Pembakaran Bendera Tauhid Yang Menyisakan Kesedihan

Pembakaran Bendera Tauhid Yang Menyisakan Kesedihan

Peristiwa pembakaran bendera tauhid ini patut disayangkan, karena dilakukan oleh orang-orang yang menyatakan diri muslim dan dilakukan dengan cara yang kurang pantas. Maka renungkanlah nasehat ini!

Pembakaran Bendera Tauhid Yang Menyisakan Kesedihan

Ada rasa perih, ada rasa sedih, hati bergetar, air mata pun tak mau tertinggal ingin ikut merasakan kesedihan, melihat pembakaran bendera tauhid yang dilakukan sambil bernyanyi dan berdendang.

Mungkin, mereka menyangka bahwa pembakaran bendera tauhid yang mereka lakukan adalah kebenaran, ingin menyelamatkan bendera tauhid yang tercecer di jalan (kata mereka). Mungkin mereka berfikir apa yang mereka lakukan untuk memusnahkan bendera dan atribut ormas terlarang. Akan tetapi yang menjadi persoalan sekarang ini, umat islam yang melihat video tersebut pasti akan meradang, merasa kesakitan, ingin meneteskan air mata yang tertahan saat melihat kalimat tauhid dibakar dengan bernyanyi dan berdendang. Semoga Allah memudahkan kita menempuh jalan yang terang.

Insiden ini memang memilukan dan patut disesalkan. Alangkah baiknya ada permintaan maaf dari pihak yang bersangkutan, sehingga hati umat islam yang sedang meradang, bisa segera tenang.

Umat Islampun, tidak perlu bersikap yang berlebihan. Apalagi sampai mengatakan bahwa pelakunya telah kafir, dan keluar dari agama islam. Karena ucapan ini sangat berbahaya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:

إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ، فَقَدْ بَاءَ بِهِ أَحَدُهُمَا

“Jika seorang mengatakan kepada saudaranya ‘hai kafir’, maka salah satu dari keduanya telah kafir.” (HR. Al-Bukhari no. 6103 dan Muslim no. 60).

Maksudnya adalah jika apa yang ia ucapkan adalah benar, maka saudaranya memang telah kafir, namun jika ucapannya tersebut salah, tidak benar, maka yang kafir adalah yang mengucapkan. Sehingga kita harus berhati-hati dalam mengucapkan kata tersebut.

Tenang dalam Merespon Segala Informasi

Lalu jika ada informasi, berita semacam ini, hendaknya dikomunikasikan dengan baik, jangan sampai kita malah melakukan aksi yang membuat situasi keamanan menjadi tidak kondusif, ketika api masih kecil, kita segera padamkan, jangan sampai membesar.

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

Dan apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka (langsung) menyiarkannya. (Padahal) apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya (secara resmi) dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kamu).” (QS. An-Nisa : 83).

Penting Mempelajari Tauhid

Kemudian, umat islam harus semangat lagi untuk belajar, untuk mengkaji pelajaran-pelajaran tentang tauhid yang merupakan hak Allah atas seorang hamba. “Wahai Mu’adz, tahukah engkau, apa hak Allah atas hambanya ?” tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu” jawab Muadz radhiyallahu ‘anhu. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hak Allah atas hambanya ialah untuk memurnikan peribadahan kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatupun.” (HR. Al-Bukhari no. 5967 dan Muslim no. 30)

Artinya, kita harus merealisasikan makna kalimat tauhid, kalimat laa ilaaha illallaah yang bermakna: tidak ada tuhan, tidak ada sembahan, yang berhak disembah, yang berhak diibadahi, selain Allah semata.

Mendapat Syafaat Nabi dengan Memahami Kalimat Tauhid

Mari kita lebih giat lagi dalam mempelajari manfaat kalimat tauhid! Yakni sebuah kalimat yang akan menjadi sebab seorang diberi syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan orang yang mengatakannya dengan ikhlas akan menjadi orang yang paling berbahagia ketika mendapatkan syafaat Nabi. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafaat baginda pada hari kiamat kelak?”

Beliau menjawab: “Wahai Abu Hurairah, Aku sudah menyangka tidak akan ada yang mendahuluimu untuk menanyakan hal ini, karena aku sudah melihat bahwa engkau yang paling bersemangat untuk mendapatkan hadits dariku.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan jawabannya,

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ، مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ، أَوْ نَفْسِهِ

Orang yang paling bahagia dengan syafaatku pada hari kiamat kelak adalah siapa yang mengatakan laa ilaaha illallaah (Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah) ikhlas dari lubuk hati terdalam.” (HR. Al-Bukhari no. 99).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Siapa yang akhir ucapannya adalah laa ilaaha illallaah (Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), pasti ia akan masuk surga.” (HR. Abu Dawud 3116 dan dishahihkan oleh syaikh Al-Albani)

Dan disana masih banyak manfaat-manfaat yang lainnya, mari kembali mempelajari tauhid.

https://wikimuslim.or.id/tauhid/

Ditulis Oleh:

Ustadz Ratno, Lc.
(Kontributor Web BimbinganIslam.Com)



Ustadz Ratno, Lc.
Kontributor Bimbingan Islam (BIAS), alumni Universitas Islam Madinah jurusan Hadits
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Ratno حفظه الله 
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS