ArtikelFiqih

Hutang Emas Dibayar Uang: Emang Boleh?

Hutang Emas Dibayar Uang: Emang Boleh?

Pertanyaan: Jika seseorang meminjam emas dalam bentuk perhiasan, lalu saat melunasi ia tidak mengembalikannya dalam bentuk emas, tetapi dengan uang. Apakah nilai yang digunakan mengikuti harga emas saat berhutang atau saat pelunasan?

Jawaban: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Jika seseorang berhutang emas, maka hukum asalnya adalah wajib mengembalikan emas sejenis, baik dalam bentuk, berat, dan kadar yang sama. Bukan diganti dengan nilainya dalam uang; kecuali jika ada kesepakatan atau kerelaan kedua pihak pelunasan dengan uang, maka nilai yang berlaku adalah nilai emas saat pelunasan, bukan saat meminjam.

Wajib Mengembalikan Emas dengan Emas Sejenis

Lajnah Daimah (Komisi Fatwa Ulama Senior Saudi Arabia) pernah ditanya:

 “قمت ببيع ذهب مقداره ٢٠ جراماً، وهو يخص زوجتي، وزوجتي تطلب مني الآن الذهب، هل أشتري لها الذهب بالجرام على الرغم من أن سعر الذهب عندنا الآن ارتفع جداً، أم أعطيها مقدار الذهب بالنقد؟”

“Saya telah menjual emas seberat 20 gram milik istri saya. Sekarang, istri saya meminta emas tersebut dikembalikan. Apakah saya harus membelikannya kembali emas seberat itu (20 gram) meskipun harga emas saat ini sudah naik sangat tinggi, atau cukup saya ganti dengan uang senilai emas tersebut?”

Mereka menjawab:

 “الواجب أن ترد على زوجتك مقدار الذهب الذي أخذته منها، لأن ذلك قرض، فترد عليها مثل الذي أخذته منها.”

“Anda wajib mengembalikan emas seberat yang anda ambil dari istri anda, karena itu adalah pinjaman. Maka anda harus kembalikan semisal dengan saat anda mengambil (dalam hal berat dan nilainya saat ini, pent).” (Fatwa Lajnah Da’imah no. 19959)

Jika Dibayar dengan Uang, Maka Sesuai Harga Hari Pelunasan

Lajnah Daimah juga ditanya:

 “ما حكم أن يستلف إنسان من آخر ذهبًا سبيكة أو سلسلة، ثم يرجع له ذهبًا غيره بنفس الوزن والقيمة، أو يستلف دينارًا من الذهب ثم يرجعه له بعد ذلك دينارًا بنفس القيمة؟”

 “Apa hukum jika seseorang meminjam emas dari orang lain—baik berupa batangan atau perhiasan seperti kalung—lalu ia mengembalikannya dengan emas lain yang memiliki berat dan nilai yang sama? Atau jika ia meminjam dinar emas, lalu mengembalikannya dengan dinar emas lain yang setara nilainya?”

Jawab mereka:

 “إقراض الذهب ثم رده بمقدار وزنه، لا حرج فيه، لقول النبي ﷺ: الذهب بالذهب، وزناً بوزن، مثلاً بمثل. وإن زاده من دون شرط ولا تواطؤ على الزيادة، فلا حرج، لقول النبي ﷺ: إن خيار الناس أحسنهم قضاء. وهكذا رد قيمته بالسعر الحاضر يداً بيد، لحديث ابن عمر رضي الله عنهما قال: قلنا: يا رسول الله، إنا نبيع بالدراهم ونأخذ الدنانير، ونبيع بالدنانير ونأخذ الدراهم، فقال: لا بأس أن تأخذها بسعر يومها، ما لم تفترقا وبينكما شيء.”

“Meminjamkan emas lalu mengembalikannya sesuai beratnya, tidak mengapa, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Emas dengan emas harus seberat, setara, dan sebanding.”

Jika si peminjam mengembalikan lebih banyak tanpa ada syarat atau kesepakatan sebelumnya untuk menambahkannya, maka hal itu pun tidak masalah. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik dalam membayar utangnya.”

Demikian pula, mengembalikan dalam bentuk uang senilai harga emas saat itu secara tunai juga dibolehkan. Sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Kami bertanya” Ya Rasulullah, kami berjual beli dengan dirham tapi dibayar dengan dinar, dan berjual beli dengan dinar tapi dibayar dengan dirham.’ Maka beliau menjawab, ‘Tidak mengapa, asalkan ditukar sesuai nilai hari itu dan dilakukan secara tunai sebelum kalian berpisah dan tidak ada yang masih tertunda di antara kalian.’”

Fatwa ini menunjukkan bahwa apabila emas dibayar dengan uang, maka harus dilakukan tunai, dan nilainya mengikuti harga emas pada hari pelunasan, bukan pada saat meminjam.

Mengapa demikian?

Karena transaksi emas dan uang sama saja transaksi benda ribawi yang sejenis,  yaitu benda ribawi dalam jenis “alat tukar/transaksi”. Saat anda membeli emas dengan uang itu sama saja anda sedang menukar emas dengan emas. Mengingat fungsi uang sebagai alat tukar yang menggantikan fungsi emas dan perak. Hal ini dijelaskan dalam Qarârât (Keputusan) Majma’ al-Fiqh al-Islami:

 “النقود الورقية نقود اعتبارية، فيها صفة الثمنية الكاملة، ولها الأحكام الشرعية المقررة للذهب والفضة: من حيث أحكام الربا، والزكاة، والسلم، وسائر أحكامهما.”

“Uang kertas adalah mata uang yang sah secara syar’i, memiliki sifat tsamaniyyah (alat tukar bernilai), dan berlaku padanya hukum-hukum emas dan perak seperti zakat, riba, dan akad salam.” (Qarârât Majma’ al-Fiqh al-Islami, hlm. 14)

Dalam fatwanya yang lain Majma’ al-Fiqhi al-Islami – Rabithah ‘Alam Islami menyebutkan:

> “العملة الورقية نقد قائم بذاته، له حكم النقدين من الذهب والفضة، فتجب الزكاة فيها، ويجري الربا عليها بنوعيه، فضلاً ونسيئة، كما يجري ذلك في النقدين من الذهب والفضة تمامًا، باعتبار الثمنية في العملة الورقية، قياسًا عليهما.”

“Uang kertas adalah mata uang yang berdiri sendiri dan memiliki hukum seperti dinar dan dirham, wajib dizakati, dan berlaku padanya hukum riba, baik fadhl maupun nasi’ah, sebagaimana berlaku pada emas dan perak karena nilai tukarnya.” (Qarârât Majma’ al-Fiqhi – Makkah, hlm. 22)

Mengingat uang dan emas adalah benda yang sejenis yang tergolong dalam komoditi ribawi, maka dalam transaksi antar keduanya harus dilakukan dengan tunai dan wajib sama kuantitas/beratnya.

Hal ini berdasarkan hadis dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

الذهب بالذهب والفضة بالفضة، والبُر بالبر، والشعير بالشعير، والتمر بالتمر، والملح بالملح ، مثلاً بمثل، سواءً بسواء فإذا اختلفت هذه الأصناف فبيعوا كيف شئتم اذا كان يدًا بيد

“Jika emas di barter dengan emas, perak ditukar dengan perak, gandum bur (gandum halus) ditukar dengan gandum bur, gandum syair (kasar) ditukar dengan gandum syair, kurma ditukar dengan kurma, garam dibarter dengan garam, maka takarannya harus sama dan tun. Jika benda yang dibarterkan berbeda maka takarannya boleh sesuka hati kalian, asalkan tunai.” (HR. Muslim).

Kesimpulan:

Jika seseorang meminjam emas, maka:

  •     Wajib mengembalikannya dalam bentuk emas yang sepadan dari segi berat dan jenisnya.
  •     Jika disepakati diganti uang, maka nilainya mengikuti harga emas pada hari pelunasan, dan pelunasannya harus tunai (kontan).
  •     Tidak boleh menggunakan nilai harga saat berhutang, karena emas adalah barang ribawi dan nilainya fluktuatif.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh: Ustadz Ahmad Anshori Lc., M.Pd

Back to top button