ArtikelKeluarga

Ketika Perceraian Menjadi Takdir yang Harus Diterima

Pertanyaan: Bismillah, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ustadz. Mohon nasehatnya bagi perempuan yang qadarullah harus mengalami perceraian (sudah di ujung masa ‘iddah dan sudah pisah rumah), masih ada perasaan sayang dan cinta kepada suaminya, namun memang suaminya sudah memutuskan untuk berpisah. Mohon nasehatnya dan bagaimana mengatasi dukanya. Jazakumullahu khairan, ustadz.

Jawaban: 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته بسم الله، الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله أما بعد 

Pertama, semoga Allah memberikan keteguhan hati, kesabaran, dan mengganti kesedihan anti dengan kebaikan yang lebih besar di dunia maupun di akhirat.

Perceraian memang bukan perkara yang ringan. Terlebih ketika perpisahan itu terjadi sementara hati masih memiliki rasa sayang dan cinta. Tidak ada yang aneh dengan perasaan sedih, kehilangan, kecewa, atau bahkan menangis. Semua itu adalah bagian dari fitrah manusia. Bahkan Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika kehilangan orang-orang yang beliau cintai, beliau pun bersedih.

Namun seorang muslim menyadari bahwa di atas semua rencana manusia ada takdir Allah yang selalu mengandung hikmah, meskipun terkadang hikmah tersebut belum dapat kita lihat saat ini.

Allah berfirman:

‎وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagi kalian, dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kalian. Allah mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Hari ini mungkin anti melihat perceraian sebagai musibah yang sangat menyakitkan. Namun siapa yang tahu bahwa Allah sedang menyelamatkan anti dari sesuatu yang tidak baik bagi agama, hati, atau masa depan anti?

Allah juga berfirman tentang perceraian:

‎وَإِن يَتَفَرَّقَا يُغْنِ اللَّهُ كُلًّا مِّن سَعَتِهِ

“Jika keduanya berpisah, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari karunia-Nya.” (QS. An-Nisa’: 130).

Perhatikan ayat ini. Allah tidak mengatakan bahwa kehidupan akan berakhir setelah perceraian. Justru Allah menjanjikan kecukupan dan karunia bagi masing-masing pihak apabila mereka berpisah.

Maka jangan jadikan perceraian sebagai akhir dari kehidupan. Ini hanyalah satu bab dari perjalanan hidup yang Allah tuliskan untuk anti.

Bagaimana Menghadapi Dukanya?

Pertama, izinkan diri untuk bersedih secukupnya.

Tidak perlu memaksa diri untuk langsung kuat atau langsung melupakan semuanya. Kehilangan seseorang yang pernah menjadi pasangan hidup tentu membutuhkan waktu untuk diproses oleh hati.

Kedua, jangan terus-menerus membuka luka lama.

Hindari terlalu sering melihat foto-foto lama, membaca kembali percakapan lama, atau terus membayangkan berbagai kemungkinan yang sudah tidak terjadi. Semakin sering luka dibuka, semakin lama ia sembuh.

Ketiga, sibukkan diri dengan hal yang bermanfaat.

Perbanyak membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, berolahraga, membantu orang tua, atau aktivitas lain yang mendekatkan diri kepada Allah dan membuat hati lebih tenang.

Keempat, perbanyak doa.

Mintalah kepada Allah agar mengangkat kesedihan dari hati anti.

Di antara doa yang diajarkan Nabi shallallahu alaihi wasallam :

‎اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا

“Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya.” (HR. Muslim no: 918).

Ketika suami telah memutuskan untuk berpisah dan tidak ingin kembali, maka salah satu bentuk ibadah yang besar adalah menerima takdir Allah dengan sabar dan ridha. Bukan berarti anti harus melupakan semua kenangan dalam sehari atau seminggu, tetapi perlahan-lahan belajar menyerahkan urusan ini kepada Allah.

Bisa jadi orang yang selama ini anti cintai memang bukan orang yang Allah takdirkan menemani perjalanan hidup anti hingga akhir. Dan bisa jadi Allah sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih baik untuk agama dan kehidupan anti.

Ingatlah bahwa nilai seorang muslimah tidak ditentukan oleh status pernikahannya. Kemuliaan seorang hamba berada pada ketakwaannya kepada Allah.

‎إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Maka jadikan masa setelah perceraian ini sebagai kesempatan untuk lebih dekat kepada Allah, memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, dan membangun kembali harapan.

Semoga Allah menghibur hati anti, mengganti kesedihan dengan ketenangan, mengganti kehilangan dengan keberkahan, dan memberikan jalan terbaik yang tidak pernah anti sangka sebelumnya.

Wallahu a’lam.

Dijawab ringkas oleh Ustadz Muhammad Fikri Al-Hilabi, M.Ag.

Back to top button