Salah Kaprah Tentang Zuhud

Salah Kaprah Tentang Zuhud

Salah Kaprah Tentang Zuhud

Saudaraku sekalian yang mencintai Sunnah dan dicintai oleh Alloh ‘Azza wa Jalla.
Banyak diantara kita yang telah familiar dengan kata Zuhud, bahkan tidak sedikit saudara-saudara kita yang dengan mudahnya menisbatkan sifat Zuhud tatkala melihat orang lain hidup sederhana. Tapi sayang seribu sayang, belum tentu orang-orang yang berkomentar tentang Zuhud telah paham apa definisi Zuhud yang sebenarnya.

Ketika melihat seseorang dengan pakaian necis, memakai jam mahal, mengendarai mobil mewah, lalu berhenti makan siang di angkringan pinggir jalan, mungkin ada diantara kita yang berkomentar dalam hati, “wah zuhud sekali dia”.
Sebaliknya, ketika didapati petugas kebersihan jalan dengan pakaian dinas serba kuning masuk ke gerai pizza terkenal, memesan salah satu menu termahal, sebagian diantara kita akan mudah berkomentar, “besar pasak daripada tiang, boros sekali dia”.

Zuhud Adalah Amalan Hati

Saudaraku, sejatinya Zuhud terhadap harta benda serta segala gemerlap dunia merupakan amalan hati dan bukan amalan anggota badan atau fisik semata. Mari kita lihat apa yang dikatakan oleh Abu Sulaiman Ad-Daroni rahimahullah:

لَا تَشْهَدْ لِأَحَدٍ بِالزُّهْدِ، فَإِنَّ الزُّهْدَ فِي الْقَلْبِ

Janganlah engkau mempersaksikan bagi seseorang bahwa ia telah berlaku zuhud (secara lahiriah), karena zuhud itu letaknya di hati.”

Beliau juga berkata: “Zuhud adalah meninggalkan berbagai hal yang dapat melalaikan dari mengingat Allah
(Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim Al-Ashbahani 9/258).

Pesan Nabi Agar Kita Mengutamakan Kehidupan Akhirat

Seruan untuk mengutamakan kehidupan akhirat (Zuhud), serta ancaman besar bagi orang yang berambisi mengejar gemerlap dunia, dapat kita resapi pula dari sabda Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Zaid bin Tsabit rodhiallohu‘anhu

مَنْ كانت الدنيا هَمَّهُ فَرَّق الله عليه أمرَهُ وجَعَلَ فَقْرَهُ بين عينيه ولم يَأْتِه من الدنيا إلا ما كُتِبَ له، ومن كانت الآخرةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللهُ له أَمْرَهُ وجَعَلَ غِناه في قَلْبِه وأَتَتْهُ الدنيا وهِيَ راغِمَةٌ

“Barangsiapa yang menjadikan dunia tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup selalu ada di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya.
Dan barangsiapa yang menjadikan akhirat niat tujuan utamanya, maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup ada dalam hatinya, dan (harta benda) dunia akan datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak membuatnya silau)”
(HR Ibnu Majah 4105, Ahmad 5/183, Ad-Daarimi 229 dan lainnya dengan sanad yang shohih)

Beberapa faedah penting dari hadits diatas, diantaranya :

1. Orang yang cinta pada akhirat akan memperoleh rezeki sesuai dengan ketetapan Allah tanpa bersusah payah. Sebaliknya, orang yang terlalu cinta pada dunia, berambisi mengejar dunia, akan memperoleh rezeki dengan susah payah lahir dan batin.
(lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Igaatsatul Lahfaan, 1/37).

2. Dalam kitab yang sama Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rohimahulloh juga berkata, “Orang yang mencintai dunia (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga hal :
Kekalutan (pikiran) yang selalu menyertainya, kepayahan yang tiada henti, dan penyesalan yang tiada berakhir”.
Hal ini karena orang yang mencintai dunia secara berlebihan tidak akan pernah puas dengan apa yang didapatkannya, ia terus ingin mengejar dan menambah target-target baru dalam hidupnya, sebagaimana fitrah manusia yang digambarkan oleh Nabi sholallahu ‘alaihi wassallam,

لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا ، وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

Seandainya manusia diberi dua lembah berisi harta, tentu ia masih menginginkan lembah yang ketiga. Yang bisa memenuhi dalam perut manusia hanyalah tanah. Allah tentu akan menerima taubat bagi siapa saja yang ingin bertaubat”.
(HR Bukhari 6436)

3. Kekayaan yang hakiki adalah kekakayaan dalam hati/jiwa. Rasululah sholallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup”.
(HR Bukhari 6446 dan Muslim 1051)

4. Kebahagiaan hidup di dunia dan keberuntungan di akhirat hanyalah bagi orang yang senantiasa merasa cukup, tidak berambisi pada dunia, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rezeki yang cukup dan Allah menganugerahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezeki yang telah ditetapkan”.
(HR Muslim 1746)

Cara Menanamkan Zuhud Pada Diri

Lalu bagaimana menanamkan Zuhud dalam diri setelah kita memahami definisinya dengan benar? Jawabnya adalah mengamalkan definisi Zuhud dalam kehidupan sehari-hari, baik itu rezeki, amal perbuatan, ataupun kematian.
Ada perkataan menarik dari Hasan Al-Bashri rohimahulloh tentang hal ini yang bisa kita jadikan kiat untuk menggapai Zuhud. Beliau ditanya tentang rahasia sikap Zuhudnya terhadap dunia, maka beliau menjawab bahwa rahasianya ada dalam 4 perkara;

١- علمت أن رزقي لا يأخذه غيري فاطمأن قلبي
٢- وعلمت أن عملي لا يقوم به غيري فاشتغلت به وحدي
٣- وعلمت أن الله مطلع علي فاستحييت أن يراني عاصيا
٤- وعلمت أن الموت ينتظرني فأعددت الزاد للقاء ربي

1. Aku merasa yakin bahwa rezekiku tidak akan diambil oleh orang lain, sehingga hatiku merasa tenang.
2. Aku merasa yakin bahwa amal ibadahku tidak akan dapat digantikan
oleh orang lain, maka aku pun sibuk memperbanyak amalku.
3.
Aku merasa yakin bahwa sesungguhnya Allah senantiasa mengawasi segala gerak-gerikku, maka aku pun merasa malu bila Dia melihatku bermaksiat (kepada-Nya).
4.
Aku juga merasa yakin bahwa kematian itu pasti selalu menungguku, maka aku pun mempersiapkan segala bekal untuk berjumpa dengan Robbku (Allah ta’ala).”

Semoga kita semua dimudahkan untuk tidak salah kaprah dalam memahami Zuhud, bukanlah disebut Zuhud orang yang meninggalkan dunia, bukanlah disebut Zuhud orang yang tidak mengikhtiarkan dunia, tapi yang disebut Zuhud adalah orang yang menjadikan akhirat sebagai prioritas utama walaupun ia masih mengejar dunia.

Semoga artikel yang singkat ini bermanfaat, dan dapat menambah iman dan amal kita semua. Wallahu a’lam.

 

Ditulis oleh:
👤 Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
(Kontributor bimbinganislam.com)



Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI IMAM SYAFI’I Kulliyyatul Hadits, dan Dewan konsultasi Bimbingan Islam,
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS