page hit counter

Larangan Mendahului Ramadan Dengan Berpuasa

Larangan Mendahului Ramadan Dengan Berpuasa

LARANGAN MENDAHULUI RAMADAN DENGAN BERPUASA

Puasa secara bahasa maknanya menahan. Adapun secara istilah, maknanya adalah menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa, seperti makan, minum, dan jima’ sejak fajar terbit sampai matahari tenggelam dengan disertai niat.

Puasa disyariatkan di tahun kedua hijriah. Puasa memiliki tiga tahapan, pertama puasa Asyura’, kedua puasa Ramadhan, boleh puasa atau bayar fidyah, ketiga puasa ramadan diwajibkan kepada semua kaum muslimin. Puasa di wajibkan kepada setiap mulim yang baligh, berakal, mampu (tidak sakit), dan muqim (tidak dalam safar).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلا يَوْمَيْنِ إِلا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ

“Jangan mendahului Ramadan dengan berpuasa sehari atau dua hari (sebelumnya). Kecuali seseorang yang terbiasa berpuasa, maka (tidak mengapa) berpuasalah.” (HR. Al-Bukhari no. 1914 dan Muslim no. 1082)

Faedah hadits

Terdapat beberapa faedah dari hadits di atas, diantaranya yang akan disebutkan sebagai berikut:

1.) Adanya larangan mendahului puasa Ramadan dengan puasa sehari atau dua hari sebelumnya.

2.)Para ulama berbeda pendapat tentang hukumnya. Sebagian ulama ada yang menghukumi haram berdasarkan dhahir hadits yang bermakna larangan, karena asal dari sebuah larangan menunjukkan keharaman. Adapun sebagian ulama lain ada yang menghukumi makruh berdasarkan istitsnaa’ (pengecualian) dalam hadits tersebut. (Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram, II/500-501). Maksudnya, istitsnaa’ pada hadits di atas ditujukan kepada orang yang biasa puasa sunnah sehingga seandainya larangan tersebut bermakna haram, maka tidak akan ada pengecualian. Oleh karena itu, larangan di sini bermakna makruh.

At-Tirmidzi rahimahullah berkata:

وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ كَرِهُوا أَنْ يَتَعَجَّلَ الرَّجُلُ بِصِيَامٍ قَبْلَ دُخُولِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِمَعْنَى رَمَضَانَ، وَإِنْ كَانَ رَجُلٌ يَصُومُ صَوْمًا فَوَافَقَ صِيَامُهُ ذَلِكَ فَلَا بَأْسَ بِهِ عِنْدَهُمْ

“Para ulama mengamalkan hadits ini, dan mereka memakruhkan orang yang mempercepat atau mendahulukan puasa sebelum masuknya bulan Ramadan karena makna Ramadan. Namun apabila seseorang biasa berpuasa lalu puasanya itu bertepatan dengan hari tersebut, maka tidak mengapa menurut mereka.” (Subulus Salam, hlm. 627)

3.)Diantara hikmah larangan tersebut adalah untuk membedakan antara ibadah fardlu dengan ibadah sunnah, serta untuk mempersiapkan diri menghadapi Ramadhaan sehingga puasa di bulan tersebut menjadi syi’ar tersendiri. (Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram, II/500-501)

4.) Hikmah lain dari larangan puasa sebelum Ramadan, karena masuk Ramadan ditandai dengan melihat hilal. Sehingga mendahului satu hari atau dua hari sebelumnya menyelisihi dalil. (Subulus Salam, hlm. 627)

5.) Bantahan terhadap sekte Syaih Rafidhah yang memulai puasa Ramadan dengan puasa sehari atau duahari sebelum Ramadan.(Sumber: https://saaid.net/Doat/assuhaim/omdah/171.htm)

6.) Diperbolehkan berpuasa sunnah bagi orang yang terbiasa puasa meskipun kebetulan bertepatan dengan sehari atau dua hari sebelum Ramadan, seperti puasa dawud, senin-kamis, dan puasa lainnya. Hal ini merupakan ijmak ulama.

7.) Adapun orang yang berpuasa wajib seperti puasa qadha dan puasa nadzar, maka lebih utama untuk diperbolehkan berpuasa meskipun bertepatan sebelum Ramadan.

8.) Banyak ulama Syafi’iyyah berpendapat bahwa larangan berpuasa tersebut dimulai dari tanggal 16 Sya’ban berdasarkan hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ النِّصْفُ مِنْ شَعْبَانَ فَلَا صَوْمَ حَتَّى يَجِيءَ رَمَضَانُ

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Apabila tiba pertengahan bulan Sya’ban, janganlah berpuasa hingga tiba bulan Ramadan.” (HR. Abu Dawud no. 2337, At-Tirmidzi no. 738, dan lainnya. Imam Al-Albani menilai shahih hadits ini dalam kitabnya Shahih Sunan At-Tirmidzi, 1/392.)

Sebagian ulama ada yang mendha’ifkan hadits di atas dan sebagian yang lain menshahihkannya. Pendapat yang menshahihkannya menurut kami yang lebih kuat, wallahu a’lam.

 

Ditulis Oleh:
Ustadz Abu Rufaydah, Lc., MA. حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)

 

 



Ustadz Abu Rufaydah, Lc., MA. حفظه الله
Beliau adalah Pengasuh Yayasan Ibnu Unib Cianjur dan website cianjurkotasantri.com
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abu Rufaydah, Lc., MA.حفظه الله  
klik disini

Salurkan donasi anda untuk perkembangan dakwah di Cianjur
BANK BNI Syari’ah
No. rek. 05.94.24.45.86
|a.n Yayasan Ibnu Unib
Konfirmasi ke 0859 38 50000 4

CATEGORIES
Share This

COMMENTS