, ia tidak mudah untuk mendatangi qadhi atau hakim agama untuk menyelesaikan masalah itu.

Tips Menghadapi Suami Pelit

Tatkala masalah ini terjadi, suami tidak memberikan nafkah dengan cukup, padahal ia mampu melakukannya, ada strategi jitu bagi seorang istri. Solusi Islam bagi seorang istri yang suaminya pelit dan suka PHP adalah diperbolehkan untuk mengambil apa yang dibutuhkan dari milik suami, tanpa sepengetahuan suami. Inilah jalan keluar dari syariat yang mulia ini agar seorang istri tidak terlilit kesusahan dalam mengurus rumah tangga.

Baca:  Mutiara Kitab Qawaidul Arba’

Syaikh Husain al-Awayisyah hafizhahullah mengatakan, “Seorang istri berhak meminta (suami) bagian nafkah yang dibutuhkan bagi dirinya dan anak-anak. Dan ia pun boleh mengambil dari uang milik suami secukupnya dengan cara baik-baik, tanpa berlebihan, meski suami tidak mengetahuinya.”

Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwasanya Hindun binti Utbah Radhiyallahu ‘anha berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Abu Sufyan seorang lelaki yang pelit. Maka, aku pun terpaksa mengambil dari uangnya (untuk keperluan nafkah). Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خُذِيْ مَا يَكْفِيْكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوْفِ

“Ambillah apa yang mencukupi dirimu dan anakmu dengan cara yang baik-baik.” (HR. Al-Bukhâri no.7180 dan Muslim no.1714)

Jawaban Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut menjadi solusi bagi setiap istri yang mengalami masalah yang sama. Tatkala mereka mendapati model suami-suami yang pelit dan hanya pemberi harapan palsu saja, ia tidak mesti datang ke pengadilan untuk mengadukan keluhannya tersebut. Dan tidak setiap wanita bisa pergi ke pengadilan untuk hal tersebut. Maka istri yang diperbolehkan mengambil uang suami tanpa sepengetahuannya sebatas kecukupan ia dan anak-anaknya, itu harus bersifat rasyîdah (memiliki akal yang matang dan dewasa). Inilah tingkatan seorang istri yang penuh dengan keistimewaan, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya harta (mereka yang berada dalam kekuasaanmu)” (QS. An-Nisa’ 4:5)

Baca:  Roh Orang Meninggal Kembali Pada Malam Jumat

Ia bukan termasuk istri serakah yang mengambil hanya untuk bersenang-senang atau istri yang durhaka, tidak amanah terhadap apa yang diambil olehnya. Namun, ia mengambil sesuai dengan haknya dan juga anak-anaknya. Begitulah karakter istri yang rasyidah.

(Diadaptasi dari Al-Mausû’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassaratu fî Fiqhil Kitâbi was Sunnatil Muthahharah, Husain bin ‘Audah al-‘Awâyisyah, Dar Ibni Hazm Beirut, Cet. I, Th.1425, 5/182-183)


Ditulis Oleh:
Ustadz Abu Ruwaifi’ As-Samaranji
(Kontributor Bimbinganislam.com)
Bandungan, Kab. Semarang, Sabtu, 22 Jumadil Akhir 1439 H/ 11 Maret 2018 M.