Penjelasan Ringkas Hukum Foto dan Selfie

Penjelasan Ringkas Hukum Foto dan Selfie

Penjelasan Ringkas Hukum Foto dan Selfie

Pertanyaan :

بسم اللّه الرحمن الر حيم

السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

Dalam islam apakah sama hukum foto / memfoto makhluk bernyawa dengan hukum menggambar makhluk bernyawa?
karena di masa sekarang ini marak dengan foto selfie

Jazākallāhu khayran

Tanya Jawab AISHAH – akademi shalihah
(Disampaikan Oleh Fulanah – SahabatAISHAH)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

alhamdulillāh wa shalātu wa salāmu ‘alā rasūlillāh.

Tentang Hukum Foto & Selfie

Terjadi silang pendapat di kalangan para ulama dalam permasalahan ini (hukum foto dan selfie), akan tetapi ana condong kepada apa yang difatwakan oleh Syaikh ‘Utsaimin, beliau berkata:

وذكرت في هذه المقابلة أني لا أرى أن التصوير “الفوتوغرافي” الفوري، الذي تخرج فيه الصورة فوراً دون تحميض داخل في التصوير الذي نهى عنه الرسول صلى الله عليه وسلم، ولعن فاعله

ولكن ينبغي أن يقال: ما الغرض من هذا العمل؟
“إذا كان الغرض شيئاً مباحاً صار هذا العمل مباحاً بإباحة الغرض المقصود منه، وإذا كان الغرض غير مباح صار هذا العمل حراماً لا لأنه من التصوير، ولكن لأنه قصد به شيء حرام”

“Dan aku telah menyampaikan pada pertemuan tersebut bahwa aku tidak memandang gambar hasil dari foto, yang langsung muncul hasilnya, tanpa dicetak, masuk ke dalam menggambar yang dilarang oleh rasulullah, dan pelakunya dilaknat.

Tapi tetap harus diperhatikan : apa tujuan dari perbuatan tersebut?
Apabila tujuannya mubah, maka hukum memfoto pun halal, namun apabila tujuannya untuk sesuatu yang haram, maka hukum memfotopun jadi haram bukan karena fotografinya melainkan gara – gara tujuannya.”
(Lihat Majmu’ fatawa syaikh ‘Utsaimin: 2/271 – 272).

Termasuk dalam tujuan yang haram berselfie ria, lalu dia pajang di media sosial atau media lainnya, sehingga dilihat oleh laki – laki yang bukan mahramnya.

Sebaiknya Berhati-hati

Dan kendati syaikh Utsaimin membolehkan secara asalnya, berhati – hati dalam masalah ini dan tidak bermudah – mudahan itu lebih baik dan utama, sebagaimana dikatakan:

الخروج من الخلاف مستحب

“Keluar dari perselisihan ulama itu dianjurkan”

 

Wallahu a’lam,
Wabillahit taufiq.

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
Jum’at, 15 Dzulhijjah 1440 H / 16 Agustus 2019 M



Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS