Wasilah dan Hukum Menyebut Nama Wali Dalam Doa bimbingan islam
Wasilah dan Hukum Menyebut Nama Wali Dalam Doa bimbingan islam

Wasilah dan Hukum Menyebut Nama Wali Dalam Doa

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki adab dan akhlak yang luhur berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang wasilah dan hukum menyebut nama wali dalam doa.
Silahkan membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah Azza wa Jalla selalu menjaga Ustadz & keluarga.

Ustadz izin bertanya.
Kemarin sempat terjadi perbincangan dengan ibu dan kakak terkait berdoa dengan menyebut shalawat sebelum berdoa dan menyebutkan para syaikh yang sudah meninggal seperti contohnya (Syaikh Abdul Qadir Jailany) dan wali Allah yang lain.
Saat itu saya hanya menjawab bahwa membaca shalawat sebelum berdoa masih boleh asalkan niat doanya bukan meminta kepada Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam tapi tetap meminta hanya kepada Allah karena berdoa kepada Allah tidak memerlukan perantara. Kalo kita mendoakan orang yang sudah meninggal itu boleh, tapi kalo menyebut orang yang sudah meninggal agar mereka mendoakan kita itu yang ngga boleh karena orang yang sudah meninggal sehebat apapun dia sudah tidak bisa membantu apapun kepada kita yang masih hidup.
Kemudian kakak menyambung jawaban saya dengan kalimat semacam ini “ya nggak gitu, mereka kan waliyullah yang kita harapkan keberkahannya, doa dari banyak orang ke mereka sudah banyak sehingga kita berharap luberan berkahnya sampai ke kita”.
Saya mendengar itu hanya bisa diam ustadz dan berdoa saja dalam hati semoga Allah berikan petunjuk kepada mereka.
Yang mau saya tanyakan, apakah jawaban awal saya tadi salah?
Jika salah mohon pencerahannya ustadz, namun jika benar mohon saran bagaimana caranya untuk meluruskan pemahaman orang tua dan kakak yang masih seperti itu dan mohon doanya ustadz.

Jazaakumullaahu khayran

(Disampaikan oleh Fulanah, Member grup WA BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du

Bersholawat kepada rasulullah ﷺ merupakan adab dalam berdoa, yang bisa menambah persentase kemungkinan doa dikabulkan oleh Allah ﷻ, rasulullah ﷺ bersabda:

إذا صلى أحدكم فليبدأ بتمجيد ربه جل وعز والثناء عليه ، ثم يصلي على النبي صلى الله عليه وسلم ، ثم يدعو بعد بما شاء

“Apabila salah seorang dari kalian berdoa, hendaknya dia memulai dengan memuji Rabbnya, kemudian bersholawat kepada nabi Muhammad ﷺ, kemudian barulah dia berdoa apapun yang dia inginkan.”
(HR. Abu Dawud : 1481).

Menyebut Nama Wali Dalam Doa

Adapun permasalahan menyebutkan nama wali dalam doa, ada dua kemungkinan:

1. Menjadikan wali sebagai wasilah/perantara dalam doa, namun doa tetap ditujukan kepada Allah ﷻ.

Para ulama mengatakan hukum doa seperti adalah bid’ah, karena para salaf dahulu yang mana mereka adalah orang paling semangat dalam beribadah kepada Allah ﷻ tidak pernah menjadikan orang-orang sholih diantara mereka yang telah meninggal untuk menjadi wasilah dalam doa mereka bahkan rasulullah ﷺ pun tidak.

Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa umar bin khattab pernah berwasilah dengan doa Abbas paman rasulullah ﷺ agar Allah ﷻ menurunkan hujan, setelah beliau ﷺ wafat.
(HR. Bukhari 1010).

Mengapa Umar tidak bertawassul langsung dengan rasulullah ﷺ?
Padahal para sahabat adalah orang yang paling menaggungkan rasulullah ﷺ. Tidak mungkin para sahabat mengira Abbas lebih bisa mendatangkan rahmat Allah daripada rasulullah ﷺ.

2. Jika yang dimaksud adalah meminta kepada mayat orang shalih secara langsung, agar orang shalih tersebut mau menyampaikan doa mereka kepada Allah, maka ini adalah syirik besar, karena doa merupakan ibadah yang tidak boleh ditujukan kepada selain Allah.

Dan mayat yang berada di dalam kuburan tidak sanggup melakukan apa yang diminta. Allah berfirman menceritakan perbuatan orang musyrikin :

وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلْفَىٰٓ

“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”.
(QS. Azzumar : 3).

Dan perkataan ini persis dengan apa yang dikatakan oleh orang – orang sekarang.
“wali itu orang suci, supaya kita dapat berkah, lebih dekat dengan Allah”.

Adapun cara menasihati keluarga adalah pilihlah cara terbaik. Bagaimana cara terbaik? Andalah yang paling paham bagaiamana menasihati keluarga anda dengan cara terbaik.

Wallahu a’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
Selasa, 20 Muharram 1442 H / 08 September 2020 M



Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini