
AL QURAN, PETUNJUK & PENYEMBUH
Allah ta’ala berfirman:
قُلۡ هُوَ لِلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ هُدࣰى وَشِفَاۤءࣱۚ
“Katakanlah, Alquran adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman.” (QS Fushshilat: 44)
Allah sebutkan 2 fungsi Al Qur’an:
1- Sebagai petunjuk, memberikan petunjuk pada kehidupan manusia sehingga ia mendapatkan kesuksesan & kebahagiaan di dunia & akhirat.
2- Sebagai penyembuh, menyembuhkan penyakit manusia baik penyakit hati maupun penyakit fisik dengan cara membacakan nya kepada yang sakit (ruqyah)
Dalam satu hadits disebutkan:
انطَلَقَ نَفَرٌ مِن أصحابِ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم في سَفرةٍ سافَروها، حتَّى نَزَلوا على حَيٍّ مِن أحياءِ العَرَبِ، فاستَضافوهم فأبَوا أن يُضَيِّفوهم، فلُدِغَ سَيِّدُ ذلك الحَيِّ، فسَعَوا له بكُلِّ شَيءٍ، لا يَنفَعُه شَيءٌ، فقال بَعضُهم: لو أتَيتُم هؤلاء الرَّهطَ الذينَ نَزَلوا؛ لَعَلَّه أن يَكونَ عِندَ بَعضِهم شَيءٌ، فأتَوهم، فقالوا: يا أيُّها الرَّهطُ، إنَّ سَيِّدَنا لُدِغَ، وسَعَينا له بكُلِّ شَيءٍ، لا يَنفَعُه؛ فهل عِندَ أحَدٍ مِنكُم مِن شَيءٍ؟ فقال بَعضُهم: نَعَم، واللهِ إنِّي لَأرقي، ولَكِن واللهِ لَقدِ استَضَفناكُم فلَم تُضَيِّفونا، فما أنا براقٍ لَكُم حتَّى تَجعَلوا لَنا جُعلًا، فصالَحوهم على قَطيعٍ مِنَ الغَنَمِ، فانطَلَقَ يَتفِلُ عليه، ويَقرَأُ: (الحَمدُ للهِ رَبِّ العالَمينَ)، فكَأنَّما نُشِطَ مِن عِقالٍ، فانطَلَقَ يَمشي وما به قَلَبةٌ
“Sekelompok sahabat Nabi ﷺ berangkat dalam suatu perjalanan yang mereka tempuh. Hingga mereka singgah pada suatu kabilah dari kabilah-kabilah Arab. Mereka meminta dijamu sebagai tamu, namun penduduk itu enggan menjamu mereka.
Lalu pemimpin kabilah tersebut tersengat (binatang berbisa). Mereka telah berusaha mengobatinya dengan berbagai cara, tetapi tidak berhasil. Sebagian mereka berkata: ‘Seandainya kalian mendatangi rombongan yang singgah itu, mungkin sebagian mereka memiliki sesuatu (yang dapat mengobati).’
Maka mereka pun mendatangi para sahabat dan berkata: ‘Wahai rombongan, sesungguhnya pemimpin kami tersengat. Kami telah berusaha mengobatinya dengan segala sesuatu namun tidak berhasil. Apakah ada di antara kalian yang memiliki sesuatu (untuk mengobati)?’
Sebagian sahabat berkata: ‘Ya, demi Allah, aku bisa meruqyah. Akan tetapi demi Allah, kami telah meminta jamuan kepada kalian namun kalian tidak mau menjamu kami. Karena itu aku tidak akan meruqyah kalian sampai kalian memberikan upah kepada kami.’
Akhirnya mereka sepakat memberi upah berupa sejumlah kambing. Maka sahabat itu pergi, lalu meludah ringan (meniup dengan sedikit ludah) kepadanya sambil membaca, “Alhamdu lillāhi Rabbil-‘ālamīn.” (Surat Al Fatihah).
Maka seakan-akan orang itu baru saja dilepaskan dari ikatan. Ia pun langsung berjalan, dan tidak ada lagi rasa sakit padanya sedikit pun.” (HR Bukhari Muslim)
Karenanya mari kita fungsikan Al Qur’an untuk 2 hal mulia ini, yang telah Allah jelaskan sendiri pada kita.
ORANG YANG TERTUTUP DARI HIDAYAH QURAN
وَٱلَّذِینَ لَا یُؤۡمِنُونَ فِیۤ ءَاذَانِهِمۡ وَقۡرࣱ وَهُوَ عَلَیۡهِمۡ عَمًىۚ
“Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, dan (Alquran) itu merupakan kegelapan bagi mereka.” (QS Fushshilat: 44)
Orang-orang yang kufur, pintu hidayah tertutup dari mereka. Telinga mereka tak mau mendengar Al Qur’an, mata mereka tak mau melihat dan merenungi tanda kebesaran Allah.
Al Baghawi berkata dalam tafsirnya
قَتَادَةُ: عَمُوا عَنِ الْقُرْآنِ وَصُمُّوا عَنْهُ فَلَا يَنْتَفِعُونَ بِهِ،
Qotadah rahimahullah berkata, “Maksudnya buta dari Al Qur’an dan tuli tak mendengarnya. Mereka pun tak bisa mendapatkan manfaat dari Al Qur’an”. (Tafsir Al Baghawi)
DISERU DARI TEMPAT JAUH
Allah menutup ayat ini dengan firmanNya:
أُو۟لَـٰۤىِٕكَ یُنَادَوۡنَ مِن مَّكَانِۭ بَعِیدࣲ
“Mereka itu (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh.” [QS Fuṣṣilat: 44]
Setidaknya Ada 2 Pendapat Ahli Tafsir Tentang Apa Yang Dimaksud Ayat Ini:
1- Mereka tidak bisa mendengar petunjuk seperti orang yang diseru dari jarak jauh.
2- Mereka akan diseru dari jarak jauh di neraka di hari kiamat.
Pendapat pertama di antaranya disebutkan Ibnu Asyur, beliau berkata:
والكَلامُ تَمْثِيلٌ لِحالِ إعْراضِهِمْ عَنِ الدَّعْوَةِ عِنْدَ سَماعِها بِحالِ مَن يُنادى مِن مَكانٍ بَعِيدٍ لا يَبْلُغُ إلَيْهِ في مِثْلِهِ صَوْتُ المُنادِي عَلى نَحْوِ قَوْلِهِ تَعالى ﴿ومَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِما لا يَسْمَعُ﴾ [البقرة: ١٧١] كَما تَقَدَّمَ في سُورَةِ البَقَرَةِ. وتَقُولُ العَرَبُ لِمَن لا يَفْهَمُ: أنْتَ تُنادى مِن مَكانٍ بَعِيدٍ.
“Ucapan ini merupakan perumpamaan tentang keadaan mereka yang berpaling dari dakwah ketika mendengarnya. Keadaan mereka diserupakan dengan orang yang dipanggil dari tempat yang sangat jauh, sehingga suara orang yang memanggil tidak sampai kepadanya.
Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:
﴿وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لَا يَسْمَعُ﴾
‘Perumpamaan orang-orang kafir adalah seperti orang yang berteriak kepada sesuatu yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan semata.’ (Al-Baqarah: 171)
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dalam Surah Al-Baqarah.
Orang Arab juga mengatakan kepada seseorang yang tidak memahami suatu pembicaraan: ‘Engkau seperti dipanggil dari tempat yang jauh.’ Maksudnya, ia tidak memahami dan tidak menangkap apa yang disampaikan kepadanya.” (At Tahrir wat Tanwir)
Buya Hamka rahimahullah juga berkata menafsirkan bagian ayat ini, “Sebab itu sangatlah susahnya akan terdengar olehnya pengajaran. Sebab tempatnya terlalu jauh, tidak didengarnya walau bagus bagaimanapun pengajaran yang akan disampaikan kepadanya.” (Tafsir Al Azhar)
Adapun pendapat kedua adalah pendapat yang disebutkan Ath Thabari dalam salah satu pendapat. Beliau rahimahullah berkata:
وقال آخرون: بل معنى ذلك: إنهم ينادون يوم القيامة من مكان بعيد منهم بأشنع أسمائهم.
ذكر من قال ذلك: حدثنا ابن بشار، قال: ثنا أبو أحمد، قال: ثنا سفيان، عن أجلح، عن الضحاك بن مزاحم ﴿أُولَئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ﴾ قال: ينادَى الرجل بأشنع اسمه.
“Sebagian ulama yang lain berkata: Makna ayat tersebut adalah bahwa mereka pada hari Kiamat akan dipanggil dari tempat yang jauh dengan seburuk-buruk nama yang mereka miliki. Riwayat yang menyebutkan hal itu:
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Basyyar, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ajlah, dari Adh-Dhahhak bin Muzahim tentang firman Allah:
﴿أُولَئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ﴾
Beliau berkata:
“Seorang laki-laki akan dipanggil dengan nama yang paling buruk (atau julukan yang paling hina) yang dimilikinya.” (Tafsir Ath Thabari)
Pendapat kedua ini juga sejalan dengan firman Allah ta’ala
{ إِذَا رَأَتۡهُم مِّن مَّكَانِۭ بَعِیدࣲ سَمِعُوا۟ لَهَا تَغَیُّظࣰا وَزَفِیرࣰا }
“Apabila ia (neraka) melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar suaranya yang gemuruh karena marahnya.” [QS Al-Furqān: 12]
Tidak tertutup kemungkinan juga bahwa kedua pendapat adalah benar. Mereka di dunia sulit menerima hidayah seperti orang yang diseru dari tempat yang jauh dan mereka di akhirat akan dipanggil dengan buruk di neraka, wallahu a’lam.
Demikian penjelasan ringkas QS Fushshilat ayat ke 44 ini. Semoga Allah jadikan kita Ahlul Quran yang tunduk pada kebenaran yang disampaikan oleh Allah & RasulNya.
Wallohu a’lam
Ditulis oleh ustadz Amrullah Akadhinta S.T.