AqidahArtikelManhaj

Syirik Dalam Uluhiyyah Dan Contohnya Dalam Kehidupan (Bagian #3)

Syirik Dalam Uluhiyyah Dan Contohnya Dalam Kehidupan (Bagian #3)

Jenis Kedua: Syirik Dalam Doa Ibadah

Doa ibadah adalah beribadah kepada Allah Ta’ala dengan berbagai macam bentuk ibadah, baik yang bersifat hati, lisan, maupun perbuatan; seperti cinta, takut, harap, shalat, puasa, menyembelih, membaca Al-Qur’an, dan lain sebagainya.

Jenis ini disebut “doa” karena orang yang beribadah kepada Allah melakukannya dengan harapan mendapat pahala dan takut akan siksa-Nya, meskipun dalam pelaksanaannya tidak terdapat bentuk permintaan atau permohonan secara eksplisit.

Contoh syirik dalam doa ibadah:

  1. Syirik dalam niat, kehendak, dan tujuan:  

   Jenis syirik ini dilakukan oleh orang munafik dalam bentuk nifak akbar (kemunafikan besar), yaitu menampakkan Islam padahal dalam hatinya tidak mengakuinya. Ia melakukan amal-amal Islam hanya untuk riya (pamer), sehingga menunjukkan keislaman demi tujuan dunia, bukan karena iman yang sebenarnya.

  1. Syirik dalam rasa takut:

Yaitu takut kepada makhluk dengan takut yang disertai pengagungan dan ketundukan, serta rasa cinta, dimana seseorang takut bahwa makhluk tersebut bisa mendatangkan keburukan atas kehendak dan kekuasaannya.  

Ini adalah syirik besar, karena berarti mempersembahkan ibadah rasa takut dan pengagungan kepada selain Allah, serta meyakini adanya kemampuan memberi manfaat atau mudarat pada selain Allah Azza wa Jalla.

Adapun rasa takut yang bersifat alami (fitri), seperti takut kepada musuh, hewan buas, dan semisalnya, maka ini adalah rasa takut yang diperbolehkan, selama memang terdapat sebab-sebab yang nyata untuk rasa takut tersebut.

3 Syirik dalam cinta:  

  Yaitu mencintai makhluk dengan cinta yang disertai ketundukan dan pengagungan. Ini adalah cinta peribadatan yang tidak boleh diberikan kepada selain Allah. Siapa yang mempersembahkan cinta semacam ini kepada selain Allah, maka ia telah terjatuh dalam syirik akbar.

  1. Syirik dalam harapan (roja’):

Yaitu berharap kepada makhluk terhadap sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, seperti: kemenangan, rezeki, kesembuhan, anak, perlindungan, dan lainnya.  

  Ini adalah syirik akbar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam.

  1. Syirik dalam shalat, sujud, dan rukuk 

Barang siapa shalat, sujud, rukuk, atau membungkuk kepada makhluk dengan maksud cinta, ketundukan, dan mendekatkan diri kepadanya, maka ia telah jatuh dalam syirik akbar, menurut kesepakatan para ulama.

  1. Syirik dalam penyembelihan: 

Barangsiapa yang menyembelih dengan tujuan mendekatkan diri dan mengagungkan makhluk, maka ia telah jatuh ke dalam syirik akbar.

  Syaikh Ibnu Utsaimin berkata:  

  “Penyembelihan untuk selain Allah terbagi menjadi dua:  

  • Jika menyembelih untuk selain Allah dalam rangka mendekatkan diri dan mengagungkan, maka ini adalah syirik akbar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam.  
  • Jika menyembelih untuk selain Allah sebagai bentuk kebahagiaan atau penghormatan, maka ini *tidak mengeluarkan dari Islam, melainkan merupakan urusan adat yang terkadang dianjurkan dan terkadang tidak, sehingga hukum asalnya adalah mubah (boleh).” (Al-Qaulul Murid)
  1. Syirik dalam nazar, zakat, dan sedekah:  

Syirik dalam nazar adalah bentuk ibadah yang seseorang diwajibkan atas dirinya. Maka tidak boleh dipersembahkan kepada selain Allah Ta’ala.  

Barang siapa menazarkan sesuatu kepada makhluk, misalnya dengan berkata: “Untuk si Fulan aku bernazar akan bersedekah sekian jika anakku sembuh,” maka para ulama sepakat bahwa ini adalah syirik akbar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam.

  1. Syirik dalam thawaf: 

Thawaf di Ka’bah adalah ibadah fisik yang tidak boleh dipersembahkan kepada selain Allah Ta’ala, dan tidak diperbolehkan thawaf kecuali di Ka’bah yang mulia. Semua ini adalah kesepakatan para ulama.

Maka, barangsiapa thawaf di kuburan nabi, orang saleh, tempat tertentu, atau bahkan di Ka’bah itu sendiri dengan niat untuk mendekatkan diri kepada selain Allah, maka ia telah jatuh dalam syirik akbar berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin.

Wallohu a’lam semoga bermanfaat, baarokallohufikum

Bersambung ke bagian #4

Back to top button