Faedah Hadist

Fawaid Hadist #180| “Estafet kebaikan “

وَعَنْ أَبِي مُوسَى الأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، أَنَّهُ قَالَ: «الخَازِنُ المُسْلِمُ الأَمِينُ الَّذِي يُنْفِذُ مَا أُمِرَ بِهِ فَيُعْطِيهِ كَامِلًا مُوَفَّرًا طَيِّبَةً بِهِ نَفْسُهُ فَيَدْفَعُهُ إِلَى الَّذِي أُمِرَ لَهُ بِهِ، أَحَدُ المُتَصَدِّقِينَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

وَفِي رِوَايَةٍ: «الَّذِي يُعْطِي مَا أُمِرَ بِهِ» وَضَبَطُوا «المُتَصَدِّقِينَ»؛ بِفَتْحِ القَافِ مَعَ كَسْرِ النُّونِ عَلَى التَّثْنِيَةِ، وَعَكْسُهُ عَلَى الجَمْعِ وَكِلَاهُمَا صَحِيحٌ. [البخاري (١٤٣٨)، ومسلم (١٠٢٣)]

Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Bendahara muslim yang amanah, yang melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya, lalu memberikannya secara penuh dan sempurna dengan hati yang lapang, kemudian menyerahkannya kepada orang yang diperintahkan untuk diberi, maka dia termasuk salah satu dari dua orang yang bersedekah.” (Muttafaq ‘alaih) 

Dalam satu riwayat: “Yang memberikan apa yang diperintahkan kepadanya.” Para ulama men-dhabit lafaz «المُتَصَدِّقِينَ» dengan mem-fathah-kan qaf dan meng-kasrah-kan nun untuk bentuk tatsniyah (dua), dan kebalikannya untuk bentuk jamak. Kedua-duanya benar. [HR. Al-Bukhari 1438, Muslim 1023]

Penjelasan Kata-Kata Sulit:

“Al-Khaazin”: Yaitu orang yang menjaga harta orang lain dengan izinnya dan diberi amanah atas harta itu. Termasuk di dalamnya: orang yang dijadikan pengelola oleh seseorang untuk mengurus keluarganya, seperti wakil, budak, istri, pembantu, dan orang yang bertugas menyiapkan makanan tamu.  

“Salah satu dari dua orang yang bersedekah”: Maksudnya, dia mendapat pahala seperti orang yang bersedekah.

Pelajaran Penting Dari Hadits ini

  1. Siapa saja yang diberi tugas untuk melaksanakan suatu amal kebaikan, lalu dia menjalankannya dengan baik, ikhlas dan ridha, maka dia mendapat pahala seperti pahala pelaku kebaikan yang sebenarnya, yaitu orang yang menugaskannya.
  2. Pentingnya mengobati hati dari keterikatan dengan harta dunia.
  3. Boleh mengangkat seorang bendahara, dan itu bukan termasuk sikap sombong atau boros.

[Referensi utama : Kitab Riyadhus shalihin Wa ma’ahu hasyiyatul Fawaid]

Wallohu a’lam

👤 Ditulis oleh Ustadz : Nurhadi Nugroho

Back to top button