Hukum Menjual Buah Dengan Takaran Atau Timbangan
Hukum Menjual Buah Dengan Takaran Atau Timbangan
Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Hukum Menjual Buah Dengan Takaran Atau Timbangan, selamat membaca.
Pertanyaan:
بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Ustadz. Jadi saya masih agak bingung terkait jual beli ijon. Berarti di syariat, jual beli buah dengan takaran atau timbangan itu boleh atau tidak? dan maksudnya ‘tidak ada transaksi’ itu apa ya?
جزاك اللهُ خيراً
Jawaban:
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ
Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in
Jual beli dengan sistem ijon yang tanaman atau buahnya belum layak diambil, ada yang masih sangat kecil, ada yang masih berupa bunganya adalah dilarang dalam Islam. Kaidah menyatakan,
لا يجوز بيع الثمار حتى يبدو صلاحها
“Tidak boleh jual beli buah sampai nampak kelayakannya”. Keterangan: Ada banyak hadis yang mendasari kaidah ini, diantaranya, Pertama, hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – نَهَى عَنْ بَيْعِ الثِّمَارِ حَتَّى يَبْدُوَ صَلاَحُهَا ، نَهَى الْبَائِعَ وَالْمُبْتَاعَ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda melarang jual beli buah sampai nampak kelayakannya. Beliau melarang penjual dan pembeli”. (HR. Bukhari 2194, Abu Daud 3369 dan yang lainnya).
Kedua, hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,
أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ بَيْعِ ثَمَرِ النَّخْلِ حَتَّى تَزْهُوَ. فَقُلْنَا لأَنَسٍ مَا زَهْوُهَا قَالَ تَحْمَرُّ وَتَصْفَرُّ. أَرَأَيْتَكَ إِنْ مَنَعَ اللَّهُ الثَّمَرَةَ بِمَ تَسْتَحِلُّ مَالَ أَخِيكَ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli buah kurma sampai nampak kelayakannya. Perawi bertanya kepada Anas, “Apa yang dimaksud nampak kelayakannya?” jawab Anas: “Sampai memerah atau menguning.” Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bagaimana menurutmu jika Allah menghendaki tidak jadi berbuah. Dengan alasan apa dia boleh mengambil harta saudaranya?” (HR. Bukhari 2208 & Muslim 4060).
Ketiga, hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ بَيْعِ النَّخْلِ حَتَّى يَزْهُوَ وَعَنِ السُّنْبُلِ حَتَّى يَبْيَضَّ وَيَأْمَنَ الْعَاهَةَ نَهَى الْبَائِعَ وَالْمُشْتَرِى
“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli kurma sampai memerah atau menguning. Dan tidak boleh jual beli bulir gandum sampai memutih (terlihat isinya), dan aman dari gagal panen. Beliau melarang penjual dan pembeli.” (HR. Ahmad 4493, Muslim 3943, dan Abu Daud 3370).
Keempat, hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ بَيْعِ الْعِنَبِ حَتَّى يَسْوَدَّ وَعَنْ بَيْعِ الْحَبِّ حَتَّى يَشْتَدَّ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli anggur sampai menghitam, dan beliau melarang jual beli biji-bijian sampai benar-benar berisi.” (Ahmad 13613, Abu Daud 3373, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)
Dari beberapa hadis yang kita baca, kita menyimpulkan,
- Hadis mengenai larangan menjual buah dan hasil pertanian sebelum layak panen, bertujuan untuk menghalangi terjadinya sengketa antara penjual dan pembali. Beliau mengatakan, “Bagaimana menurutmu jika Allah menghendaki tidak jadi berbuah. Dengan alasan apa dia boleh mengambil harta saudaranya.”
- Alasan larangan itu adalah adanya gharar (ketidak jelasan) dalam transaksi. Bisa untung besar dan bisa rugi besar. Kembali kepada takdir yang sama sekali tidak diketahui manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Bagaimana menurutmu jika Allah menghendaki tidak jadi berbuah.” Sahabat Ibnu Umar mengatakan, “Beliau melarang penjual dan pembeli.” Batasan beliau ada dua; Dia sudah layak panen (sampai nampak kelayakannya). Aman dari gagal panen. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis ketiga dari Ibnu Umar di atas.
- Kelayakan jual buah dan tanaman itu bisa berbeda-beda.
- Rasul melarang penjual dan pembeli.” (HR. Ahmad 4493, Muslim 3943, dan Abu Daud 3370). Maksudanya adalah walaupun penjual dan pembeli saling rida, maka akad jual belinya tidak sah dan dianggap batal oleh syariat.
- Boleh memanen dan menjual apabila pada sebagian buah atau tenaman sudah ada kelayakan untuk di panen. Syaikhul Islam mengatakan,
وإذا بدا صلاح بعض شجرة جاز بيعها وبيع ذلك الجنس وهو رواية عن أحمد
“Jika telah nampak kelayakan di sebagian tanaman, maka boleh menjualnya dan menjual tanaman yang sejenisnya. Dan ini riwayat dari Imam Ahmad”. (al-Ikhtiyarat al-Fiqhiyah, hlm. 475).
Adapun untuk jual beli buah dengan takaran atau timbangan maka boleh selama jual belinya sesuai ketentuan syariat. Jika tidak maka batil jual belinya. Ungkapan “tidak ada transaksi” artinya tidak ada akad.
Wallahu Ta’ala A’lam.
Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul, S.Ag. حافظه الله