Artikel

Cara Menghadapi Orang Tua Narsistik (NPD) Tanpa Menyakiti Diri Sendiri?

Pertanyaan : Assalamu’alaikum ustadz, izin bertanya. Alhamdulillah saya memiliki kedua orang tua yang masih hidup, hanya saja ibu saya NPD (c). Kebetulan saya merantau jauh dari orang tua. Sebenarnya kadang hati saya ingin mendekat ke orang tua, tetapi kadang atau sering kali obrolan yang awalannya baik baik ketika telepon atau video call malah berubah menyakiti hati saya. Sering kali ketika mau mudik ke kampung halaman rasanya bukan mau pulang ke rumah yang dirindukan tetapi serasa mau berangkat perang, karena jujur pikiran saya berisik menyiapkan 1001 jawaban yang akan dilontarkan ke saya dan cara menjawabnya dengan tegas tapi sopan. Akhirnya saya lebih sering memilih tidak pulang dan memantau dari jauh saja. Kira-kira apa yang harus saya lakukan ustad?.

Jawaban : وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته, بسم الله، الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله أما بعد

Berbakti Tanpa Hancur: Menghadapi Orang Tua yang Menyakitkan Hati

Tidak semua orang diuji dengan kekurangan harta, sebagian diuji dengan kesehatan, dan sebagian lainnya diuji dengan hubungan paling dekat dalam hidupnya: orang tua.

Ada anak yang sangat ingin dekat dengan ibunya, ingin pulang dengan perasaan hangat, namun yang terjadi justru sebaliknya. Percakapan yang awalnya baik berubah menjadi luka. Kata-kata yang keluar bukan menenangkan, tapi menyakitkan. Hingga akhirnya, pulang ke rumah terasa bukan seperti pulang melainkan seperti bersiap menghadapi pertempuran.

Jika anti berada di posisi ini, ketahuilah: Anti tidak sendirian. Dan Islam tidak menutup mata terhadap kondisi seperti ini.

Dalam Islam, berbakti kepada orang tua adalah kewajiban besar. Allah ﷻ berfirman:

‎وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Baqarah: 83)

Namun, berbakti bukan berarti; harus selalu menurut dalam segala hal, harus menerima semua perlakuan, termasuk yang menyakitkan

Allah juga berfirman:

‎فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

“Jangan taati (dalam keburukan), tetapi tetap pergauli keduanya dengan cara yang baik.” (QS. Luqman: 15)

Ayat ini mengajarkan keseimbangan:

tidak semua perkara harus ditaati tapi ada yang tidak ditaati dan bahkan haram untuk ditaati seperti kesyirikan, kekufuran, dan kemaksiatan, akan tetapi tetap harus diperlakukan dengan baik

Dalam beberapa kasus, orang tua memiliki karakter yang sulit bahkan ada yang memiliki kecenderungan seperti narsistik (NPD):

  • Sulit menerima kesalahan
  • Mudah menyalahkan
  • Minim empati
  • Sering melukai dengan ucapan

Sebagai anak, kita perlu memahami bahwa ini adalah ujian dari Allah, tapi tidak berarti membenarkan sikap yang salah.

Memahami hal ini membantu kita untuk tidak terus berharap sesuatu yang tidak realistis, sehingga hati lebih terjaga dan bisa bersikap dengan baik.

Strategi Menghadapi kejadian ini dengan Bijak Menghadapi orang tua yang sering melukai membutuhkan strategi, bukan sekadar emosi.

  1. Batasi Interaksi Secara Sehat

Tidak semua komunikasi harus panjang.

Jika mulai menyakitkan, bisa dicukupkan terlebih dahulu.

  1. Gunakan Jawaban Netral

Tidak semua ucapan orang tua perlu dilawan atau divalidasi tapi bisa anti jawab dengan jawaban yang netral saja seperti :

  • “Iya bu, nanti saya pikirkan ya”
  • “Baik bu, terima kasih masukannya”

Ini menjaga adab anti kepada ibu tanpa memperkeruh keadaan yang anti juga sudah tahu.

  1. Hindari Topik Sensitif

Hal ini juga penting untuk anti kendalikan kadang konflik tersebut terjadi karena kita yang tidak sengaja memancing hal tersebut maka butuh kenali pola konflik, lalu hindari topik yang memicunya.

  1. Berani Memberi Jeda

Jika anti sudah merasa ada api gesekan maka anti bisa minta waktu untuk bahas di kesempatan yang lain, dan boleh berkata:

“Bu, maaf saya lagi kurang enak badan (atau katakan lagi pusing), kita lanjut lain waktu ya.”

Ini yang dilakukan anti bukan melawan, tapi menjaga diri dengan adab.

Ketika anti pulang Terasa Berat

Perasaan “seperti mau perang” saat pulang adalah hal yang wajar, karena: sering merasa hati terluka, dan pikiran mencoba melindungi diri dari serangan tersebut.

Solusi yang bisa ana (saya) tawarkan itu;

  • Turunkan ekspektasi anti 
  • Jangan berharap suasana ideal dari orang tua
  • Niatkan pulang sebagai ibadah, bukan mencari kenyamanan

Dengan begitu, in syaa Allah hati lebih siap dan tidak mudah kecewa.

Penutup: Ujian yang Mengangkat Derajat

Berbakti kepada orang tua yang lembut itu mudah. Namun berbakti kepada orang tua yang sering menyakiti itu luar biasa berat. Dan justru di situlah nilai besar di sisi Allah.

Allah ﷻ berfirman:

‎إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberi pahala tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya balasan terbesar adalah dari ujian terberat. Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Barangsiapa ridho, maka Allah pun ridho. Dan barangsiapa murka, maka baginya murka Allah.” (HR. Tirmidzi, beliau katakana hadits ini hasan ghorib)

Dan setiap kesabaran yang anti lakukan tidak pernah sia-sia di sisi Allah. Semoga Allah memudahkan urusan anti dan juga urusan kaum muslimin.

Wallohu a’lam

Dijawab ringkas oleh ustadz: Muhammad Fikri Al-Hilabi, S.Ag., M.Ag. 

Back to top button