Menyingkap Makna di balik Mimpi

Siapa diantara kita yang tidak pernah bermimpi? Tentu tidak ada, kita bisa katakan semua orang pernah mengalami mimpi saat tidurnya. Baik mimpi tersebut baik membawa kebahagiaan atau buruk yang berisi ketakutan. Begitu pula kita sering mendengar tentang tafsir mimpi, mencari makna dari mimpi saat tidur. Bagaimana hukum hal tersebut dalam islam?. Inilah yang akan kita bahas kali ini insya Allah.


 

Tiga Jenis Mimpi

Tahukah anda bahwa mimpi-mimpi yang dialami memiliki sumber dan faktor yang berbeda-beda, hal ini bisa kita lihat dari sabda Rasulullah ﷺ,

الرُّؤْيا ثَلاثٌ، فَرُؤْيا حَقٌّ، ورُؤْيا يُحَدِّثُ بِها الرَّجُلُ نَفْسَهُ، ورُؤْيا تَحْزِينٌ مِنَ الشَّيْطانِ فَمَن رَأى ما يَكْرَهُ فَلْيَقُمْ فَلْيُصَلِّ

“Mimpi itu ada tiga: mimpi yang benar, mimpi karena seseorang menginginkan sesuatu, mimpi kesedihan yang datang dari setan. Maka siapa yang bermimpi buruk hendaklah dia bangun lalu mengerjakan sholat.” (HR. Tirmidzi, 2280).

Dalam riwayat yang lain, lebih jelas lagi Rasulullah ﷺ bersabda,

إن الرؤيا ثلاث: منها أهاويل من الشيطان ليحزن بها ابن آدم، ومنها ما يهم به الرجل في يقظته، فيراه في منامه، ومنها جزء من ستة وأربعين جزءا من النبوة

“Sesungguhnya mimpi itu ada tiga: Mimpi buruk dari setan untuk membuat sedih manusia, mimpi disebabkan seseorang sangat menginginkan sesuatu ketika sadarnya, dan mimpi yang merupakan bagian dari 46 tanda kenabian.” (HR. Ibnu Majah, 3907).

Jadi, berdasarkan hadits tersebut, mimpi ada tiga jenis:

  1. Mimpi buruk yang berisi ketakutan dan kesedihan. Mimpi ini datang dari setan.

2. Mimpi karena keinginan belum terpenuhi.

3. Mimpi baik yang datang dari Allah ﷻ. Mimpi ini merupakan kabar gembira yang merupakan salah satu keistimewaan yang diberikan kepada para Nabi.

Mimpi Jadi Kenyataan, Lantas Langsung Menjadi Nabi?

Dalam sebuah hadits Rasulullah ﷺ bersabda,

إذا اقْتَرَبَ الزَّمانُ لَمْ تَكَدْ تَكْذِبُ رُؤْيا المُؤْمِنِ، ورُؤْيا المُؤْمِنِ جُزْءٌ مِن سِتَّةٍ وأرْبَعِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ

“Apabila waktu kiamat sudah mendekat, kebanyakan mimpi seorang mukmin tidak pernah salah (menjadi kenyataan). Mimpi seorang mukmin itu adalah salah satu dari tanda kenabian.” (HR. Bukhari, 7017).

Bukan berarti ketika seorang bermimpi lalu menjadi kenyataan, serta merta dia menjadi seorang nabi, karena tidak ada lagi nabi setelah nabi Muhammad ﷺ. Namun, maksudnya adalah mimpi yang benar tersebut adalah salah satu ilmu yang Allah berikan kepada para nabi, dan juga menjadi kabar gembira bagi orang yang beriman. (Lihat Ma’alim Sunan, 4/139).

Baca Juga:  Makna dan Macam Perkara Ghaib

Rasulullah ﷺ bersabda,

إن الرسالة والنبوة قد انقطعت فلا رسول بعدي ولا نبي. قال: فشق ذلك على الناس فقال: «لكن المبشرات». قالوا: يا رسول الله وما المبشرات؟ قال: «رؤيا المسلم، وهي جزء من أجزاء النبوة»

“Sesungguhnya risalah kenabian telah terputus, tidak ada lagi nabi dan rasul sepeninggalku”. Maka para sahabat pun merasa berat karena hal tersebut. Rasulullah ﷺ pun bersabda: “Tetapi masih ada mubasyirat (kabar-kabar gembira)”. Para sahabat bertanya: ya rasulullah berupa apa mubasyirat tersebut?. Rasulullah ﷺ menjawab: “mimpi seorang muslim, dan itu merupakan salah satu tanda kenabian” (HR. Tirmidzi, 2272).

Adab Ketika Bermimpi

Rasulullah ﷺ telah mengajarkan umat beliau sebuah sikap ketika seorang muslim mengalami mimpi baik begitu pula mimpi buruk. Rasulullah ﷺ bersabda,

إذا رَأى أحَدُكُمْ رُؤْيا يُحِبُّها، فَإنَّما هِيَ مِنَ اللَّهِ، فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ عَلَيْها ولْيُحَدِّثْ بِها، وإذا رَأى غَيْرَ ذَلِكَ مِمّا يَكْرَهُ، فَإنَّما هِيَ مِنَ الشَّيْطانِ، فَلْيَسْتَعِذْ مِن شَرِّها، ولاَ يَذْكُرْها لِأحَدٍ، فَإنَّها لاَ تَضُرُّهُ

“Apabila salah satu dari kalian bermimpi baik, maka itu dari Allah. Hendaknya dia memuji Allah dan silahkan ceritakan mimpi tersebut kepada orang lain. Namun, jika dia bermimpi buruk, maka itu datangnya dari setan, hendaklah dia berlindung kepada Allah dari keburukannya (ta’awwudz), dan jangan dia ceritakan kepada orang lain, karena mimpi itu tidak akan membahayakannya.” (HR. Bukhari, 6985).

Dalam hadits yang lain Rasulullah ﷺ juga bersabda,

الرُّؤْيا الصّالِحَةُ مِنَ اللهِ، والرُّؤْيا السَّوْءُ مِنَ الشَّيْطانِ، فَمَن رَأى رُؤْيا فَكَرِهَ مِنها شَيْئًا فَلْيَنْفُثْ عَنْ يَسارِهِ، ولْيَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطانِ، لا تَضُرُّهُ ولا يُخْبِرْ بِها أحَدًا، فَإنْ رَأى رُؤْيا حَسَنَةً، فَلْيُبْشِرْ ولا يُخْبِرْ إلّا مَن يُحِبُّ

“Mimpi yang baik datangnya dari Allah ﷻ, sedangkan mimpi buruk datangnya dari setan. Maka siapa yang bermimpi buruk hendaklah dia meniup (dengan sedikit ludah) ke sebelah kirinya sembari berta’wwudz (berlindung) kepada Allah dari gangguan setan, mimpi itu tidak akan memudharatkannya, dan jangan dia ceritakan kepada orang lain. Dan jika dia bermimpi baik, maka hendaklah dia bergembira, dan menceritakan kepada orang yang suka dengan mimpinya.” (HR. Muslim, 2261).

Menyikapi Mimpi Baik dan Buruk

Jadi, ada dua kondisi yang berbeda sikapnya berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ tadi:

Baca Juga:  Di Balik Kisah Rasul Bersama Wanita Mesir

1.Mimpi baik, maka sikap kita adalah memuji Allah ﷻ dan silahkan menceritakannya kepada orang lain. Namun, hendaklah kita menceritakan kepada orang yang juga akan senang dengan mimpi itu, karena jika tidak, takut akan menimbulkan hasad di hati orang tersebut.

2.Mimpi buruk. Sikap kita adalah meniup dengan bersamaan sedikit air liur dan berlindung kepada Allah, lalu tidak menceritakannya kepada orang lain.

Bolehkah Mencari Tafsiran Mimpi?

Para ulama menjelaskan bahwa hukum menafsirkan mimpi pada asalnya boleh. Dan tafsir mimpi ini sudah ada dari dahulu. Nabi Yusuf pernah menafsirkan mimpi dua orang yang bersama dengannya di penjara (lihat surat Yusuf ayat 36 – 49). Begitu pula dahulu ada di antara ulama salaf yang terkenal bisa menafsirkan mimpi; seperti Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu dari kalangan sahabat dan Muhammad bin Sirin dari kalangan tabi’in.

Abdullah bin Abbas pernah meriwayatkan bahwasanya seorang laki-laki pernah mendatangi Nabi ﷻ dan menceritakan mimpinya kepada beliau ﷺ. Abu Bakr pun meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk menafsirkan mimpi tersebut, dan beliau ﷺ pun mengizinkannya. Setelah Abu Bakr menafsirkan mimpi tersebut beliau berkata,

“ya Rasulullah, apakah tafsiranku benar atau salah?”

Nabi ﷺ pun bersabda, “sebagian benar dan sebagian lagi salah.” (HR. Bukhari, 7046).

Syarat Menafsirkan Mimpi 

Namun, para ulama memberikan syarat-syarat dalam menafsirkan mimpi:

1.Tidak menyibukkan diri dan menghabiskan waktu untuk mencari-cari tafsir mimpi.

2.Penafsir mimpi haruslah orang yang bertakwa kepada Allah ﷻ dan benar-benar mengilmui masalah ini. Jangan sampai dia menafsirkan mimpi seseorang tanpa ilmu.

3.Penafsir mimpi hendaklah menafsirkan mimpi yang baik dan diam tatkala mendapatkan mimpi yang buruk.

(Faedah dari : https://islamqa.info/ar/answers/117665 فتنة-الناس-بالمنامات-والروى-وهل-تقع-الرويا-عند-اول-تعبير-لها).

Imam Malik berkata,

لا يَعْبُرُ الرُّؤْيا إلّا مَن يُحْسِنُها فَإنْ رَأى خَيْرًا أخْبَرَ بِهِ وإنْ رَأى مَكْرُوهًا فَلْيَقُلْ خَيْرًا أوْ لِيَصْمُتْ

“Seseorang tidak boleh menafsirkan mimpi kecuali dia mengilmuinya. Jika dia melihat tafsiran yang baik, dia sampaikan. Dan jika dia melihat tafsiran yang jelek maka hendakalha dia berkata yang baik atau diam”. (Lihat Attamhid: 1/288).

‘Ali bin Ahmad Al-‘adawy –salah satu ulama malikiyyah- berkata,

فلا يجوز له تعبيرها بمجرد النظر في كتاب التفسير كما يقع الآن فهو حرام لأنها تختلف باختلاف الأشخاص والأحوال والأزمان وأوصاف الرائين، ولذلك سأل رجل ابن سيرين بأنه رأى نفسه أذن في النوم فقال له: تسرق وتقطع يدك وسأله آخر وقال له مثل هذا فقال له: تحج فوجد كل منهما ما فسره له به

“Tidak boleh menafsirkan mimpi dengan sebatas melihat kitab tafsir mimpi seperti yang banyak terjadi di zaman sekarang, karena tafsir mimpi itu bisa berbeda setiap orangnya, dipengaruhi dengan keadaan, zaman, dan sifat mimpi yang dilihat seseorang.

Oleh karenanya, kerika ada orang yang bertanya kepada ibnu Sirin tentang tafsir mimpi yang mana dimimpinya dia mengumandangkan adzan, maka ibnu Sirin menjawab : “engkau akan mencuri dan tanganmu dipotong”, dan ada orang lain yang bertanya tafsiran mimpi yang sama, maka beliau menjawab : “engkau akan bernagkat haji”. Dan terjadilah seperti yang ditafsirkan ibnu Sirin”. (Hasyiyah ‘Adawi ‘ala kifayatithalib, 2/505).

Baca Juga:  Bagaimana Tafsir Mimpi Tentang Kiamat Menurut Islam?

Mimpi Bukan Sumber Hukum Islam

Sebagian orang menjadikan mimpi sebagai dasar hukum untuk mengerjakan sebuah ibadah tertentu, seperti doa tertentu atau dzikir tertentu. Karena telah menjadi kesepakatan ulama bahwa sumber hukum di dalam islan adalah Al-Qur’an, sunnah dan ijma’.

Almunawi menceritakan bahwa Syaikhul Islam Zakariya Al-anshary pernah ditanya tentang seorang yang bermimpi bertemu Rasulullah ﷺ dan menyuruhnya untuk menyampaikan kepada umat perintah untuk berpuasa 3 hari, apakah puasa tersebut menjadi wajib. Beliau menjawab,

لا يجب على أحد الصوم ولا غيره من الأحكام بما ذكر ولا مندوب بل قد يكره أو يحرم لكن إن غلب على الظن صدق الرؤية فله العمل بما دلت عليه ما لم يكن فيه تغيير حكم شرعي ولا يثبت بها شيء من الأحكام لعدم ضبط الرؤية

“Tidak wajib bagi siapapun untuk mengerjakan puasa dan ibadah lainnya yang ada dalam mipi tersebut, tidak pula menjadi sunnah. Bahkan hukumnya bisa makruh atau haram. Namun, jika praduga kuat menunjukan kebenaran mimpi tersebut, maka orang yang bermimpi boleh mengamalkan apa yang dalam mimpinya, selama tidak mengubah hukum syar’i yang sudah ada. Dan mimpi tidak bisa menetapkan hukum dalam agama karena mimpi tidak bisa diketahui kebenarannya.” (Faidhul Qadir, 6/132).

Wallahu a’lam.


Disusun oleh :

Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله

Senin, 18 Syawwal 1442 H / 31 Mei 2021 M

Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى

Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى klik disini