hotMuamalah

Untung 2 Kali Lipat, Bolehkah?

Untung 2 Kali Lipat, Bolehkah?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan pembahasan tentang untung 2 kali lipat, bolehkah? Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalaamu’alaikum ana mau bertanya, apa hukum ana menaikan harga, (ana menjualkan barang orang dan diberi ijin untuk menaikkannya) misalnya harga pasaran 2.000.000 dan ana naikkan menjadi 2.200.000 apakah ana berdosa?

Karena ana pernah mendengar bahwa bedakan antara keuntungan lebih dari 100% dengan harga pasar. Maka mohon penjelasannya ustadz. Jazaakallaahu khairan katsiira.

(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban:

Waalaikumsalam warahmatullah wabarokatuh

Dipahami dari pertanyaan Anda, bahwa posisi Anda adalah wakil dari pemilik barang, dan memberikan kebebasan/perwakilan dalam masalah harga, sehingga dalam posisi tersebut Anda diperbolehkan untuk menaikkan harga penjualan dan tidak menyelisihi dari orang yang telah mewakilkan barang.

Ibnu Abbas mengatakan,

لا بَأْسَ أَنْ يَقُولَ : بِعْ هَذَا الثَّوْبَ فَمَا زَادَ عَلَى كَذَا وَكَذَا فَهُوَ لَكَ

Tidak masalah pemilik barang mengatakan, “Jualkan kain ini. Jika laku lebih dari sekian, selisihnya milik kamu.”

Ibnu Sirin juga mengatakan,

Baca Juga:  Hukum Gaji Dari Perusahaan Non Muslim

إِذَا قَالَ بِعْهُ بِكَذَا فَمَا كَانَ مِنْ رِبْحٍ فَهُوَ لَكَ ، أَوْ بَيْنِي وَبَيْنَكَ فَلَا بَأْسَ بِهِ

Tidak masalah jika pemilik barang mengatakan, “Jualkan dengan harga sekian. Nanti keuntungannya milik kamu. Atau keuntungannya kita bagi.” (Shahih Bukhari, 3/92).

Ibnu Qudamah mengatakan,

إذا قال: بع هذا الثوب بعشرة فما زاد عليها فهو لك: صح، واستحق الزيادة، لأن ابن عباس كان لا يرى بذلك بأساً، ولأنه يتصرف في ماله بإذنه، فصح شرط الربح له في كالمضارب والعامل في المساقاة

Ketika pemilik barang mengatakan, jualkan kain ini dari saya 10 dirham, jika laku lebih, itu milik kamu, maka akadnya sah, dan makelar berhak mendapatkan tambahan itu. Karena menurut Ibnu Abbas itu dibolehkan, dan makelar melakukan transaksi terhadap barang orang ini, atas izinnya. Sehingga sah adanya kesepakatan pembagian keuntungan menjadi miliknya, seperti mudharib dan amil dalam akad musaqah. (al-Mughni, 5/108).

Apakah menaikkan harga dari harga pasar tidak diperbolehkan?

Imam asy-Syâfi’i rahimahullah menyatakan, “Semua orang berkuasa atas harta mereka dan tidak boleh ada orang lain mengambilnya atau mengambil sebagiannya tanpa ada keridhaan dari si pemilik kecuali dalam beberapa keadaan yang menyebabkan hartanya harus diambil dan ini bukan darinya.[Thuruq al-Hukmiyah, Ibnu al-Qayyim, hlm. 300

Sedangkan dari sunah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hadits Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu yang berbunyi:

غَلَا السِّعْرُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ سَعِّرْ لَنَا فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّزَّاقُ وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَلْقَى رَبِّي وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يَطْلُبُنِي بِمَظْلِمَةٍ فِي دَمٍ وَلَا مَالٍ

Harga-harga barang mahal di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mereka berkata, ‘Wahaia Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam patoklah harga untuk kami!’ Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Sesungguhnya Allâhlah pematok harga yang menyempitkan dan melapangkan serta maha pemberi rezeki dan sungguh aku berharap menjumpai Rabbku dalam keadaan tidak ada seorangpun dari kalian yang menuntutkan dengan sebab kedzaliman dalam darah dan harta. [HR Abu Daud]

Dari keterangan di atas bisa di ambil faidah, bahwa menaikkan harga barang adalah hak dari penjual untuk menaruh harga barang dan dari keuntungan berapa pun. Hanya saja yang harus diperhatikan, hendaknya seorang penjual tidak melakukan perbuatan yang dapat merugikan manusia lain dengan menaruh harga yang tidak masuk akal, yang terlalu jauh dari harga barang yang semestinya.dengan harga yang wajar dan selisih yang masuk akal maka akan lebih mendatangkan keridhoan dalam jual beli dan bisa mendatangkan banyak keberkahan.

Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Senin, 22 Syawal 1443 H/ 23 Desember 2021 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik disini

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button