
Allah ta’ala mengabadikan sebuah situasi ketika Rasulullah ﷺ bersama Abu Bakar radhiallahu anhu dalam perjalanan hijrah ketika mereka berada di dalam gua bersembunyi dari kejaran orang-orang kafir Quraisy.
{ إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدۡ نَصَرَهُ ٱللَّهُ إِذۡ أَخۡرَجَهُ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ ثَانِیَ ٱثۡنَیۡنِ إِذۡ هُمَا فِی ٱلۡغَارِ إِذۡ یَقُولُ لِصَـٰحِبِهِۦ لَا تَحۡزَنۡ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَاۖ فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِینَتَهُۥ عَلَیۡهِ وَأَیَّدَهُۥ بِجُنُودࣲ لَّمۡ تَرَوۡهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ ٱلسُّفۡلَىٰۗ وَكَلِمَةُ ٱللَّهِ هِیَ ٱلۡعُلۡیَاۗ وَٱللَّهُ عَزِیزٌ حَكِیمٌ }
“Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekkah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita. Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentara (malaikat-malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah. Dan firman Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” [QS At-Tawbah: 40]
Banyak pelajaran penting yang bisa kita gali untuk kehidupan kita dari ayat ini, insya Allah kita coba membahasnya. Kali ini kita akan mengambil faidah dari kitab Fiqhus Sirah yang ditulis oleh Syaikh Prof. Dr Zaid bin Abdul Karim az Zaid hafizhahullah.
Pertama,
Kemenangan apakah yang diceritakan oleh ayat Al-Qur’an di atas?
Kemenangan di mata manusia relatif, sesuai dengan berbagai tujuan dalam hidupnya, ada yang menganggap kemenangan itu ketika menang dalam pertarungan. Oleh karena itu, berapa banyak pandangan ini membawa kehancuran pada dunia.
Ada yang menganggap kemenangan itu ketika menang dalam pertandingan olah raga dan sepak bola. Ada Pula yang memiliki pandangan-pandangan lain.
Akan tetapi, kemenangan sejati yang digambarkan Al-Qur’an adalah kemenangan yang terkait dengan tercapainya tujuan akhirat. Seorang muslim melihat dunia ini sebagai perantara untuk mencapai kemenangan akhirat. Kemenangan inilah yang menjadikan keadilan tegak di dunia, meluruskan kehidupan, menenangkan jiwa, mengangkat harkat martabat dan kehormatan.
Kedua
Pada permulaan ayat ini mengandung celaan. Yaitu celaan kepada sebagian orang yang enggan membantu dan berjuang bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sofyan bin Uyainah Rahimahullah menyebutkan, “Abu Bakar tidak termasuk orang yang dicela pada firman Allah: (jika kalian tidak mau menolongnya).” (Tafsir Al Qurthubi)
Ini menunjukkan kesempurnaan iman sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq dan keutamaan beliau radhiyallahu anhu.
Ketiga
Kenapa disebut menang, padahal dalam posisi tersebut Rasulullah dan Abu Bakar belum mendapatkan kemenangan apa-apa?
Kemenangan Ada Dua;
#1: kemenangan orang Islam ketika menghadapi musuhnya, yaitu dengan mewujudkan impian dan kehendak mereka atas musuh-musuh mereka.
#2: kemenangan orang lemah yang diincar oleh orang kuat yang jahat, maka Allah menolongnya dengan menolak kejahatan orang jahat tersebut. Barangkali ini adalah kemenangan yang paling bermanfaat dari dua kemenangan tersebut. Kemenangan yang diberikan oleh Allah kepada Rasul-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika hijrah ini adalah termasuk kemenangan dari jenis ini.” (Tafsir as Sa’di)
Keempat
Dalam firman Allah
إِذۡ أَخۡرَجَهُ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ ثَانِیَ ٱثۡنَیۡنِ إِذۡ هُمَا فِی ٱلۡغَارِ إِذۡ یَقُولُ لِصَـٰحِبِهِۦ
“ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekkah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya,” (QS at Taubah: 40)
Ada 2 Keistimewaan Abu Bakar Radhiyallahu Anhum Yang Disebutkan.
#1 Beliau adalah salah satu dari 2 orang (beliau & Rasulullah)
#2 Dengan tegas disebutkan pada ayat tersebut bahwa beliau adalah sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Penyebutan seperti ini dalam Al Qur’an tidak didapatkan oleh sahabat siapapun selain Abu Bakar radhiyallahu anhu.
Kelima
Di dalam ayat tersebut terkandung pelajaran bagi seorang mukmin untuk menenangkan hati saudaranya ketika ia dalam keadaan takut, khawatir & kesusahan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ kepada Abu Bakar:
إِذۡ یَقُولُ لِصَـٰحِبِهِۦ لَا تَحۡزَنۡ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَاۖ
“ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS At Taubah: 40)
Dalam satu hadits disebutkan:
قال: فارتَحَلنا بَعدَ ما زالَتِ الشَّمسُ، واتَّبَعَنا سُراقةُ بنُ مالِكٍ، قال: ونَحنُ في جَلَدٍ مِنَ الأرضِ، فقُلتُ: يا رَسولَ اللهِ، أُتينا! فقال: لا تَحزَنْ إنَّ اللَّهَ معنا
Abu Bakar berkata, ‘Kami berangkat ketika matahari sudah mulai condong, kemudian Suraqah bin Malik menyusul kami.’ Abu Bakar berkata, ‘Kita didatangi wahai Rasulullah.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jangan takut, sesungguhnya Allah beserta kita.” (HR Bukhari Muslim)
Contoh yang semisal ini adalah perkataan Khadijah Radhiallahu ‘Anha kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sepulangnya dari gua Hira’ setelah turunnya wahyu seketika beliau memberitahukan kekhawatirannya dan ketakutannya. Khadijah Radhiallahu ‘Anha menenangkannya seraya berkata,
كَلَّا أَبْشِرْ فَوَاللَّهِ لَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا وَاللَّهِ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَصْدُقُ الْحَدِيثَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ
“Sekali-kali tidak, Allah tidak akan menghinakanmu, karena engkau biasa menjalin silaturrahim, menanggung beban, membantu orang yang tidak punya, memuliakan tamu, membantu orang yang membutuhkan)” (HR Muslim)
Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan intisari dari peristiwa tersebut:
“Di dalamnya terdapat anjuran untuk menghibur hati orang yang tertimpa suatu kesulitan, dengan menyebut bahwa hal tersebut mudah dan tidak masalah.” (Fathul Bari 1/25)
Keenam
Setelah perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada Abu Bakar
لَا تَحۡزَنۡ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَاۖ
“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”
Allah pun berfirman:
فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِینَتَهُ
“Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya” (QS at Taubah: 40)
Barang siapa yang yakin dan teguh dengan Allah, maka ia akan memperoleh ketenangan dan ketenteraman sesuai dengan kadar keyakinan dan tawakkalnya kepada Allah. Sebaliknya, kurangnya ketenangan yang ada pada diri seseorang disebabkan karena kurangnya keyakinan dan penyerahan diri pada Allah.
Ayat ini menyebutkan obatnya, yaitu kembali kepada Allah, bertawakkal kepada-Nya, serta yakin akan pertolongan-Nya. Saat itulah, seseorang akan mendapatkan ketenangan dan ketenteraman, sesuai dengan kadar keyakinannya kepada Allah dan tawakkalnya kepada-Nya.
Dalam ayat terdapat beberapa bentuk ta’yiid (dukungan) kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:
- Penguat internal, pada firmanNya, “Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya”
- Penguat eksternal, pada firmanNya, “Menguatkannya dengan bala tentara yang tidak nampak dilihat”
- Menetapkan kaidah, pada firmanNya, “Allah menjadikan kalimat orang kafir itu rendah”.
- Mengukuhkan kaidah, pada firmanNya, “Dan kalimat Allah Itulah yang Tinggi”.
Ketujuh
Rasulullah shallallahu Alaihi wa Sallam dan Abu Bakar tinggal selama 3 hari dalam gua. Gua, kita bisa bayangkan sebagai ruangan yang sempit yang ada di sebuah gunung, gelap, kotor, seram, tempat sarang hewan-hewan berbisa dan serangga. Namun, di tempat itulah, Rasul Al-Musthafa (manusia pilihan) shallallahu alaihi wa sallam menetap selama 3 hari.
Bandingkan dengan orang yang tinggal di istana lengkap dengan perabotan dan segala fasilitas, seperti AC, air bersih, kasur berbusa tebal yang empuk, dan lain-lain! Tetapi bukan itu kehidupan dan bukan pula ketenangan, bahkan itu tidak mendatangkan ketenangan dan ketentraman sejati.
Sesungguhnya ketenangan orang beriman ada dalam hatinya dan jiwanya. Jika iman bersemayam dalam dada, maka gua berubah menjadi istana yang megah yang menjulang tinggi di hadapan manusia. Ketika pemilik istana kehilangan iman di dada, maka istananya berubah menjadi lebih sempit dari kuburannya.
Demikianlah beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari QS at Taubah: 40 ini. Semoga Allah berikan kita ilmu yang bermanfaat & taufik untuk beramal shalih serta kekuatan untuk senantiasa tawakal & tenang menghadapi segala problematika kehidupan.
Wallohu a’lam
Ditulis oleh Ustadz : Amrullah Akadhinta, S.T.
Sumber Referensi: Fiqhus Sirah, Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim az Zaid, hal 307-312