Mengapa Agama Hanif Dinisbatkan Khusus Kepada Nabi Ibrahim?

Pertanyaan: Assalamu’alaikum, Ustaz. Saya sering membaca dalam ayat Al-Qur’an maupun kitab para ulama bahwa agama yang benar disebut dengan Millah Ibrahim (Agama Ibrahim) yang bersifat Hanif. Pertanyaan saya, bukankah semua Nabi dan Rasul, mulai dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad ﷺ, membawa ajaran yang sama yaitu Tauhid? Mengapa penyebutan “Hanif” dan “Millah Ibrahim” ini seolah dikhususkan kepada Nabi Ibrahim? Mohon penjelasannya.
Jawaban: Wa’alaikumussalam wa rahmatullah.
Pertanyaan ini sangat bagus. Memang benar bahwa seluruh Nabi membawa ajaran yang satu, yaitu Al-Islam (Tauhid). Sebahaimana dijelaskan dalam firman Allah ta’ala:
إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ
“Sungguh, (agama) tauhid inilah agama kamu, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 92)
Sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ:
نَحْنُ مَعَاشِرَ الْأَنْبِيَاءِ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ، دِينُهُمْ وَاحِدٌ وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى
“Kami para nabi adalah saudara seayah, agama kami satu (yaitu Tauhid), namun ibu-ibu kami (syariat-syariat kami) berbeda-beda.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ayat dan hadis ini menegaskan bahwa pondasi agama para Nabi adalah satu, yaitu mengesakan Allah (Tauhid). Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala secara khusus menisbatkan agama ini kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Alasannya dijelaskan oleh para ulama dalam kitab-kitab akidah, di antaranya dalam Syarah Thalathat al-Usul oleh Syaikh Sholih Al-’Ushoimi -hafidzohullah- yang kami paparkan di bawah ini.
Apa itu Hanifiyyah?
Secara bahasa, Hanif berasal dari kata al-mail (condong/miring). Maksudnya adalah hati yang senantiasa condong kepada Allah dengan membawa Tauhid, dan menjauh (miring menjauhi) segala bentuk kesyirikan.
Inilah esensi Millah Ibrahim yang ditegaskan Allah dalam banyak ayat, salah satunya:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus (hanif) kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu…” (QS. Ar-Rum: 30)
Syaikh Shalih al-Ushaimi -hafidzohullah- menjelaskan bahwa Hanifiyyah dalam syariat memiliki dua sisi:
- Sisi Umum: Yaitu Islam secara keseluruhan.
- Sisi Khusus: Yaitu sikap menghadap penuh kepada Allah dengan Tauhid, dan sikap berlepas diri (bara’ah) dari segala bentuk kesyirikan.
Mengapa Dinisbatkan Khusus kepada Nabi Ibrahim?
Meskipun seluruh Nabi membawa tauhid yang sama, penyebutan Millah Ibrahim secara spesifik dalam Al-Qur’an dan sunnah didasari oleh dua alasan utama:
Pertama: Pengakuan dan Pengetahuan Umat Objek Dakwah Nabi kepada Nabi Ibrahim
Para penyeru agama di zaman Nabi Muhammad ﷺ, baik dari kalangan ahli kitab maupun musyrikin Arab, sangat mengenal Nabi Ibrahim. Mereka mengklaim diri sebagai keturunan Ibrahim dan pengikut ajarannya. Oleh karena itu, Allah menisbatkan agama ini kepada Ibrahim agar menjadi standar kebenaran bagi mereka. Jika mereka mengaku mengikuti Ibrahim, maka ajaran mereka harus murni dari syirik.
Allah Ta’ala berfirman:
وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ تَهْتَدُوا ۗ قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Dan mereka berkata: ‘Jadilah kamu penganut Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.’ Katakanlah: ‘Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus (hanif), dan ia bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik’.” (QS. Al-Baqarah: 135)
Kedua: Ibrahim adalah Imam bagi yang Datang Sesudahnya
Allah menjadikan Nabi Ibrahim sebagai imam (teladan) bagi orang-orang setelahnya. Allah Ta’ala berfirman:
وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia’.” (QS. Al-Baqarah: 124)
Sebagaimana disebutkan dalam keterangan ulama, Allah tidak menjadikan nabi-nabi sebelum Ibrahim sebagai “imam” dalam penamaan agama dengan cara yang sama. Ibrahim lah yang menempati kedudukan istimewa dalam mengokohkan fondasi tauhid dan berlepas diri dari kesyirikan, yang kemudian diikuti oleh para nabi setelahnya, termasuk Nabi kita Muhammad ﷺ.
Hakikat Beragama dengan Millah Ibrahim
Meneladani Millah Ibrahim bukan sekadar klaim nasab atau sejarah. Syarat mutlak mengikuti Millah Ibrahim yang Hanif adalah:
- Tauhidullah: Mengesakan Allah dalam ibadah.
- Bara’ah (Berlepas Diri): Menjauhkan diri dan hati dari sesembahan selain Allah.
Sebagaimana Allah berfirman,
وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ تَهْتَدُوا ۗ قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Dan mereka berkata: ‘Jadilah kamu penganut Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.’ Katakanlah: ‘Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus (hanif), dan ia bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik’.” (QS. Al-Baqarah: 135)
Kesimpulan
Penisbatan agama Hanif kepada Nabi Ibrahim adalah penegasan bahwa tauhid bukan sekadar teori, melainkan sikap nyata hati yang condong kepada Allah dan tegas menolak kesyirikan. Menjadi pengikut Ibrahim berarti meneladani kemurniannya dalam Tauhid, bukan sekadar menjadi pengagumnya secara formalitas.
Semoga Allah senantiasa membimbing hati kita untuk tetap berada di atas Millah Ibrahim yang Hanif hingga akhir hayat.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Ditulis oleh: Ahmad Anshori, Lc., M.Pd.
Referensi: Syarah Thalathat al-Usul, Syaikh Shalih bin Abdullah bin Hamad al-Ushaimi.