ArtikelhotPendidikanUmum

Para Ulama Yang Telat Umur Dalam Menuntut Ilmu

Para Ulama Yang Telat Umur Dalam Menuntut Ilmu

Idealnya seseorang dalam belajar, terutama ketika menuntut ilmu agama adalah dimulai ketika masih belia, di kala umur belum baligh, pikiran masih bersih, belum tersibukkan dengan tanggung jawab mencari nafkah atau mengurusi anak istri, di kala kondisi masih bersih bagai lembaran kertas yang belum tercoret oleh guratan tinta dan pena.

Menuntut ilmu di waktu belia ketika tidak memiliki noda kemaksiatan yang menutupi hati, tentunya fase umur tersebut akan lebih banyak diberi kemudahan untuk menghafal nash-nash ilahi dari ayat-ayat al-Quran maupun sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam. Oleh karenanya dalam ungkapan orang arab ketika membahasakan menuntut ilmu di masa muda dikatakan:

التعلم في الصغر كالنقش على الحجر والتعلم فى الكبر كالنقش على الماء

“Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu dan belajar di waktu dewasa bagai mengukir di atas air”.

Ungkapan tersebut sedang menggambarkan masa ideal, atau sedang menceritakan keadaan mayoritas orang yang sukses belajar adalah ketika sudah dididik dan diajarkan sejak dini, namun tidak menafikan adanya pengecualian, yakni bukan berarti jika kemudian kita memulai belajar ketika sudah telat dan tidak muda lagi lantas menjadi mustahil bagi kita untuk sukses dalam belajar.

Allah maha mampu memberikan pada hambanya taufiq untuk bisa mudah dan cepat memahami pelajaran, ataupun lancar untuk menghafal. Allah anugrahkan itu bagi siapa saja hambanya yang Allah kehendaki, dan orang yang bersungguh-sungguh dan bertekad kuat kelak akan Allah tunjukkan jalan kemudahannya, dalam firman-Nya disebutkan:

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami”. (al-Ankabut:69).

Baca Juga :  Bersihkan Jiwa Anda Dengan Sholat

Untuk memberikan kita spirit belajar, dan menjaga keistiqamahan menuntut ilmu, rasanya perlu bagi kita untuk sedikit menengok beberapa fakta terkait banyaknya ulama yang sukses mencapai derajat keulamaan mereka padahal bisa dikatakan mereka telah telat untuk belajar ilmu agama.

Sedikit penyebutan kisah mereka harapannya adalah untuk menyuntikkan asa bagi sebagian teman-teman yang mungkin sudah pesimis dalam belajar, atau upaya untuk lebih mengobarkan semangat lagi bagi yang mungkin spiritnya sudah mulai padam, atau juga untuk menegaskan bahwa telatnya seorang dalam menuntut ilmu bukanlah kemustahilan untuk sukses dalam belajar. Berikut beberapa ulama yang telat dalam belajar diantaranya:

1. Abu Bakar Abdullah bin Ahmad bin Abdullah al-Marwazy yang tenar dengan sebutan “al-Qaffal”, syaikhnya madzhab syafii di eranya, beliau wafat di tahun 417h.
al-Imam al-Subky al-Syafii menyebutkan:

الإمام الجليل أبو بكر القفال الصغير ، شيخ طريقة خراسان ، وإنما قيل له ” القفَّال ” لأنه كان يعمل الأقفال في ابتداء أمره ، وبرع في صناعتها ، حتى صنع قفلا بآلاته ومفتاحه وزن أربع حبات ، فلما كان ابن ثلاثين سنة أحس من نفسه ذكاء : فأقبل على الفقه ، فاشتغل به على الشيخ أبي زيد وغيره ، وصار إماماً يُقتدى به فيه ، وتفقه عليه خلقٌ من أهل خراسان

“Beliau adalah seorang imam yang mulia, Abu Bakar al-Qaffal kecil, gurunya metode syafii dari khurosan. Beliau dijuluki al-Qaffal (tukang gembok) karena awal mulanya dahulu bekerja sebagai tukang gembok dan ahli dalam bidang tersebut. Sampai-sampai beliau pernah membuat gembok plus dengan kuncinya dengan perangkat yang beliau punya hanya dengan berat 4 butir biji-bijian. Ketika beliau berumur 30 tahunan, beliau merasa ada sedikit kecerdasan yang beliau miliki. Lantas selepas itu mulai mempelajari fiqih, beliau pun sibuk dengannya di bawah bimbingan syaikh Abu zaid dan selainnya. Jadilah beliau setelahnya seorang Imam yang menjadi teladan dalam fiqih, dan banyak penduduk khurosan menimba ilmu kepada beliau”. (Tabaqat al-Syafiiyah oleh al-Subky juz:5 hal:54).

2. Ashbagh Ibnu al-Faraj, mufti negri mesir di zamannya, beliau termasuk kalangan ulama Malikiah.
al-Imam al-Dzahabi mengatakan:

الشيخ الإمام الكبير ، مفتي الديار المصرية ، وعالِمها ، أبو عبد الله ، المصري ، المالكي.
مولده بعد الخمسين ومئة.
وطلب العلم وهو شاب كبير ، ففاته مالك ، والليث . ” سير أعلام النبلاء “(10 /656)

“Beliau adalah guru, imam besar, mufti negri mesir dan ulamanya, Abu abdillah, dari mesir, bermadzhab maliki. Beliau lahir setelah tahun 150 h, dan beliau menuntut ilmu ketika sudah menjadi pemuda yang dewasa, beliau terluput belajar dari Imam Malik dan juga al-Laits ibnu Sa’d”. (Siyar A’lam al-Nubala juz:10 hal:656).

3. Isa bin Musa Ghunjar, Abu Ahmad al-Bukhary, seorang muhaddist dari negri di balik sungai (بلاد ما وراء النهر) .
Imam al-Hakim menyebutkan:

هو إمام عصره ، طلب العلم على كبر السنِّ
) شذرات الذهب ” ( 1 / 330 “

“Beliau adalah seorang Imam di zamannya, menuntut ilmu ketika sudah tua”. (Syadzaratu al-Dzahab juz:1 hal:330).

4. Qadhinya para qadhi di mesir, syaikh Haris bin Miskin, wafat tahun 240h.
Imam al-Dzahabi bercerita tentang beliau:

وإنما طلب العلم على كبَر
) سير أعلام النبلاء ” ( 12 / 54 “

“Sejatinya beliau (Haris bin Miskin) menuntut ilmu agama ketika sudah tua”. (Siyar A’lam al-Nubala juz:12 hal:54.

Masih ada para imam dan ulama yang lainnya mereka sukses menuntut ilmu di waktu yang telat namun akhirnya sukses menjadi ulama karena taufik dari Allah taala, diantaranya Imam Ibnu Hazm al-Dhohiri yang memulai belajar di umur 26 tahun, sultonu al-ulama al-Izz ibnu Abdi al-Salam yang juga telat menuntut ilmu, Imam al-Kisai yang tenar dengan spesialisasi qiroat al-Quran dan ilmu bahasa arabnya, beliau juga terlambat menuntut ilmu, dan ulama-ulama lainnya yang begitu banyak.

Itulah beberapa contoh dan gambaran sedikit profil para panutan kita yang sukses menjadi ulama walaupun telat dan terlambat untuk menuntut ilmu, tidak ada kata mustahil, beranjaklah untuk memulai, jika Allah menghendaki untuk memberi taufik dengan kesungguhan kita belajar in sya Allah kita akan diberi kemudahan menuju kesuksesan. Tetap jaga semangat, jangan lupa untuk usaha, dan jangan putus untuk berdoa, wallahu a’lam.

Sumber:
1. Lihat: https://islamqa.info/ar/answers/97012/%D9%87%D9%84-%D9%83%D8%A8%D8%B1-%D8%A7%D9%84%D8%B3%D9%86-%D9%8A%D9%85%D9%86%D8%B9-%D9%85%D9%86-%D8%B7%D9%84%D8%A8-%D8%A7%D9%84%D8%B9%D9%84%D9%85
2. Lihat: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/239014/%D8%A3%D9%85%D8%AB%D9%84%D8%A9-%D9%84%D8%B9%D9%84%D9%85%D8%A7%D8%A1-%D8%B7%D9%84%D8%A8%D9%88%D8%A7-%D8%A7%D9%84%D8%B9%D9%84%D9%85-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D9%83%D8%A8%D8%B1
3. Lihat: https://www.marefa.org/%D8%A8%D9%84%D8%A7%D8%AF_%D9%85%D8%A7_%D9%88%D8%B1%D8%A7%D8%A1_%D8%A7%D9%84%D9%86%D9%87%D8%B1 

Disusun oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله

Rabu, 25 Dzul Hijjah 1442 H/ 4 Agustus 2021 M



Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله  
klik disini

Baca Juga :  Hukum Membantu Dekorasi Untuk Acara Drama

Ustadz Setiawan Tugiyono, B.A., M.HI

Beliau adalah Alumni D2 Mahad Aly bin Abi Thalib Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Bahasa Arab 2010 - 2012 , S1 LIPIA Jakarta Syariah 2012 - 2017, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2018 - 2020 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah, Dauroh Masyayikh Ummul Quro Mekkah di PP Riyadush-shalihin Banten, Daurah Syaikh Ali Hasan Al-Halaby, Syaikh Musa Alu Nasr, Syaikh Ziyad, Dauroh-dauroh lain dengan beberapa masyayikh yaman dll | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Belajar bersama dengan kawan-kawan di kampuz jalanan Bantul

Related Articles

Back to top button