Untukmu Yang Mendambakan Rumah Impian

Untukmu Yang Mendambakan Rumah Impian

Untukmu Yang Mendambakan Rumah Impian

Setiap insan mempunyai mimpi untuk mendapatkan apapun yang ia inginkan dalam hidup. Mimpi itu akan terus terpatri dalam pikirannya. selalu berusaha semakimal mungkin untuk mengejar mimpi tersebut.
Boleh jadi sebagian dari mimpi itu adalah rumah impian. Hal ini sah-sah saja, bahkan termasuk fitrah manusia ingin memiliki tempat tinggal yang nyaman bak laksana surga. Benarlah ungkapan  “Rumahku Surgaku.”

Rumah Sebagai Tempat Tinggal

Allah Subhanahu Wa Ta’ala  berfirman :

 وَاللّهُ جَعَلَ لَكُمْ مّن بُيُوتِكُمْ سَكَناً

 Dan Allah telah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal.”
(QS. An Nahl : 80).

Para ulama kaum muslimin ketika menjelaskan ayat ini menerangkan bahwa Rumah adalah bagian dari kesempurnaan nikmat yang Allah berikan pada manusia, sebagai tempat mendapatkan ketentraman, beristirahat, dan berlindung. Sebagaimana mereka juga dapat memanfaatkannya dengan berbagai cara lainnya.
(lihat Tafsir Ibnu Katsir tentang ayat ini)

Kebutuhan manusia akan rumah (papan) sangat mutlak diperlukan. Rumah merupakan kebutuhan yang tergolong primer selain kebutuhan akan pangan dan sandang. Bahkan kepemilikan rumah mampu memberikan status sosial dalam kehidupan bermasyarakat, tapi bukan ini yang hendak kita cari.
Rumah itu akan menjadi rumah impian jika itu dapat membantu pemiliknya semakin dekat dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan semakin bersyukur dan bertambah syukurnya ketika ia diberikan karunia rumah milik pribadi, bukan hutang, tidak lagi ngontrak, ataupun tinggal di rumah orang tua maupun kerabat.

Merupakan keberuntungan  ketika seseorang itu punya rumah bagus nan luas, pastilah merasakan kegunaan dari rumah yang luas tersebut. Ia merasa tentram, aman dari berbagai gangguan, baik dari cuaca atau lainnya. Sebagaimana ia juga dapat menjadikan rumahnya sebagai tempan menyimpan dan menikmati hasil karya dan jerih payahnya.

Rumah Sebagai Sarana Ibadah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menggambarkan betapa bahagianya orang yang mendapat karunia rumah yang bagus nan luas yang diiringi dengan ketaatan di dalamnya dengan  sabdanya :

طُوبَى لِمَنْ مَلَكَ لِسَانَهُ ، وَوَسِعَهُ بَيْتُهُ ، وَبَكَى عَلَى خَطِيئَتِهِ

“ Keberuntungan adalah milik orang yang kuasa menjaga lisannya, merasa cukup dengan rumahnya sebagai tempat berlindung dan senantiasa menangisi (menyesali) setiap kesalahannya.
(HR. At Thabarani, dinilai sebagai hadits shahih oleh Muhaddits  ( Ahli Hadits ) Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3929).

Dari hadits di atas ada sebuah isyarat agar bagi siapa saja yang berada di dalam rumah untuk menjaga lisan, menjauhi fitnah dengan tinggal dan berdiam diri di dalam rumahnya serta senantiasa beribadah di dalamnya dengan amalan-amalan sunnah yang dianjurkan bagi setiap muslim ketika ia sedang berada di rumah serta memohon ampun dan menangisi atas kesalahan – kesalahan yang pernah dibuatnya.

Serius Membangun Rumah Di Surga

Di kehidupan dunia ini, rumah menjadi salah satu kebutuhan yang sangat penting, Seseorang terkadang bisa bekerja keras siang dan malam tanpa henti hanya untuk membangun rumah impiannya.
Itupun suatu saat rumahnya akan menjadi tua dan rusak. Dan pastinya ia akan meninggalkan rumah tersebut untuk selama-lamanya alias diwariskan. Dan boleh jadi setelah itu, status kepemilikan rumah bukan lagi atas namanya karena segera akan dijual oleh ahli warisnya.

Maka sejatinya seorang muslim itu membangun rumahnya di Kehidupan akhirat, dan ini harus menjadi prioritas utama, dan harus lebih serius dalam pelaksanaanya, karena tak satu pun manusia bisa mengelak darinya. Akhirat adalah kehidupan  yang kekal dan abadi. Maka kenapa kita tidak lebih serius dan sungguh-sungguh berusaha mencari jalan dan mengupayakan sebab untuk memiliki rumah di sana?

كَلَّا بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ * وَتَذَرُونَ الْآخِرَةَ

“ Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia, *  
Dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.
(QS. Al Qiyamah : 20 -21).

Padahal Allah  Subhanahu Wa Ta’ala  telah berfirman menjelaskan sikap orang-orang kafir terhadap kehidupan di dunia di dalam ayat yang lain,

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ﴿١٦﴾ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“ Tetapi kamu (orang-orang kafir) lebih memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.
(QS. Al-A’la /87 :16-17).

Maka sebagai orang yang memiliki iman, mari berlomba dan lebih serius lagi membangun rumah di akhirat, karena rumah di akhirat berbeda dengan rumah di dunia. Rumah ini kekal selama-lamanya, tidak akan rusak dimakan rayap, tidak bisa dibeli dan diwariskan, semuanya ada jatah masing-masing.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah memberikan deskripsi tentang sifat-sifat rumah di surga bahwa bangunannya dari batu bata berupa perak dan emas, adukannya dari minyak wangi kesturi Al-Adzfar, kerikilnya dari mutiara dan permata, kerikilnya dari Za’faron.
Siapa yang memasukinya akan merasa nikmat dan tidak akan meninggalkannya, kekal tidak akan mati, pakaiannya tidak kotor dan senantiasa muda tidak akan tua. Hadits – hadits yang membicarakan hal ini bisa dilihat juga dalam riwayat Imam Ahmad Dan Tirmidzi dalam kitab  hadits mereka. (lihat Shahihul  Jami’, no. 3116).

Wallahu Ta’ala A’lam.

 

Disusun oleh:
Ustadz Fadly Gugul حفظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)



Ustadz Fadly Gugul حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS