Perayaan Tahun Baru Hijriah Kebiasaan Syi’ah?

Perayaan Tahun Baru Hijriah Kebiasaan Syi’ah?

Pertanyaan:

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Benarkah perayaan tahun baru hijriyah adalah kebiasaan syi’ah karena mereka yang memulainya? Bukankah Tahun Hijriyah dimulai oleh Khalifah Umar bin Khathab, sedangkan orang syi’ah sangat benci kepada Umar ra.

جَزَاك اللهُ خَيْرًا

(Dari Jamal Anggota Grup WA Bimbingan Islam N05 G73)

Jawab:

Logikanya memang kecil sekali kemungkinannya jika hal tersebut adalah kebiasaan syi’ah, sebagaimana yang antum sebutkan. Namun terlepas dari siapakah yang pertama kali memulainya, merayakan tahun baru hijriyah termasuk bid’ah dan sekaligus mengandung unsur tiru-tiru orang kafir.

Kita telah diberi 6 hari dalam setahun yang menjadi hari raya kita, yakni hari raya idul fitri dan 5 hari berturut-turut di bulan dzul hijjah,yaitu mulai tanggal 9-13.

Dasarnya ialah hadits riwayat Abu Dawud, Nasa’i dan Ahmad dengan sanad yang shahih:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَدِمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَقَالَ: ” إِنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ الْفِطْرِ، وَيَوْمَ النَّحْرِ “

Dari Anas bin Malik, katanya: Setibanya Rasulullah di Madinah, warga Madinah punya kebiasaan bermain-main pada dua hari raya mereka di masa jahiliyyah. Maka Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengganti kedua hari raya tersebut dengan hari lain yang lebih baik bagi kalian, yaitu Hari Idul Fitri dan Hari Nahr (idul Adha)”.

Demikian pula dalam hadits riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, Al Hakim dan lain-lain yang dinyatakan shahih oleh At Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah dan lain-lain, sebagai berikut:

عن عقبة بن عامر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم عرفة ويوم النحر وأيام التشريق عيدنا أهل الإسلام وهي أيام أكل وشرب

Dari ‘Uqbah bin Amir, katanya: Rasulullah bersabda: Hari Arafah (tggl 9), Hari Nahr (idul Adha/tggl 10), dan hari-hari tasyrik (tggl 11, 12, 13) adalah hari raya kita selaku umat islam, dan kesemuanya adalah hari untuk makan dan minum.

Maksudnya, hari Arafah bagi jemaah haji adalah hari raya yang tidak dianjurkan untuk puasa, namun lebih dianjurkan untuk makan-minum. Adapun bagi selain jamaah haji, maka ia dianjurkan untuk puasa.

Nah, dari sini, cukuplah bagi kita ke-enam hari raya tersebut untuk menggantikan semua hari raya-hari raya yang telah ada sebelumnya maupun yang diada-adakan setelahnya.

Wallahu a’lam.

Konsultasi Bimbingan Islam

Dijawab oleh Ustadz Dr. Sufyan Baswedan Lc MA

CATEGORIES
Share This

COMMENTS