Umum

Vaksin Menurut Quran dan Hadits

Vaksin Menurut Quran dan Hadits

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan Vaksin Menurut Quran dan Hadits, selamat membaca.


Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ustadz, apa hukumnya vaksin menurut quran dan hadits? Terima kasih atas jawabannya

جزاك الله خيرا

(Dari Fulanah Anggota Grup Whatsapp Sahabat BiAS)


Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Pertanyaan serupa pernah ditanyakan kepada MUI dan jawaban berujung kepada status kehalalal Vaksin tersebut. Jika vaksin tidak mengandung unsur-unsur haram maka tidak mengapa mengambil vaksin dalam rangka untuk menjaga kesehatan dan keselamatan. Berikut redaksi fatwa MUI yang kami maksudkan:

Ajaran Islam sangat mendorong umatnya untuk senantiasa menjaga kesehatan, yang dalam praktiknya dapat dilakukan melalui upaya preventif agar tidak terkena penyakit, dan di antara upaya preventif tersebut adalah dengan cara imunisasi.

Sedangkan vaksinasi adalah termasuk dalam imunisasi aktif sebagai upaya memicu tubuh mengeluarkan antibodi terhadap penyakit tertentu.

Tentang masalah imunisasi, MUI telah menetapkan Fatwa Nomor 4 Tahun 2016. Berikut ini adalah isi dari fatwa tersebut:

  1. Imunisasi pada dasarnya dibolehkan (mubah) sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh (imunitas) dan mencegah terjadinya suatu penyakit tertentu
  2. Vaksin untuk imunisasi wajib menggunakan vaksin yang halal dan suci
  3. Penggunaan vaksin imunisasi yang berbahan haram dan/atau najis hukumnya haram
  4. Imunisasi dengan vaksin yang haram dan/atau najis tidak dibolehkan kecuali:
    1. digunakan pada kondisi al-darurat atau al-hajat;
    2. belum ditemukan bahan vaksin yang halal dan suci; dan
    3. adanya keterangan tenaga medis yang kompeten dan dipercaya bahwa tidak ada vaksin yang halal.
  5. Dalam hal jika seseorang yang tidak diimunisasi akan menyebabkan kematian, penyakit berat, atau kecacatan permanen yang mengancam jiwa, berdasarkan pertimbangan ahli yang kompeten dan dipercaya, maka imunisasi hukumnya wajib.
  6. Imunisasi tidak boleh dilakukan jika berdasarkan pertimbangan ahli yang kompeten dan dipercaya, menimbulkan dampak yang membahayakan (dharar).

Terima kasih. Salam sehat sukses berkah selalu.

Jakarta, 21 Agustus 2021

Wallahu a’lam

Dijawab oleh:
Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA. حفظه الله
Senin, 11 Rabiul Awal 1443 H/ 18 Oktober 2021 M


Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumni MEDIU, dai asal klaten
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله klik disini

Baca Juga :  Hukum Membotaki Rambut Bagi Wanita yang Berketombe Banyak

Ustadz Abul Aswad Al Bayati, BA.

Beliau adalah Alumni S1 MEDIU Aqidah 2008 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Dauroh Malang tahunan dari 2013 – sekarang, Dauroh Solo tahunan dari 2014 – sekarang | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Koordinator Relawan Brigas, Pengisi Kajian Islam Bahasa Berbahasa Jawa di Al Iman TV

Related Articles

Back to top button