Jidat Wajib Menyentuh Tempat Sujud ?

Jidat Wajib Menyentuh Tempat Sujud ?

APAKAH JIDAT HARUS MENYENTUH TEMPAT SUJUD TANPA TERHALANG OLEH JILBAB ATAU MUKENA?

Pertanyaan

بسم اللّه الرحمن الر حيم
السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, ketika sujud, apakah jidat harus menyentuh tempat sujud, tidak boleh terhalang oleh jilbab/ mukena? mohon bantuan jawabannya…

(Sahabat BiAS T06 G-52)

جزاك اللّه خيرا

Jawaban

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Tidak mengapa terhalang jilbab/mukena atau peci atau surban atau yang lainnya, yang penting jidat menyentuh tempat sujud. Justru pendapat yang menyatakan jidat harus menyentuh tanah tanpa boleh ada penghalang adalah pendapatnya orang-orang syiah.

Mereka mewajibkan untuk sujud di atas tanah, tidak boleh ada penghalang berupa karpet, sajadah, peci, jilbab dll. Lebih utama lagi tanah yang terambil dari Karbala tempat dimana Husain radhiyallahu ‘anhu wafat, ini ajaran syiah dan terekam dalam kitab-kitab rujukan syiah, seperti perkataan Ja’far Ash-Shadiq (versi syiah) :

لا تسجد إلاّ على الارض أو ما انبتت الارض إلاّ القطن والكتّان

“Janganlah kalian sujud kecuali di atas tanah, atau tikar yang terbuat dari tanaman kecuali kapas dan biji-bijian (yang dimakan).” (Al-Kaafi : 3/330).

Al-Kaafi ini di sisi orang syiah seperti Shahih Bukhari di sisi ahlis sunnah. Jadi mewajibkan sujud diatas tanah dengan tanpa alas adalah salah satu dari sekian banyak ajaran syiah.

Adapun ahlis sunnah mereka membolehkan sujud di atas sajadah dan yang lainnya berupa alas, berdasarkan banyak riwayat shahih dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam diantaranya :

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال : ” فَقُمْتُ إِلَى حَصِيرٍ لَنَا قَدِ اسْوَدَّ مِنْ طُولِ مَا لُبِسَ ، فَنَضَحْتُهُ بِمَاءٍ ، فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَصَفَفْتُ وَاليَتِيمَ وَرَاءَهُ، وَالعَجُوزُ مِنْ وَرَائِنَا ، فَصَلَّى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ انْصَرَفَ ” رواه البخاري (380) ، ومسلم (658) .

“Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata : Aku berdiri di atas tikar daun kurma milik kami yang sudah menghitam saking lusuhnya. Aku lantas memercikkan air. Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berdiri, aku membentuk shaf dan si yatim di belakang beliau, dan sang tua renta di belakang kami, lantas Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam shalat mengimami kami dua rakaat kemudian beliau pulang.” (HR Bukhari 380, Muslim : 658).

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا ، فَرُبَّمَا تَحْضُرُ الصَّلَاةُ وَهُوَ فِي بَيْتِنَا ، فَيَأْمُرُ بِالْبِسَاطِ الَّذِي تَحْتَهُ فَيُكْنَسُ ، ثُمَّ يُنْضَحُ

“Adalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam manusia berakhlak mulia, kadang ketika shalat beliau ada di rumah kami, beliau memerintahkan untuk jadikan karpet di bawah beliau sebagai tempat shalat disapu kemudian diperciki.” (HR Muslim : 659).

Dalam riwayat ini disebutkan dengan terang beliau bersama Anas bin Malik dan ibunya radhiyallahu a’nhum shalat di atas tikar dll.

Demikian pula para ulama memberikan fatwa akan bolehnya sujud di atas sajadah, karpet, kopiyah, jilbab atau yang lainnya

Wallahu a’lam

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله

Tanya Jawab
Grup WA Bimbingan Islam T06
Rabu, 02 Shafar 1438 H / 02 November 2016 M

CATEGORIES
Share This

COMMENTS