Upah Jasa Bekham dibolehkan

Upah Jasa Bekham dibolehkan

UPAH JASA BEKHAM DIBOLEHKAN

Pertanyaan

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ustadz, saya pernah mendengar bahwa pendapatan usaha bekam itu seburuk – buruknya pendapatan.
Anak saya ahli bekam tapi tidak menentukan tarif, seikhlasnya saja.. dibayar atau pun tidak.
Bagaimana yang demikian, Ustadz ?

جَزَاكَ الله خَيْرًا

(Fulanah, SAHABAT BiAS T07)

Jawaban

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Menerima upah bekam diperbolehkan, asal tidak menentukan tarif menurut pendapat jumhur atau mayoritas ulama‘. Dalilnya sangat banyak dan beragam. Diantaranya pernyataan Ibnu Abbas radhiyallahu anhu sebagai berikut :

“Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah berbekam dan beliau memberi upah padaorang yang membekam. Seandainya upah bekam itu haram, tentu beliau tidak akan memberikan padanya.”

(HR Bukhari : 2103, Muslim : 1202).

Adapun sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang menyatakan :

ثمن الكلب خبيث. ومهر البغي خبيث. وكسب الحجام خبيث

“Hasil jual beli anjing adalah keji, hasil usaha pezina adalah keji, dan upah tukang bekam juga keji”

(HR Muslim : 1568).

Maka disebutkan oleh sebagian ulama kita bahwa tidak setiap perkara yang disebut khabits itu lantas otomatis menjadi haram. Imam Ibnu Utsaimin menyatakan :

كسب الحجام خبيث ” ، يعني : أجرة الحجام التي يكتسبها من حجامته خبيثة ، الخبيث يطلق على الحرام ، ويطلق على الرديئ ، ويطلق على المكروه الذي تكرهه النفوس ؛
فمن إطلاقه على الحرام قوله تعالى : { ويحل لهم الطيبات ويحرم عليهم الخبائث } [الأعراف : 157]، إذا يحرم المحرمات ، فالخبيث هنا المحرم ؛ ومن إطلاقه على الردي قوله تعالى : { ولا تيمموا الخبيث منه } [ البقرة 267]، الخبيث يعني : الرديئ ؛

“Upah bekam itu keji, maknanya upah yang diterima oleh tukang bekam dari aktifitas bekam adalah khabits/keji. Khabits/keji kadang maknanya haram, kadang maknanya buruk, kadang maknanya makruh yang dibenci oleh jiwa.

Diantara khabits bermakna haram sebagaimana dalam ayat : “dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang *khabits*” (QS Al-A’raf : 157) makna khabits di sini adalah haram.

Diantara khabits bermakna buruk (tidak haram) sebagaimana dalam firman Allah : “Dan janganlah kamu memilih yang khabits lalu kamu menafkahkan daripadanya” (QS Al-Baqarah : 267) khabits di ayat ini maknanya buruk.

(Syarah Bulughul Maram kaset no. 33 side A).

Kemudian pernyataan yang mengatakan bekam disebutkan bersama dengan uang zina dan uang anjing berati statusnya sama. Inipun tidak benar karena anjing ada dalil khusus yang mengharamkannya, demikian pula dengan zina.

Oleh karenanya mayoritas ulama menggabungkan dua riwayat tersebut di atas, dengan menyatakan bahwa larangan dari upah bekam itu sifatnya Lit Tanzih (makruh saja) dan ia menjadi boleh jika memang tidak ditentukan tarifnya.

Imam Shidiq Hasan Khan rahimahullah berkata :

وذهب الجمهور إلى أنه حلال لحديث أنس في الصحيحين وغيرهما “أن النبي صلى الله عليه وسلم إحتجم حجمه أبو طيبة وأعطاه صاعين من طعام…….. والأولى الجمع بين الأحاديث بأن كسب الحجام مكروه غير حرام

“Jumhur ulama berpendapat tentang halalnya upah tukang bekam adalah halal berdasarkan hadits Anas yang terdapat dalam Shahihain dan yang lainnya : ‘Bahwasannya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah berbekam, lalu beliau dibekam oleh Abu Thayyibah. Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam memberinya upah dua shaa’ bahan makanan. Dan yang lebih utama adalah penggabungan di antara hadits-hadits (yang melarang dan yang memperbolehkan), bahwa upah bagi tukang bekam adalah makruh, tidak sampai pada derajat haram”

(Raudlatun Nadiyyah : 2/132).

Demikian pula Imam An-Nawawi menyatakan hal serupa :

هذه الأحاديث التي في النهي على التنزيه والارتفاع عن دنيء الأكساب والحثِّ على مكارم الأخلاق ومعالي الأمور، ولو كان حراما لم يفرِّق فيه بين الحر والعبد، فإنه لا يجوز للسيد أن يُطعم عبده ما لا يحِلُّ

“Hadits-hadits ini yang berisi larangan dibawa kepada makna tanzih/makruh dan anjuran untuk mengentaskan diri dari pekerjaan yang rendah serta anjuran untuk ber-akhlaq mulia serta perilaku mulia. Seandainya bekam itu haram, niscaya beliau tidak akan membedakan antara budak dan orang merdeka. Karena seorang tuan tidak boleh memberi makan yang tidak halal kepada budaknya.”

(Syarah Shahih Muslim : 1/233).

Maka dari itu memahami larangan bekam dengan sesuatu yang makruh saja dan tidak mencapai derajat keharaman merupakan pendapat yang benar dalam masalah ini sebagai bentuk penggabungan dari dua jenis dalil yang ada.

Wallahu A’lam
Wabillahit Taufiq

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Abul Aswad Al Bayati حفظه الله

Tanya Jawab Grup
WA Bimbingan Islam T07
Rabu, 18 Jumadal Akhir 1439 H / 07 Maret 2018 M

CATEGORIES
Share This

COMMENTS