Hukum akad nikah tanpa dihadiri calon pengantin perempuannya dimajlis akad nikah

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Ustadz ana ingin bertanya, bagaimana hukum akad nikah tanpa dihadiri calon pengantin perempuannya dimajlis akad nikah??

Kronologinya begini Ustadz, calon pengantin perempuannya ada di singapore, karena terikat kontrak kerja jadi tidak bisa pulang terlebih dahulu sampai selesai kontrak.

Untuk menghindari terjadinya khalwat lewat media elektronik dan menghalalkan komunikasi antara ikhwan dan akhwatnya, maka ada yang mengusulkan si ikhwan menikahi akhwatnya hanya lewat wali saja di indonesia tanpa si akhwat hadir namun si akhwat hanya melihat lewat video call. Apakah pernikahan semacam ini SAH???

Sebelumnya ana ucapkan Jazakallahu khairan untuk jawabannya.

(Dari Sari Di Singapura Anggota Grup WA Bimbingan Islam T05 G-72).

Jawaban :

وعليكم السلام ورحمة الله وبر كاته

Sah akad nikah tanpa kehadiran pengantin wanita asalkan terpenuhi syarat-syarat nikah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid pernah di tanya dengan pertanyaan serupa. Berikut redaksi pertanyaannya :

تقدم إلي شخص قبل سنوات ، وأعطيته إذنا مكتوبا بالنكاح ، وقد جرى النكاح بالوكالة ، ولم أكن حاضرة ، لكنه كان متواجدا ، مع شاهدين وإمام محلي .. الخ. وأهلي لا يعارضون هذا الزواج لكنهم لا يعلمون أنه جرى إتمام العقد . هل هذا النكاح جائز وصحيح ؟ .

“Datang seseorang kepadaku semenjak beberapa tahun silam. Dan aku memberikannya ijin untuk menikahi aku. Dan telah terjadi proses nikah dengan perwakilan yang tidak bisa aku hadiri. Akan tetapi ia (pengantin lelaki) ada dan ada pula dua orang saksi dan seterusnya. Keluarga ku tidak menentang pernikahan ini akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa akad nikah telah terjadi. Apakah pernikahan seperti ini sah ?

Beliau (Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid) menjawab :

الحمد لله

أولا :

لا يلزم حضورك عقد النكاح ، والمهم أن يثبت رضاك به ، ويكفي في ذلك الإذن المكتوب .

ثانيا :

المهم هو حضور وليك ، أو حضور وكيله ؛ لأن النكاح بدون ولي المرأة لا يصح ؛ لقوله صلى الله عليه وسلم : ( لا نكاح إلا بولي ) رواه أبو داود ( 2085 ) والترمذي (1101 ) وابن ماجه (1881) من حديث أبي موسى الأشعري ، وصححه الألباني في صحيح الترمذي.

وقوله صلى الله عليه وسلم : ( أيما امرأة نكحت بغير إذن وليها فنكاحها باطل ، فنكاحها باطل ، فنكاحها باطل ) رواه أحمد ( 24417) وأبو داود (2083) والترمذي (1102) وصححه الألباني في صحيح الجامع برقم 2709 .

وقولك : ” وأهلي لا يعارضون هذا الزواج لكنهم لا يعلمون أنه جرى إتمام العقد ” يفهم منه أن وليك لم يشهد عقد النكاح ، ولا حضره وكيل عنه ، فإن كان الأمر كذلك فإن العقد لا يصح ، وعليكما إعادة العقد في حضور الولي وشاهدين .

وهذا إذا كان لك ولي مسلم ، الأب أو الأخ أو غيره من الأولياء ، فإن لم يوجد ولي مسلم ، فوليك القاضي المسلم ، فإن لم يوجد فمدير المركز الإسلامي أو إمام المسجد .

وأنت لم تذكري شيئا عن ديانة أهلك .

وعلى هذا ، إن لم يكن أحد من أوليائك مسلماً فالصورة التي تم بها العقد صحيحة ، وإذا كان أحد من أوليائك مسلماً وجب إعادة العقد مرة أخرى في حضوره ، أو يوكل من يقوم بالعقد نيابة عنه .

والله أعلم .

“Segala puji bagi Allah

Yang pertama : Bukan merupakan keharusan bagi engkau untuk menghadiri akad nika, yang penting engkau sudah ridha dan itu cukup dibuktikan dengan ijin tertulis.

Yang kedua : Yang pokok adalah kehadiran walimu (wali nikah dari pihak pengantin wanita) atau yang mewakilinya. Karena pernikahan dengan tanpa adanya wali adalah pernikahan yang tidak sah berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Tidak ada nikah dengan tanpa wali’ (HR Abu Dawud : 2085, Tirmidzi 1101, Ibnu Majah : 1102 dari hadis Abu Musa Al-As’ari dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Shahih SUnan Tirmidzi).

Dan berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Wanita mana saja yang menikah dengan tanpa ijin walinya, maka nikahnya batal, batal, batal’ (HRAhmad 24417, Abu Dawud : 2083, Tirmidzi : 1102, dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Shahihul Jami’ : 2079).

Pertanyaan engkau ; Keluargaku tidak menentang pernikahan ini namun mereka tidak mengetahui telah terjadi akad. Difahami dari ucapan ini bahwa keluargamu tidak menghadiri akad nikah, tidak dihadiri pula oleh wakilnya. Jika benar seperti itu maka pernikahan ini tidak sah dan wajib bagi engkau untuk mengulangi akad nikah dengan dihadiri oleh wali beserta dua orang saksi.

Ini jika engkau memiliki wali yang muslim, baik itu ayah, saudara lelaki atau wali lainnya. Jika tidak ada wali muslim maka walimu adalah wali hakim, jika tidak ada maka walimu adalah pimpinan yayasan dakwah atau imam masjid.

Dan engkau tidak menyebutkan jenis agama apa yang dianut oleh keluargamu. Berdasarkan hal ini, jika memang engkau tidak memiliki wali yang muslim maka gambaran pernikahan yang sudah dilakukan tadi sah. Namun jika engkau memiliki seorang wali muslim maka wajib akad nikah wajib diulangi dengan menghadirkan wali atauorang yang menjadi wakilnya sebagai wakil dari wali tersebut. Wallahu alam

Sumber fatwa :

Fatwa Islam Soal Jawab no. 82266

Konsultasi Bimbingan Islam
Ustadz Abul Aswad Al Bayati