Canda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Canda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Canda adalah rayuan atau godaan yang dilakukan seseorang dengan maksud memasukan kebahagiaan kedalam hati seseorang yang dicandai agar menumbuhkan atau menambahkan rasa cinta dan kasih sayang.

Canda bisa kita ibaratkan seperti garam yang ada pada makanan. Jika makanan tidak dibumbui garam maka makanan tersebut akan terasa hambar dan lidah tidak bisa menikmatinya. Begitu juga sebaliknya, jika makanan itu terlalu banyak kadar garamnya maka makanan tersebut lebih tidak enak lagi untuk dinikmati sehingga lidahpun tidak bisa menerima dan menikmatinya. Seperti itulah kiranya yang terjadi pada sebuah canda.

Seorang muslim sudah sepantasnya menjadikan canda dalam dirinya pada posisi yang tepat dan proporsional. Yaitu tidak menjadikan setiap keadaan dan kesempatan senantiasa dipergunakan untuk bercanda dan tidak pula selalu terkesan keras dan kaku. Dan yang tidak kalah penting untuk diperhatikan dalam bercanda, hendaklah candaan itu tidak keluar kecuali kebenaran.

Imam Nawawi Rahimahullah berkata :

“Berkata para ulama : canda yang dilarang yaitu canda yang didalamnya ada unsur berlebih-lebihan dan menjadi kebiasaan karena canda yang seperti itu sesungguhnya akan melahirkan tawa yang dapat mengeraskan hati, melalaikan diri untuk berdzikir kepada Allah Ta’ala dan lalai dalam memikirkan kepentingan-kepentingan agama, menjadikan banyak waktu terbuang hanya untuk kerusakan, mewariskan hasad, dan menghilangkan kewibawaan. Canda yang terlepas dari perkara-perkara tersebut maka itu boleh-boleh saja, karena Rosulullah shalallahu alaihi wasallam juga pernah melakukannya.” (Kitab Al-Adzkar : 1/327)

Tergambar pada sebagian orang, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang yang kaku dan keras. Padahal kalau kalau kita perhatikan hadits-hadits yang shahih maka keadaan beliau adalah sebaliknya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang yang lembut dan penuh kasih sayang. Tidak jarang beliau menggoda dan mencandai para sahabat-sahabatnya sesuai dengan kebutuhan. Perlu dipahami Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah bercanda dengan suatu candaan atau perkataan kecuali itu adalah kebenaran. Suatu ketika Nabi Shallallahi ‘alaihi wasalam mencandai para sahabat-sahabatnya. Merekapun berkata kepada Nabi,

قالوا : يا رسول الله ! إنك تداعبنا ؟! قال : إني لا أقول إلا حقا

Para Sahabat berkata: “Ya Rasulullah sungguh engkau mencandai kami!” Rasulullah menjawab : “Sesungguhnya tidaklah aku berkata kecuali kebenaran.” (HR. Tirmidzi dalam Jami’nya no 1990)

Diantara Candaan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Kisah Pertama

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mencandai Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu. Beliau pernah memanggil Anas bin Malik dengan panggilan “pemilik dua telinga”.

عن أنس بن مالك أن النبي صلى الله عليه وسلم قال له : يا ذا الأذنين قال محمود : قال أبو أسامة : يعني يمازحه

Dari Anas bin Malik sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berkata kepadanya : “Wahai pemilik dua telinga.”

Perawi yang meriwayatkan hadist ini yaitu Abu Usamah menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ingin mencandai Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu dengan panggilan tersebut. (HR Tirmidzi dalam Jami’nya no 1992)

Panggilan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ini tidak menutup kemungkinan adalah bagian dari pujian atau sanjungan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu. Karena Anas bin Malik memiliki dua telinga yang selalu mendengar, taat, dan mengingat apa yang dikatakan kepadanya.

Anas bin Malik pada saat itu adalah pembantu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi keadaannya itu tidak menghalangi Nabi untuk mencandainya. Berbeda halnya dengan keadaan sebagian orang, mereka menutup diri untuk bercanda dengan pembantu mereka, disebabkan mereka memandang candaan tersebut akan mengurangi martabat dan derajat mereka. Tentu hal seperti ini sangatlah bertentangan dengan petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bertentangan dengan sifat tawadhu yang sepantasnya setiap muslim menghiasi diri dengannya.

Kisah Kedua

Kisah yang diriwayatkan Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata :

ليخالطنا حتى يقول لأخ لي صغير : با أبا عمير ! ما فعل النغير ؟

Sungguh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sering berkumpul dengan kami sehingga mengatakan kepada adik kecil saya: “Wahai Abu Umair, apakah gerangan yang sedang dikerjakan oleh burung kecil itu?” (HR Tirmidzi dalam Jami’nya no 1989 dan Muslim no 2150)

Dahulu Abu Umair memiliki seekor burung kecil dan suka bermain dengannya. Suatu ketika burung tersebut mati, maka Abu Umair pun sedih karena kehilangan burungnya. Melihat keadaan tersebut, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ingin menghiburnya dan menghilangkan kesedihannya dengan mencandai dan menggodanya dengan berkata kepadanya : “Wahai Abu Umair, apakah gerangan yang sedang dikerjakan oleh burung kecil itu?”

Lihatlah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak canggung mencandai seorang anak kecil. Padahal beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang pimpinan negara yang sibuk dalam segala hal. Tetapi beliau masih bisa menyempatkan diri untuk memberikan kebahagiaan kepada seorang anak kecil yang sedang bersedih.

Kisah Ketiga

Humor cerdas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam

عن أنس بن مالك أن رجلا استحمل رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : إني حاملك على ولد ناقة، فقال : يا رسول الله! ما أصنع بولد النافة؟  فقال صلى الله عليه وسلم : وهل تلد الإبل إلا النوق

Dikisahkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu suatu ketika seorang sahabat meminta kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam untuk memberikannya seekor unta untuk ditungganginya, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menjawab : “Sungguh aku akan memberimu tunggangan seekor anak unta.” (Sahabat tersebut memahami bahwa Rasulullah akan memberikannya seekor anak unta yang masih kecil yang tidak bisa ditunggangi). Sahabatpun berkata: “Wahai Rasulullah apa yang bisa aku perbuat dengan seekor anak unta?”

Rasulullah menjawab: “Bukankah semua unta (baik anak unta atau dewasa) itu terlahir dari seekor unta betina?” (maksud Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yaitu beliau akan memberikannya seekor unta dewasa yang siap untuk ditunggangi, tetapi Nabi ingin mencandainya dahulu dengan mengatakan unta tersebut adalah anak unta. Karena unta kecil atau dewasa adalah termasuk anak unta). (HR. Tirmidzi dalam Jami’nya no 1991)

Kisah Keempat

Canda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam terhadap seorang nenek.

عن الحسن قال : أتت عجوز إلى النبي صلى الله عليه وسلم، فقالت : يا رسول الله ! ادع الله أن يدخلني الجنة، فقال : يا أم فلان ! إن الجنة لا تدخلها عجوز، قال : فوليت تبكي، فقال : أخبروها أنها لا تدخلها وهي عجوز، إن الله تعالى يقول : تَعَالَى يَقُوْل : إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً ۝ فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا ۝ عُرُبًا أَتْرَابًا۝

Dari Al Hasan, beliau menceritakan : Seorang nenek tua pernah mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Nenek tua itu pun berkata : “Wahai Rasulullah, berdo’alah pada Allah agar Dia memasukkanku dalam surga.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Wahai Ummu Fulan, Surga tak mungkin dimasuki oleh nenek tua.” Nenek tua itu pun pergi sambil menangis. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pun berkata : “Kabarilah dia bahwa surga tidaklah dimasuki dia sedangkan dia dalam keadaan tua. Karena Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al Waqi’ah: 35-37). (HR. Tirmidzi dalam Asy Syamail Muhammadiyah no. 205)

Perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

إن الجنة لا تدخلها عجوز

Surga tidak dimasuki oleh nenek tua.

Maksudnya yaitu wanita akan dihidupkan kembali di hari kiamat kelak dalam keadaan berumur tiga puluh tiga tahun, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يدخل أهل الجنة الجنة جردا مردا مكحلين بني ثلاثين أو ثلاث و ثلاثين

“Akan masuk penghuni surga dalam keadaan tanpa berpakaian, belum berjenggot, serta bercelak mata. Umur mereka antara tiga puluh tahun atau tiga puluh tahun.” (HR Ahmad dalam musnad no 22106)

Penutup

Dari canda-candaan Nabi diatas menunjukan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang yang cerdas, sebab orang yang mampu bercanda dengan baik pada dasarnya memiliki kecerdasan yang baik juga.

Mudah-mudahan kita dijauhi dengan canda-candaan yang berlebihan, canda-candaan yang melalaikan dari berdzikir kepada Allah Ta’ala.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Ditulis Oleh
Ustadz Gigih Nugraha
(Kontributor Bimbinganislam.com)

(Sumber bacaan : Syarah Syamailun Nabi Shallallahu alaihi wasallam, Syaikh Abdurrozaq bin Abdil Muhsin albadr)

CATEGORIES
Share This

COMMENTS