Bertaubat Dari Dosa, Akan Terhindar Dari Dampak Buruk Dosa Tersebut?

Bertaubat Dari Dosa, Akan Terhindar Dari Dampak Buruk Dosa Tersebut?
Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan bertaubat dari dosa, akan terhindar dari dampak buruk dosa tersebut. Benarkah demikian? Selamat membaca.
Pertanyaan:
بسم الله الرحمن الرحيم
Assalaamu’alaikum ustadz, mau bertanya. Apakah dosa-dosa yang kita telah bertaubat (langsung beristighfar) darinya maka kita akan terhindar dari dampak buruk dosa-dosa tersebut?
Apakah ini khusus dosa-dosa kecil atau dosa-dosa besar juga demikian? Jazaakallaahu khairan katsiiraa ustadz.
(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)
Jawaban:
Waalaikumsalam warahmatullah wabarokatuh
Kewajiban dan Keutamaan Taubat
Kewajiban kita adalah bertaubat dari kesalahan yang telah kita lakukan, sebagaimana yang Allah perintahkan di banyak ayatNya, di antaranya apa yang Allah sebutkan,”
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. At-Tahrim : 8)
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.
“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat” (Hadits hasan riwayat Ahmad (III/198), At Tirmidzi (no. 2499), Ibnu Majah (no. 4251) dan Al Hakim (IV/244).)
Taubat adalah bagian dari amal ibadah yang diwajibkan oleh Allah kepada para hamba-Nya, dengan pahala dan imbalan yang telah Allah janjikan kepada seorang hamba yang diberikan hidayah untuk bertaubat. Faktor inilah yang hendaknya diperhatikan bagi seseorang yang bertaubat.
Menyikapi Kesulitan Hidup
Terkait dengan konsekuensi akibat atau sangsi dengan efek negatif yang akan muncul untuk memberikan ujian duniawi kepada hamba tersebut, sehingga akan terlihat bagaimana dan kesungguhan ia bertaubat dan mau kembali kepada Rabb-Nya dengan sepenuh hati.
Maka tidak menyikapi berlebihan, semua diserahkan kepada kehendak Allah baik untuk menimpakan atau menghilangkan efek negatif yang ditimbulkan.
Sambil mendekat kepada Allah, terus meminta ampunan dan tidak menimpakan efek negatif di dunia dan di akhirat nanti. Ia juga harus bersiap diri, bersabar dan menjadikan itu semua sebagai bagian dari resiko yang harus diterima dan sebagai penghapus dosa dari kesalahan yang telah dilakukan.
1. Musibah sebagai pengingat bagi manusia agar bertaubat.
Allah ‘Azza wa Jalla yang berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ {٤١}
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Al-Rûm [30]: 41)
2. Musibah sebagai penghapus dosa dan kesalahan.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura: 30).
Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah, mereka mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلاَ نَصَبٍ وَلاَ سَقَمٍ وَلاَ حَزَنٍ حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ إِلاَّ كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ
“Tidaklah seorang mukmin tertimpa suatu musibah berupa rasa sakit (yang tidak kunjung sembuh), rasa capek, rasa sakit, rasa sedih, dan kekhawatiran yang menerpa melainkan dosa-dosanya akan diampuni” (HR. Muslim no. 2573).
Dari Mu’awiyah, ia berkata bahwa ia mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَا مِنْ شَىْءٍ يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ فِى جَسَدِهِ يُؤْذِيهِ إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ عَنْهُ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِه
“Tidaklah suatu musibah menimpa jasad seorang mukmin dan itu menyakitinya melainkan akan menghapuskan dosa-dosanya” (HR. Ahmad 4: 98. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata bahwa sanadnya shahih sesuai syarat Muslim).
Bertaubat dan Berbaik Sangka Kepada Allah
Karenanya, teruslah bertaubat, perbaiki kesalahan dengan ketaatan, meminta Allah tidak menimpakan malapetaka dari akibat dosa yang telah kita lakukan, baik di dunia dan di akhirat. Bila nantinya takdir Allah berkehendak lain, maka bersabarlah dan berbaik sangkalah. Bahwa dalam setiap kesulitan yang kita hadapi ada hikmah yang tersembunyi dan kebaikan serta perubahan diri untuk selalu mengharap ridho Allah ta`ala.
Jangan Berputus Asa Dari Rahmat Allah
Selalu waspada, bahwa syaitan tidak akan pernah rela dengan taubat seorang hamba dan berusaha untuk mengembalikan kepada kemaksiatan dan memberikan keputusasaan dari rahmat Allah. Firman Allah ta`ala,”
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (53) وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (54)
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).
Kapan Dosa Itu Dicatat?
Terkait dengan waktu pencatatan dosa, apakah baru tercatat setelah beberapa jam atau yang dicatat hanya dosa kecil saja tidak dosa besar, kami tidak mengetahuinya. Yang kami tahu, bahwa setiap amalan seorang hamba, setiap detiknya akan terekam dan tercatat, baik yang positif ataupun negatif semua Allah akan mintakan pertanggungjawaban dari hamba tersebut. Sebagaimana firman Allah ta`ala:
يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ
“(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (QS. Luqman: 16).
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ ﴿١٦﴾ إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ ﴿١٧﴾ مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang telah dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya. Yaitu ketika kedua malaikat mencatat amal perbuatannya, satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qâf/50:16-18)
وَوُضِعَ الْكِتٰبُ فَتَرَى الْمُجْرِمِيْنَ مُشْفِقِيْنَ مِمَّا فِيْهِ وَيَقُوْلُوْنَ يٰوَيْلَتَنَا مَالِ هٰذَا الْكِتٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيْرَةً وَّلَا كَبِيْرَةً اِلَّآ اَحْصٰىهَا وَوَجَدُوْا مَا عَمِلُوْا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ اَحَدًا ﴿الكهف : ۴۹﴾
“Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya,” dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang jua pun”. (QS. Al-Kahf: 49)
Evaluasi Amalan Itu Penting, Jadwalkan!
Maka selalu memperhatikan setiap perbuatan yang akan kita lakukan atau yang telah kita lakukan, melakukan sifat Muroqobah (merasa di awasi oleh Allah dan Muhasabah/evaluasi diri maka perbaikan diri akan di dapatkan untuk selalu meniti jalan ridho-Nya).
Semoga Allah menjadikan kita semua bagian dari para hamba yang selalu bertaubat dari segala dosa dan kelalaian.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Al-A’raf : 23).
Wallahu a`lam.
Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Selasa, 6 Rabiul Akhir 1444 H/ 1 November 2022 M
Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di sini