Ibadah

Hasil Dari Sumber Haram, Amalan Tidak Diterima?

Hasil Dari Sumber Haram, Amalan Tidak Diterima?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlak mulia berikut kami sajikan hasil dari sumber haram, amalan tidak diterima? Selamat membaca.


Pertanyaan:

Izin bertanya ustaz, jika memakan makanan yang sumbernya haram apakah amalan tidak diterima? Saya pernah mendengar bahwa ada seorang yang berdoa tetapi makannya haram minumannya haram dan doanya tidak diterima.

Apakah hal tersebut hanya berlaku di doa saja ustaz? Atau berlaku di semua amalan seperti salat, puasa, zikir, dsb? Syukran ustaz.


Jawaban:

Apa yang Anda sampaikan itu benar adanya, disebutkan dalam hadis berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا} وَقَالَ تَعَالَى {يَا أَيُّهَا الذِّيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik (thayyib), tidak menerima kecuali yang baik (thayyib). Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kaum mukminin seperti apa yang diperintahkan kepada para Rasul. Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shalih.’ (QS. Al-Mu’minun: 51).

Dan Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu.’ (QS. Al-Baqarah: 172).

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan seseorang yang lama bepergian; rambutnya kusut, berdebu, dan menengadahkan kedua tangannya ke langit, lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku.’ Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dikenyangkan dari yang haram, bagaimana mungkin doanya bisa terkabul.” (HR. Muslim)

Dari hadis di atas para ulama menjelaskan bahwa baiknya dan halalnya konsumsi seseorang menjadikan baiknya amalannya untuk diterima oleh Allah, sebagaimana buruknya/haramnya konsumsi seseorang bisa menjadikan amalannya ditolak oleh Allah ta’ala.

Ibnu Rajab al-Hanbali mengatakan:

من أعظم ما يحصل به طيبة الأعمال للمؤمن طيب مطعمه، وأن يكون من حلال، فبذلك يزكو عمله. وفي هذا الحديث إشارة إلى أنه لا يقبل العمل ولا يزكو إلا بأكل الحلال، وإن أكل الحرام يفسد العمل ويمنع قبوله

“Termasuk di antara perkara besar yang menjadi sebab baiknya amalan seorang mukmin adalah baiknya makanan yang ia konsumsi, dan diambil dari perkara yang halal, dengan hal itu amalannya menjadi bersih/tumbuh. Dan dalam hadis di atas terdapat petunjuk bahwa tidaklah amal itu diterima dan menjadi bersih/tumbuh melainkan pelakunya memakan yang halal, dan apabila ia memakan yang haram maka akan merusak amalannya dan menjadikannya terhalangi untuk diterima”.

Dalam penjelasan yang lain Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga menjelaskan:

أسباب عدم قبول الأعمال متنوعة، أعظمها وأخطرها: الشرك بالله وأنواع الكفر بالله فإنها تبطل الأعمال كلها، صاحبها حابط العمل.. ومنها: أكل الحرام، كونه يتعاطى الحرام، الكسب الحرام، من الربا أو السرقات أو النهب أو الخيانات

“Di antara sebab-sebab tidak diterimanya amal ada beragam, sebab paling besarnya adalah karena melakukan syirik ataupun bermacam kekufuran lainnya, kesemuanya menggugurkan amalan total, dan pelakunya rusak/gugur amalannya. Dan di antara sebab lain yang menjadikan tertolaknya amal adalah karena mengonsumsi hal yang haram, mengambil yang haram, berpenghasilan haram dari riba, mencuri, merampas atau khianat”.

Lihat: https://www.islamweb.net/

Dari keterangan di atas menunjukkan bahwa amalan yang tertolak bisa sifatnya lebih luas dan tidak terbatas pada amalan doa saja, tetapi bisa juga menjalar kepada amalan-amalan lain, bisa tidak diterima atau minimal merusak amal-amal yang sudah dikerjakan.

Kita berlindung dari perbuatan memakan harta haram, dan semoga Allah beri taufik pada semuanya.

Wallahu a’lam


Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Senin, 21 Dzulqo’dah 1443 H/ 20 Juni 2022 M


Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله klik di sini

Ustadz Setiawan Tugiyono, B.A., M.HI

Beliau adalah Alumni D2 Mahad Aly bin Abi Thalib Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Bahasa Arab 2010 - 2012 , S1 LIPIA Jakarta Syariah 2012 - 2017, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2018 - 2020 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah, Dauroh Masyayikh Ummul Quro Mekkah di PP Riyadush-shalihin Banten, Daurah Syaikh Ali Hasan Al-Halaby, Syaikh Musa Alu Nasr, Syaikh Ziyad, Dauroh-dauroh lain dengan beberapa masyayikh yaman dll | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Belajar bersama dengan kawan-kawan di kampuz jalanan Bantul
Back to top button