ArtikelTafsir

KISAH PASUKAN THALUT, JALUT & NABI DAUD ALAIHISSALAM #BAGIAN 4

Tadabbur QS Al Baqarah: 246-251

KISAH TERBUNUHNYA JALUT OLEH DAUD DALAM TAFSIR AL BAGHAWI

Ketika membawakan cerita ini, Al Baghawi dalam tafsirnya menyebutkan kisah bagaimana terbunuhnya Jalut oleh Thalut. Berikut kisah yang beliau bawakan:

وَصِفَةُ قَتْلِهِ: قَالَ أَهْلُ التَّفْسِيرِ  عَبَرَ النَّهْرَ مَعَ طَالُوتَ فِيمَنْ عَبَرَ إِيشَا أَبُو دَاوُدَ فِي ثَلَاثَةَ عَشَرَ ابْنًا لَهُ وَكَانَ دَاوُدُ أَصْغَرَهُمْ وَكَانَ يَرْمِي بِالْقَذَّافَةِ فَقَالَ لِأَبِيهِ يَوْمًا يَا أَبَتَاهُ مَا أَرْمِي بِقَذَّافَتِي شَيْئًا إِلَّا صَرَعَتْهُ فَقَالَ: أَبْشِرْ يَا بُنَيَّ فَإِنَّ اللَّهَ جَعَلَ رِزْقَكَ فِي قَذَّافَتِكَ، ثُمَّ أَتَاهُ مَرَّةً أُخْرَى فَقَالَ: يَا أَبَتَاهُ لَقَدْ دَخَلْتُ بَيْنَ الْجِبَالِ فَوَجَدْتُ أَسَدًا رَابِضًا فَرَكِبْتُهُ فَأَخَذْتُ بِأُذُنَيْهِ فَلَمْ يَهْجُنِي، فَقَالَ: أَبْشِرْ يَا بُنَيَّ فَإِنَّ هَذَا خَيْرٌ يُرِيدُهُ اللَّهُ بِكَ ثُمَّ أَتَاهُ يَوْمًا آخَرَ فَقَالَ: يَا أَبَتَاهُ إِنِّي لَأَمْشِي بَيْنَ الْجِبَالِ فَأُسَبِّحُ فَمَا يَبْقَى جَبَلٌ إِلَّا سَبَّحَ مَعِي، فَقَالَ: أَبْشِرْ يَا بُنَيَّ فَإِنَّ هَذَا خَيْرٌ أَعْطَاكَهُ اللَّهُ تَعَالَى 

Adapun kisah terbunuhnya Jalut, para ahli tafsir berkata:

Ketika Thalut menyeberangi sungai bersama pasukannya, ikut pula bersama mereka Isya (ayah Daud) dengan 13 orang anaknya. Daud adalah yang paling kecil di antara mereka, dan ia biasa melempar dengan ketapel. 

Suatu hari ia berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku, tidaklah aku melempar sesuatu dengan ketapel ku kecuali aku mengenainya”. Ayahnya berkata, “Bergembiralah wahai anakku, karena Allah menjadikan rezekimu pada ketapel mu itu.”

Kemudian ia datang lagi dan berkata, “Wahai ayahku, aku pernah masuk di antara gunung-gunung dan menemukan seekor singa yang sedang berbaring. Aku pun menaikinya dan memegang kedua telinganya, namun ia tidak menyakitiku.” Ayahnya berkata, “Bergembiralah wahai anakku, ini adalah kebaikan yang Allah kehendaki bagimu.”

Kemudian ia datang lagi pada hari lain dan berkata, “Wahai ayahku, sungguh aku berjalan di antara gunung-gunung sambil bertasbih, dan tidak ada satu gunung pun kecuali ikut bertasbih bersamaku”. Ayahnya berkata, “Bergembiralah wahai anakku, ini adalah kebaikan yang Allah berikan kepadamu.”

فَأَرْسَلَ جَالُوتُ إِلَى طَالُوتَ أَنِ ابْرُزْ إِلَيَّ أَوْ أَبْرِزْ إِلَيَّ مَنْ يُقَاتِلُنِي فَإِنْ قَتَلَنِي فَلَكُمْ مُلْكِي وَإِنْ قَتَلْتُهُ فَلِي مُلْكُكُمْ فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَى طَالُوتَ فَنَادَى فِي عَسْكَرِهِ مَنْ قَتَلَ جَالُوتَ زَوَّجْتُهُ ابْنَتِي وَنَاصَفْتُهُ مُلْكِي فَهَابَ النَّاسُ جَالُوتَ فَلَمْ يُجِبْهُ أَحَدٌ فَسَأَلَ طَالُوتُ نَبِيَّهُمْ أَنْ يَدْعُوَ اللَّهَ تَعَالَى فَدَعَا اللَّهَ فِي ذَلِكَ، فَأَتَى بِقَرْنٍ فِيهِ دُهْنُ الْقُدْسِ وَتَنُّورٍ فِي حَدِيدٍ فَقِيلَ إِنَّ صَاحِبَكُمُ الَّذِي يَقْتُلُ جَالُوتَ هُوَ الَّذِي يُوضَعُ هَذَا الْقَرْنُ عَلَى رَأْسِهِ فَيَغْلِي الدُّهْنُ حَتَّى يَدْهُنَ مِنْهُ رَأْسَهُ وَلَا يَسِيلَ عَلَى وَجْهِهِ وَيَكُونَ عَلَى رَأْسِهِ كَهَيْئَةِ الْإِكْلِيلِ وَيَدْخُلُ فِي هَذَا التَّنُّورِ فَيَمْلَؤُهُ وَلَا يَتَقَلْقَلُ فِيهِ، 

Lalu Jalut mengirim pesan kepada Thalut: “Majulah engkau, atau kirimkan seseorang untuk melawanku. Jika ia berhasil membunuhku maka bagi kalian kerajaanku, dan jika aku membunuhnya maka bagiku kerajaan kalian”. Hal itu terasa berat bagi Thalut. Maka ia menyeru pasukannya: “Siapa yang membunuh Jalut, aku akan menikahkannya dengan putriku dan aku akan membaginya setengah kerajaanku!”

Namun manusia takut kepada Jalut, sehingga tidak seorang pun menjawab. Thalut kemudian meminta kepada nabi mereka agar berdoa kepada Allah, maka sang nabi pun berdoa. Lalu didatangkan sebuah tanduk berisi minyak dan sebuah tungku dari besi. Dikatakan: “Sesungguhnya orang yang akan membunuh Jalut adalah orang yang jika tanduk ini diletakkan di kepalanya, minyak itu akan mendidih hingga melumuri kepalanya tanpa mengalir ke wajahnya, dan berada di atas kepalanya seperti mahkota. Minyak itu bisa masuk ke dalam tungku itu hingga memenuhinya tanpa berguncang di dalamnya”.

فَدَعَا طَالُوتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ فَجَرَّبَهُمْ فَلَمْ يُوَافِقْهُ مِنْهُمْ أَحَدٌ فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَى نَبِيِّهِمْ أَنَّ فِي وَلَدِ إِيشَا مَنْ يَقْتُلُ اللَّهُ بِهِ جَالُوتَ فَدَعَا طَالُوتُ إِيشَا فَقَالَ: اعْرِضْ عَلَيَّ بَنِيكَ فَأَخْرَجَ لَهُ اثْنَيْ عَشَرَ رَجُلًا أَمْثَالَ السَّوَارِي  فَجَعَلَ يَعْرِضُهُمْ عَلَى الْقَرْنِ فَلَا يَرَى شَيْئًا فَقَالَ: لِإِيشَا هَلْ بَقِيَ لَكَ وَلَدٌ غَيْرُهُمْ فَقَالَ لَا فَقَالَ النَّبِيُّ: يَا رَبِّ إِنَّهُ زَعَمَ أَنْ لَا وَلَدَ لَهُ غَيْرُهُمْ، فَقَالَ كَذَبَ، فَقَالَ النَّبِيُّ: إِنَّ رَبِّي كَذَّبَكَ فَقَالَ: صَدَقَ اللَّهُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ إِنَّ لِي ابْنًا صَغِيرًا يُقَالُ لَهُ دَاوُدُ اسْتَحْيَيْتُ أَنْ يَرَاهُ النَّاسُ لِقِصَرِ قَامَتِهِ وَحَقَارَتِهِ (فَخَلَّفْتُهُ)  فِي الْغَنَمِ يَرْعَاهَا وَهُوَ فِي شِعْبِ كَذَا وَكَذَا،

Maka Thalut mengumpulkan Bani Israil dan menguji mereka, namun tidak seorang pun yang sesuai.

Kemudian Allah mewahyukan kepada nabi mereka bahwa di antara anak-anak Isya ada orang yang dengannya Allah akan membunuh Jalut. Maka Thalut memanggil Isya dan berkata, “Perlihatkan kepadaku anak-anakmu.”

Lalu Isya mengeluarkan 12 orang laki-laki yang tinggi besar seperti tiang-tiang. Mereka diuji satu per satu dengan tanduk itu, namun tidak tampak tanda apa pun.

Thalut berkata, “Apakah masih ada anakmu selain mereka?”. Ia menjawab, “Tidak ada”. Maka sang Nabi berkata, “Wahai Rabb-ku, dia mengaku tidak punya anak selain mereka”. Allah berfirman, “Dia berdusta.”

Nabi itu berkata, “Sesungguhnya Rabb-ku mendustakanmu”. Isya pun berkata, “Benar wahai Nabi Allah, aku memang masih memiliki seorang anak kecil bernama Daud. Aku merasa malu memperlihatkannya kepada orang-orang karena ia pendek dan dianggap remeh, maka aku tinggalkan dia menjaga kambing di suatu lembah.” 

وَكَانَ دَاوُدُ رَجُلًا قَصِيرًا مِسْقَامًا  مِصْفَارًا  أَزْرَقَ  أَمْعَرَ  ، فَدَعَاهُ طَالُوتُ، وَيُقَالُ: بَلْ خَرَجَ طَالُوتُ إِلَيْهِ فَوَجَدَ الْوَادِيَ قَدْ سَالَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الزَّرِيبَةِ الَّتِي كَانَ يُرِيحُ إِلَيْهَا، فَوَجَدَهُ يَحْمِلُ شَاتَيْنِ يُجِيزُ بِهِمَا السَّيْلَ وَلَا يَخُوضُ بِهِمَا الْمَاءَ فَلَمَّا رَآهُ قَالَ: هَذَا هُوَ لَا شَكَّ فِيهِ، هَذَا يَرْحَمُ الْبَهَائِمَ فَهُوَ بِالنَّاسِ أَرْحَمُ فَدَعَاهُ وَوَضَعَ الْقَرْنَ عَلَى رَأْسِهِ فَفَاضَ فَقَالَ طَالُوتُ: هَلْ لَكَ أَنْ تَقْتُلَ جَالُوتَ وَأُزَوِّجُكَ ابْنَتِي وَأُجْرِي خَاتَمَكَ فِي مُلْكِي قَالَ: نَعَمْ قَالَ: وَهَلْ آنَسْتَ مِنْ نَفْسِكَ شَيْئًا تَتَقَوَّى بِهِ عَلَى قَتْلِهِ؟ قَالَ: نَعَمْ، أَنَا أَرْعَى فَيَجِيءُ الْأَسَدُ أَوِ النَّمِرُ أَوِ الذِّئْبُ فَيَأْخُذُ شَاةً فَأَقُومُ إِلَيْهِ فَأَفْتَحُ لِحْيَيْهِ عَنْهَا وَأَضْرِقُهَا إِلَى قَفَاهُ، 

Daud adalah seorang lelaki yang bertubuh pendek, kurus, berkulit agak pucat kekuningan, bermata kebiruan, dan sedikit rambut di tubuhnya. Thalut memanggilnya, ada pula yang mengatakan bahwa Thalut justru keluar menemuinya. la mendapati sebuah lembah telah dialiri air di antara dirinya dan kandang tempat Daud biasa beristirahat. Ia melihat Daud sedang menggendong 2 ekor kambing untuk menyeberangkan keduanya melewati arus tanpa membiarkan keduanya masuk ke dalam air.

Ketika Thalut melihatnya, ia berkata: “Inilah dia, tidak diragukan lagi. Orang ini menyayangi hewan, maka ia tentu lebih penyayang kepada manusia.” Lalu ia memanggilnya dan meletakkan tanduk (yang berisi minyak) di atas kepalanya hingga mengalir. Thalut berkata: “Maukah engkau membunuh Jalut? Aku akan menikahkanmu dengan putriku dan memberimu kedudukan dalam kerajaanku.” Daud menjawab: “Baiklah.” Talut bertanya: “Apakah engkau memiliki keahlian yang membuatmu mampu membunuhnya?” Daud menjawab: “Ya, aku seorang penggembala. Jika datang singa, harimau, atau serigala lalu mengambil seekor kambing, aku akan mengejarnya, membuka rahangnya untuk mengambil kambing itu, lalu melemparkannya hingga ke tengkuknya.”

فَرَدَّهُ إِلَى عَسْكَرِهِ، فَمَرَّ دَاوُدُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي طَرِيقِهِ بِحَجَرٍ فَنَادَاهُ الْحَجَرُ يَا دَاوُدُ احْمِلْنِي فَإِنِّي حَجَرُ هَارُونَ الَّذِي قَتَلَ بِي مَلِكَ كَذَا، فَحَمَلَهُ فِي مِخْلَاتِهِ، ثُمَّ مَرَّ بِحَجَرٍ آخَرَ فَقَالَ: احْمِلْنِي فَإِنِّي حَجَرُ مُوسَى الَّذِي قَتَلَ بِي مَلِكَ كَذَا وَكَذَا فَحَمَلَهُ فِي مِخْلَاتِهِ، ثُمَّ مَرَّ بِحَجَرٍ آخَرَ فَقَالَ: احْمِلْنِي فَإِنِّي حَجَرُكَ الَّذِي تَقْتُلُ بِي جَالُوتَ فَوَضَعَهَا فِي مِخْلَاتِهِ، فَلَمَّا تَصَافُّوا لِلْقِتَالِ وَبَرَزَ جَالُوتُ وَسَأَلَ الْمُبَارَزَةَ انْتُدِبَ لَهُ دَاوُدُ فَأَعْطَاهُ طَالُوتُ فَرَسًا وَدِرْعًا وَسِلَاحًا فَلَبِسَ السِّلَاحَ وَرَكِبَ الْفَرَسَ وَسَارَ قَرِيبًا 

Kemudian Thalut memasukkan Daud ke pasukannya. Dalam perjalanannya, Daud ‘alaihissalam melewati sebuah batu, lalu batu itu memanggilnya: “Wahai Daud, bawalah aku, karena aku adalah batu yang digunakan Harun untuk membunuh seorang raja.” Maka Dawud membawanya dalam kantongnya. 

Kemudian ia melewati batu lain, lalu batu itu berkata: “Bawalah aku, karena aku adalah batu yang digunakan Musa untuk membunuh seorang raja.” Maka ia pun membawanya. 

Lalu ia melewati batu ketiga yang berkata: “Bawalah aku, karena aku adalah batu mu yang dengannya engkau akan membunuh Jalut.” Maka ia pun memasukkannya ke dalam kantongnya

Ketika kedua pasukan telah berbaris untuk berperang dan Jalut maju menantang duel, maka Daud maju untuk menghadapinya. Thalut memberinya seekor kuda, baju besi, dan senjata. Daud mengenakan perlengkapan itu dan menaiki kuda, lalu berjalan.

ثُمَّ انْصَرَفَ إِلَى الْمَلِكِ فَقَالَ: مَنْ حَوْلَهُ جَبَنَ الْغُلَامُ فَجَاءَ فَوَقَفَ عَلَى الْمَلِكِ فَقَالَ: مَا شَأْنُكَ؟ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ إِنْ لَمْ يَنْصُرْنِي لَمْ يُغْنِ عَنِّي هَذَا السِّلَاحُ شَيْئًا، فَدَعْنِي أُقَاتِلْ كَمَا أُرِيدُ، قَالَ: فَافْعَلْ مَا شِئْتَ قَالَ: نَعَمْ، فَأَخَذَ دَاوُدُ مِخْلَاتَهُ فَتَقَلَّدَهَا وَأَخَذَ الْمِقْلَاعَ وَمَضَى نَحْوَ جَالُوتَ وَكَانَ جَالُوتُ مِنْ أَشَدِّ الرِّجَالِ وَأَقْوَاهُمْ، وَكَانَ يَهْزِمُ الْجُيُوشَ وَحْدَهُ وَكَانَ لَهُ بَيْضَةٌ  فِيهَا ثَلَاثُمِائَةِ رَطْلِ حَدِيدٍ فَلَمَّا نَظَرَ إِلَى دَاوُدَ أُلْقِيَ فِي قَلْبِهِ الرُّعْبُ فَقَالَ لَهُ: أَنْتَ تَبْرُزُ إِلَيَّ؟ قَالَ: نَعَمْ.

Kemudian Daud berjalan menuju Jalut. Orang-orang di sekitar Jalut berkata: “Pemuda ini pengecut.” Maka ia datang dan berdiri di hadapan raja. Jalut berkata: “Ada apa denganmu?” Ia menjawab: “Jika Allah tidak menolongku, maka perlengkapan ini tidak akan berguna sedikitpun bagiku. Biarkan aku berperang dengan caraku sendiri.” Jalut berkata: “Lakukanlah apa yang engkau kehendaki.” Ia menjawab: “Baiklah”. Lalu Daud mengambil kantongnya, memanggulnya, dan mengambil ketapel, kemudian maju menuju Jalut. 

Jalut adalah salah satu manusia yang paling kuat dan paling gagah. Ia mampu mengalahkan satu pasukan sendirian. Ia memiliki helm (pelindung kepala) yang beratnya mencapai 300 rithl besi (1 rithl sekitar 0,4-0,45 kg, pent). Ketika ia melihat Daud, rasa takut berkecamuk di dalam hatinya. Maka ia berkata kepadanya: “Engkaukah yang maju melawanku?!”. Dawud menjawab: “Ya.”

وَكَانَ جَالُوتُ عَلَى فَرَسٍ أَبْلَقَ  عَلَيْهِ السِّلَاحُ التَّامُّ، قَالَ: فَأَتَيْتَنِي بِالْمِقْلَاعِ وَالْحَجَرِ كَمَا يُؤْتَى الْكَلْبُ؟ قَالَ: نَعَمْ أَنْتَ شَرٌّ مِنَ الْكَلْبِ، قَالَ لَا جَرَمَ لَأَقْسِمَنَّ لَحْمَكَ بَيْنَ سِبَاعِ الْأَرْضِ وَطَيْرِ السَّمَاءِ قَالَ دَاوُدُ: أَوْ يُقَسِّمُ اللَّهُ لَحْمَكَ، فَقَالَ دَاوُدُ: بِاسْمِ إِلَهِ إِبْرَاهِيمَ وَأَخْرَجَ حَجَرًا ثُمَّ أَخْرَجَ الْآخَرَ وَقَالَ: بِاسْمِ إِلَهِ إِسْحَاقَ وَوَضَعَهُ فِي مِقْلَاعِهِ ثُمَّ أَخْرَجَ الثَّالِثَ وَقَالَ: بِاسْمِ إِلَهِ يَعْقُوبَ وَوَضَعَهُ فِي مِقْلَاعِهِ فَصَارَتْ كُلُّهَا حَجَرًا وَاحِدًا وَدَوَّرَ دَاوُدُ الْمِقْلَاعَ وَرَمَى بِهِ فَسَخَّرَ اللَّهُ لَهُ الرِّيحَ حَتَّى أَصَابَ الْحَجَرَ أَنْفَ الْبَيْضَةِ فَخَالَطَ دِمَاغَهُ وَخَرَجَ مِنْ قَفَاهُ وَقَتَلَ مِنْ وَرَائِهِ ثَلَاثِينَ رَجُلًا وَهَزَمَ اللَّهُ تَعَالَى الْجَيْشَ وَخَرَّ جَالُوتُ قَتِيلًا فَأَخَذَهُ يَجُرُّهُ حَتَّى أَلْقَاهُ بَيْنَ يَدَيْ طَالُوتَ، فَفَرِحَ الْمُسْلِمُونَ فَرَحًا شَدِيدًا، وَانْصَرَفُوا إِلَى الْمَدِينَةِ سَالِمِينَ غَانِمِينَ وَالنَّاسُ يَذْكُرُونَ دَاوُدَ

Jalut berada di atas seekor kuda belang putih-hitam, mengenakan persenjataan lengkap. Ia berkata, “Apakah engkau mendatangiku hanya dengan ketapel dan batu, sebagaimana mendatangi anjing?” Daud menjawab, “Ya, bahkan engkau lebih buruk daripada anjing!”

Jalut berkata, “Sungguh aku akan membagi-bagikan dagingmu kepada binatang buas di bumi dan burung-burung di langit.”. Daud berkata, “Atau justru Allah yang akan membagi-bagikan dagingmu!”

Lalu Daud berkata, “Dengan nama Ilahnya Ibrahim,” lalu mengeluarkan sebuah batu. Kemudian mengeluarkan batu yang lain seraya berkata, “Dengan nama Ilahnya Ishaq,” lalu meletakkannya ke dalam ketapelnya. Setelah itu ia mengeluarkan batu ketiga dan berkata, “Dengan nama Ilahnya Yaqub,” lalu meletakkannya ke dalam ketapelnya. Maka ketiga batu itu menjadi satu batu.

Lalu Dawud memutar ketapelnya dan melemparkannya. Allah menundukkan angin untuknya hingga batu itu mengenai hidung pelindung kepala Jalut, menembus otaknya lalu keluar dari belakang kepalanya, dan  ikut membunuh 30 orang yang berada di belakangnya.

Allah pun mengalahkan pasukan itu, dan Jalut roboh tewas. Lalu Daud menyeret jasadnya hingga melemparkannya di hadapan Thalut. Maka kaum mukminin sangat bergembira, lalu mereka kembali ke kota dalam keadaan selamat dan membawa kemenangan, sementara manusia terus menyebut-nyebut nama Daud.” (Tafsir Al Baghawi)

Demikian yang diceritakan oleh Al Baghawi dalam tafsirnya. 

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh: Ustadz Amrullah Akadhinta, S.T. 

Ustadz Amrullah Akadhinta ST

Beliau adalah Alumni S1 Teknik Sipil UGM, Alumni Ma'had Al-'Ilmi, | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial sebagai Pengasuh Twitulama. Ketua Yayasan Bimbingan Islam. Sekretaris KIPMI. Pembina Yayasan Muslim Merapi
Back to top button