Konsultasi

Kedudukan Ilmu Duniawi Dalam Syariat Islam

Kedudukan Ilmu Duniawi Dalam Syariat Islam

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan: Kedudukan Ilmu Duniawi Dalam Syariat Islam. Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalammualaikum ustadz, afwan ada pertanyaan dari ana: Bagaimana kedudukan atau pentingnya ilmu duniawi di dalam syariat Islam seperti ilmu kedokteran, matematika, bahasa inggris, science yang mendukung usaha-usaha kita berikhtiar untuk kehidupan dunia? Karena menuntut ilmu-ilmu tersebut yang sedikit kaitannya dengan al-quran dan assunnah, membutuhkan waktu yang banyak

(Ditanyakan oleh Santri Mahad BIAS)


Jawaban:

Waalaikum salam warahmatullah wabarokatuh

Sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama, di dalam memahami kedudukan ilmu umum dalam syariat Islam, terlihat dari hukum mempelajari ilmu umum. Para ulama menyatakan bahwa mempelajari ilmu umum yang dibutuhkan oleh manusia hukum mencarinya adalah fardhu kifayah, artinya dari kaum muslimin dituntut untuk mempelajarinya walaupun tidak setiap individu harus mencarinya. Namun juga harus diperhatikan bahwa hendaknya seorang muslim memprioritaskan ilmu pokok yang harus dipelajari di dalam kehidupannya, sehingga ia menjadi manusia yang tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang hamba untuk beribadah kepada Rabbnya. Menukilkan apa yang di katakana oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin -rahimahullahu Ta’ala- ketika ditanya,”Apakah (mempelajari) ilmu seperti ilmu kedokteran dan industri termasuk tafaqquh fid diin (mempelajari agama Allah Ta’ala)?”

Beliau -rahimahullahu Ta’ala- menjawab,“Ilmu-ilmu tersebut tidaklah termasuk dalam ilmu agama (tafaqquh fid diin). Karena dalam ilmu-ilmu tersebut tidaklah dipelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Akan tetapi, ilmu tersebut termasuk dalam ilmu yang dibutuhkan oleh umat Islam. Oleh karena itu, sebagian ulama berkata,’Sesungguhnya mempelajari ilmu industri (teknologi), kedokteran, teknik, geologi, dan semisal itu, termasuk dalam fardhu kifayah. Bukan karena ilmu-ilmu tersebut termasuk dalam ilmu syar’i, akan tetapi karena tidaklah maslahat bagi umat (Islam) ini bisa terwujud kecuali dengan mempelajari ilmu-ilmu tersebut. Oleh karena itu, aku ingatkan kepada saudara-saudaraku yang sedang mempelajari ilmu-ilmu tersebut agar mereka niatkan untuk dapat memberikan manfaat bagi kaum muslimin dan meningkatkan (derajat) umat Islam.” [Kitaabul ‘Ilmi, 1/125 (Maktabah Syamilah).]

Karenanya bolehnya seseorang untuk menuntut ilmu umum selama kebutuhan ilmu syar`i yang sangat dibutuhkan dirinya untuk beribadah kepada Allah telah dilakukan atau di tengah proses belajar dengannya. Bila memungkinkan untuk bisa fokus, mengejar terlebih dahulu ilmu wajib yang terkait dengan hal hal pokok sehingga kita bisa menjalankan kewajiban dan menjauhi kemaksiatan, maka ini yang terbaik. Karena kita tidak mengetahui sampai kapan kehidupan kita akan terus berlanjut. Bila kesempatan ada, kita tidak memanfaatkannya , padahal sebelumnya kita telah banyak lalai dalam masalah ini, maka bisa jadi kita berdosa bila tidak menjalankannya. Namun bila tidak memungkinkan untuk fokus, karena adanya kewajiban lain yang harus kita penuhi, karena adanya tanggungan keluarga yang juga harus kita penuhi maka lakukan semaksimal mungkin dari kemampuan kita, insyaallah Allah akan berikan keberkahan dan kemudahan dengan apa yang kita lakukan untuk terus memperbaiki kehidupan kita. Namun tetaplah didahulukan dan menjadi prioritas untuk mempelajari agama dengan mem-pending belajar ilmu umum atau bahkan pekerjaan, bila memungkinkan untuk bisa fokus terhadap ilmu agama.

Juga, hendaknya kita sebagai orang tua juga lebih memperhatikan pendidikan anak anak kita untuk mendapatkan hak standar mereka untuk mengenal Allah, Rasulullah dan agama Islam sejak dini. Sehingga nantinya mereka bisa mengejar ilmu lainnya yang sangat di butuhkan oleh umat Islam dan manusia, dari ilmu teknologi, kesehatan, ekonomi dan yang lainnya. Karena Islam tidak menutup dan mengingkari pintu ilmu umum selama di arahkan dan di pergunakan untuk kemaslahatan umat.

Dijawab dengan ringkas oleh:
USTADZ MU’TASIM, Lc. MA. حفظه الله
Selasa, 20 Shafar 1443 H/ 28 September 2021 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله 
klik disini

Baca Juga :  Beginilah Cara Tukar Menukar Emas Agar Tidak Riba

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button