Ziarah Kubur Bagi Wanita

Ziarah Kubur Bagi Wanita

Pertanyaan :

 

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya apakah benar seorang wanita tidak boleh ziarah kubur? dan apakah benar wanita tidak boleh mengiringi jenazah ke kuburan?

Syukron, Ustadz

(Dari Eny Siswanto di Singapura Anggota Grup WA Bimbingan Islam T04).

Jawaban :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Kedua masalah yang ditanyakan ini diperselisihkan hukumnya oleh para ulama. Pendapat yang benar bahwa ziarah kubur bagi wanita yang terlarang adalah ketika ia SERING sekali berziarah, ketika itulah ziarah menjadi HARAM. Namun jika hanya SESEKALI maka DIPERBOLEHKAN. Sedang mengiringi jenazah bagi wanita hukumnya makruh, jika ia tinggalkan maka baginya pahala, dan jika ia lakukan ia tidak mendapatkan dosa.

Para ulama yang berpendapat ziarah kubur haram bagi wanita berdalil dengan riwayat sebagai berikut :

لَعَنَ اللّهُ زَوَّارَاتِ الْقُبُوْرِ

Allah melaknat para wanita yang sering mendatangi kubur”.

(HR. Ibnu Majah : 1641, Tirmidzi : 1076, dan Ahmad : 8904. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ahkamul Janaiz : 235).

Pendalilan dengan ayat ini kurang tepat karena yang dilaknat oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah para wanita yang sering melakukan ziarah kubur. Ini dibuktikan dengan lafadz Zawwaroot dengan Sighah Mubalaghah/mengandung makna sangat artinya tukang ziarah kubur, dan inilah yang dilaknat. Adapun jika dilakukan sesekali maka boleh.

Adapun hadits yang menyatakan laknat bagi kaum wanita yang menziarahi kubur dengan lafadz Zaairoot/wanita yang berziarah, alias tidak sering, dengan redaksi berikut :

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَائِرَاتِ الْقُبُوْرِ

Ini adalah hadits yang dha’if/lemah, karena di dalam sanadnya terdapat seseorang bernama Abu Shalih, yang nama lainnya adalah Badzam. Sebagaimana dijelaskan panjang lebar oleh Imam Al-Albani didalam Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah : 225.

Di sisi lain justru Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa ziarah kubur kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menjadi indikasi kuat beliau mengijinkan wanita untuk berziarah kubur (tentu dengan intensitas rendah sebagaimana keterangan yang lalu).

Berikut redaksi doa yang beliau ajarkan :

 

السَّلاَمُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَيَرْحَمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَلاَحِقُونَ

“Assalamu’alaikum (semoga kesejahteraan atas kalian) wahai penghuni kubur, dari kaum mu’minin dan kaum muslimin. Semoga Allah merahmati orang-orang yang datang lebih dahulu maupun yang datang belakangan di antara kalian Sesungguhnya kami, insya Allah akan menyusul kalian. Kami memohon kepada Allah keselamatan untuk kami dan kalian” (HR. Muslim no. 974)

Adapun dalil yang dipakai oleh sebagian ulama yang melarang wanita dari mengiringi jenazah adalah riwayat Ummu Athiyyah sebagai berikut :

 

نُهِينَا عَنِ اتِّبَاعِ الْجَنَائِزِ ، وَلَمْ يُعْزَمْ عَلَيْنَا

“Kita dilarang untuk mengikuti jenazah (ke pemakaman), namun beliau tidak bersungguh-sungguh (dalam melarang)”. (HR. Bukhari : 1278 dan Muslim : 938).

Imam Ibnu Bathal mengatakan :

وروى جواز اتباع النساء الجنازة عن ابن عباس، والقاسم، وسالم، وعن الزهرى، وربيعة، وأبى الزناد مثله، ورخص مالك فى ذلك، وقال: قد خرج النساء قديمًا فى الجنائز، وخرجت أسماء تقود فرس الزبير، وهى حامل، وقال: ما أرى بخروجهن بأسًا إلا فى الأمر المستنكر

“Dan diriwayatkan kebolehan wanita mengiringi jenazah dari Ibnu Abbas, Al-Qasim, Salim, dan dari Az-Zuhri, Rabi’ah, Abu Zinad dan yang selainnya. Dan Imam Malik memberikan keringanan dalamhal itu beliau berkata : ‘Dan para wanita di masa lampau keluar untuk mengiringi jenazah, Asma’ keluar menuntun kudanya Zubair dalam keadaan hamil’. Beliau berkata lagi ; ‘Dan aku tidak melihat adanya masalah dengan keluarnya mereka ini kecuali dalam hal-hal yang diingkari”. (Syarah Shahih Bukahri Libni Batahl : 3/367).

 

Imam Ibnu Qudamah juga berkata :

 

ويكره اتباع النساء الجنائز لما روي عن أم عطية قالت: نهينا عن اتباع الجنائز ولم يعزم علينا. متفق عليه، وكره ذلك ابن مسعود وابن عمر وأبو أمامة وعائشة ومسروق والحسن والنخعي والأوزاعي وإسحاق.

 

“Makruh hukumnya bagi wanita untuk mengiringi jenazah berdasarkan apa yang diriwayatkan dari Ummu Athiyyah ia berkata ; ‘Kami dilarang dari mengiringi jenazah dan beliau tidak bersungguh-sungguh’ (HR Bukhari-Muslim). Ibnu Mas’ud juga memakruhkannya demikian pula Ibnu Umar, Abu Umamah, ‘Aisyah, Masruq, Hasan, An-Nakha’i, Al-Auza’i, dan juga Ishaq.” (Al-Mughni : 2/356).

 

Wallahu a’lam

 

Konsultasi Bimbingan Islam

Ustadz Abul Aswad Al Bayati

CATEGORIES
Share This

COMMENTS