KonsultasiMuamalah

Hukum Transaksi Melalui Proses Lelang

Hukum Transaksi Melalui Proses Lelang

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Hukum Transaksi Melalui Proses Lelang, selamat membaca.


Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Afwan bertanya ustadz. Tentang transaksi melalui proses lelang. Bagaimanakah hukumnya proses lelang yang melibatkan banyak penawaran terhadap 1 jenis barang yang ditawarkan?

جزاك اللهُ خيراً

 

(Ditanyakan Oleh Santri Mahad Bimbingan Islam)

 


Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Lelang atau dalam istilah Bahasa Arab juga dikenal dengan sebutan (بَيْعُ الْمُزَايَدَةِ) yang artinya saling menambah, yaitu seorang penjual atau pedagang akan menyerukan tawaran barang dagangannya kepada para pembeli, lantas mereka akan saling menawar barang tersebut dengan harga yang tinggi, sehingga pembeli yang menawar harga paling tinggi akan mendapatkan barang tersebut.

Dalam pandagan syariat islam, lelang termasuk transaksi jual beli yang dihalalkan.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu disebutkan,

أَنَّ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُهُ فَقَالَ أَمَا فِي بَيْتِكَ شَيْءٌ قَالَ بَلَى حِلْسٌ نَلْبَسُ بَعْضَهُ وَنَبْسُطُ بَعْضَهُ وَقَعْبٌ نَشْرَبُ فِيهِ مِنْ الْمَاءِ قَالَ ائْتِنِي بِهِمَا قَالَ فَأَتَاهُ بِهِمَا فَأَخَذَهُمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ وَقَالَ مَنْ يَشْتَرِي هَذَيْنِ قَالَ رَجُلٌ أَنَا آخُذُهُمَا بِدِرْهَمٍ قَالَ مَنْ يَزِيدُ عَلَى دِرْهَمٍ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا قَالَ رَجُلٌ أَنَا آخُذُهُمَا بِدِرْهَمَيْنِ فَأَعْطَاهُمَا إِيَّاهُ وَأَخَذَ الدِّرْهَمَيْنِ وَأَعْطَاهُمَا الْأَنْصَارِيَّ

“Bahwasanya pernah ada seseorang dari kalangan Anshar datang kepada Nabi ﷺ mengemis, lantas beliau bertanya, ‘Apakah di rumahmu terdapat sesuatu?’ Ia menjawab, ‘Ya, ada alas pelana yang sebagian kami pakai dan sebagiannya kami hamparkan, dan ada juga gelas besar yang kami gunakan untuk minum air.’ Kemudian beliau bersabda kepadanya, ‘Bawalah keduanya kepadaku!’ Lantas kemudian ia membawanya kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau mengambilnya seraya bersabda,

‘Siapakah yang mau membeli kedua barang ini?’ Ada salah seorang menyahut, ‘Aku akan membelinya dengan satu dirham.’ Beliau menimpali, ‘Siapa yang ingin melebihkan dari satu dirham?’ Beliau mengutarakannya dua atau tiga kali. Lantas ada seseorang lagi yang menyahut, ‘Aku akan membelinya dengan dua dirham.’ Sehingga beliau memberikan kedua barang itu kepada orang tersebut, dan mengambil uang dua dirham darinya, lalu memberikannya kepada orang Anshar tersebut.” (HR. Abu Dawud)

Meski hadis ini merupakan hadis dhaif, namun para ulama menerapkan hukum lelang dalam islam.

Ada beberapa ketentuan agar lelang sesuai dengan panduan syariat islam, yaitu;

1. Tidak dimaksudkan untuk mencelakai satu sama lain

2. Seorang pembeli yang melebihkan harga memang bermaksud untuk membelinya, sebab seseorang yang sengaja membuat harga barang naik padahal ia tidak bermaksud membeli dan ia mendorong yang lain untuk membelinya, atau ia memuji barang yang dijual sehingga orang lain membeli padahal tidak sesuai kenyataan, maka ini dinamakan jual beli Najasy yang hukumnya haram, sebagaimana larangan Nabi ﷺ. Allah ﷻ berfirman,

وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ 

“Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

3. Selama belum terjadi kesepakatan antara pedagang dan pembeli, maka penawaran harga pun masih berlaku.

4. Bilamana lelang telah ditutup, maka tidak ada lagi yang berhak tawar menawar terhadap barang tersebut. Dalam islam, kita dilarang menawar barang yang sudah ditawar orang lain, sebagaimana sabda Nabi ﷺ,

لاَ يَسُمِ الْمُسْلِمُ عَلَى سَوْمِ أَخِيهِ

“Janganlah seorang Muslim melakukan penawaran di atas penawaran saudaranya.” (HR. Muslim)

Hal ini menunjukkan bahwasanya ketika sudah terjadi kesepakatan transaksi jual beli antara pedangan dengan pembeli, maka dilarang ada penawaran lain. Sementara pada kasus lelang, tidak termasuk dalam larangan menawar barang yang sedang ditawar orang lain. Karena satu sama lain pasti saling memahami bahwa penawaran masih terbuka selama belum ditutup dengan kesepakatan antara kedua belah pihak.

Wallahu Ta’ala A’lam.

 

Dijawab dengan ringkas oleh: 
Ustadz Ahmad Yuhanna, Lc. حافظه الله

Back to top button