Zakat Penghasilan 2,5% Bolehkah Dibayar Dengan Wakaf?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang zakat penghasilan 2,5% bolehkah dibayar dengan wakaf?
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga ustadz selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ustadz, ada pertanyaan dari teman. Beliau bertanya misalnya zakat gaji/penghasilan sebesar 2,5% yang sebagian itu diwujudkan wakaf Al Qur’an boleh tidak?

Tanya Jawab AISHAH – akademi shalihah
(Disampaikan Oleh Fulanah – SahabatAISHAH)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Alhamdulillāh wa shalātu wa salāmu ‘alā rasūlillāh.

Pertama, harta yang dimiliki wajib dikeluarkan zakatnya jika telah terpenuhi dua syarat, yaitu:
– Mencapai nishabnya (kadar minimal wajib zakat).
– Nishab tersebut telah berlalu satu tahun (tahun hijriyyah).

Baca Juga:  Dalil Keutamaan 10 Ayat Pertama Dan Terakhir Surat Al Kahfi

Dua syarat tersebut telah menjadi kesepakatan ulama kaum muslimin. Imam Nawawi berkata :

زكاةُ الماشية والنَّقْد والتِّجارة، فلا يجوز تعجيلُ الزَّكاة فيه قبل مِلْك النِّصاب، بلا خلافٍ

“Zakat hewan ternak, harta dan perdagangan tidak boleh disegerakan sebelum mencapai nishab, tanpa ada perselisihan di kalangan ulama”.
(Al – Majmu’ 6/146).

Ibnul Mundzir berkata:

وأجمعوا على أنَّ المالَ إذا حال عليه الحَوْلُ أنَّ الزَّكاةَ تجب فيه

“Para ulama telah bersepakat bahwa harta (yang telah mencapai nishab) jika telah berlalu satu tahun, wajib dizakati.”
(Al – ijma’ hal. 47).

Oleh karenanya, ketika seseorang mendapatkan gaji di awal bulan, maka tidak ada kewajiban zakat pada harta tersebut.
Lalu jika harta simpanannya telah mencapai nishab (dianalogikan dengan nishab emas, yaitu : seharga 85 gr emas murni), dan telah berlalu satu tahun hijriyyah, barulah dia wajib mengeluarkan zakatnya.

BACA JUGA
Baca Juga:  Membaca Surat Yasin Pada Mayit

Kedua, zakat dan wakaf adalah dua hal yang berbeda. Zakat adalah kewajiban pada harta seorang muslim yang dikeluarkan kepada golongan orang yang telah ditentukan oleh dalam firman-Nya:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.
(QS. At Taubah: 60).

Sehingga tidak boleh memalingkan harta zakat menjadi wakaf.

Baca Juga:  Hukum Memberi Kado Ulang Tahun

Wallahu a’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
Kamis, 02 Jumadil Ula 1442 H / 17 Desember 2020 M



Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini