Pertanyaan :

 

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Ustadz, mau tanya tentang ; “Sesungguhnya tinta para ulama adalah lebih baik dari darahnya para syuhada”.  Ungkapan ini hadist atau apa ? Lantas bagaimana kedudukan hadits tersebut ?

(Dari Siti Zakiyah Anggota Grup WA Bimbingan Islam T01-13)

Jawaban :

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Yang pertama, hadis ini adalah hadis yang DHA’IF/LEMAH bahkan PALSU.

Diantara ulama’ yang mendha’ifkannya ialah ;

  • Al-Imam Al-Albani di dalam Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah No. 4832.

  • Al-Imam Adz-Dzahabi di dalam Mizanul I’tiwal : 3/517.

  • Al-Imam Asy-Syaukani di dalam Al-Fawa’id Al-Majmu’ah : 17.

  • Al-Imam Al-’Amiri di dalam Al-Bahtsul Hatsis Fi Bayani Ma Laisa Bihadits ; 203.

  • Syaikh Muhammad Rasyid Ridha di dalam Majalah Al-Manar : 3/698.

Yang kedua, kita belum mendapati dalil tentang keutamaan tintanya para ulama (tintanya bukan ulama’-nya), sedang darah para syuhada ada beberapa hadis yang menyebutkan keutamaannya, diantara hadits-hadist  tersebut ialah :

أول وا يهراق من دم الشهيد يغفر  له ذنبه كله إلا الدين

“Tetesan darah seorang syahid yang pertama kali tumpah, menghapuskan seluruh dosa-dosanya kecuali hutang”. (Shahihul Jami’ : 2578, Silsilah Ahadits Ash-Shahihah : 1742).

Dalam riwayat lain nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

زَمِّلُوهُمْ بِدِمَائِهِمْ فَإِنَّهُ لَيْسَ كَلْمٌ يُكْلَمُ فِي اللَّهِ إِلاَّ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَدْمَى لَوْنُهُ لَوْنُ الدَّمِ وَرِيحُهُ رِيحُ الْمِسْكِ

 

Bungkuslah jasad mereka (syuhada’) sekalian dengan darah-darahnya juga. Sesungguhnya mereka akan datang di hari kiamat dengan berdarah-darah, warnanya warna darah namun aromanya seharum kesturi. (Shahih Sunan An-Nasa’i : 2001).

Keutamaan darah para syuhada’ dibanding tinta para ulama’ ini sebuah perkara/masalah, sedangkan perbandingan keutamaan para syuhada’ dengan para ulama’ itu juga perkara/masalah yang lain lagi. Maka tidak mesti ketika darah syuhada lebih baik dari tinta ulama, lantas memberikan konsekwensi syuhada’ itu lebih utama dari ulama’.

Al-Imam Al-Munawi mengatakan :

 

Baca Juga:  Menyikapi Keluarga yang Kental Dengan Adat dan Tradisi

والإنصاف أن ما ورد للشهيد من الخصائص ، وصحَّ فيه من دفع العذاب ، وغفران النقائص : لم يرد مثله للعالم لمجرد علمه ، ولا يمكن أحدا أن يقطع له به في حكمه ، وقد يكون لمن هو أعلى درجة ما هو أفضل من ذلك . وينبغي أن يعتبر حال العالم وثمرة علمه وماذا عليه ، وحال الشهيد وثمرة شهادته وما أحدث عليه ، فيقع التفضيل بحسب الأعمال والفوائد ، فكم من شهيد وعالم هون أهوالا ، وفرج شدائد ، وعلى هذا فقد يتجه أن الشهيد الواحد أفضل من جماعة من العلماء ، والعالم الواحد أفضل من كثير من الشهداء ، كل بحسب حاله وما ترتب على علومه وأعماله.

 

“Pandangan yang adil dalam hal ini, bahwa apa yang tersebut di dalam dalil tentang keutamaan para syuhada’ berupa ditolaknya azab, diampuninya dosa tidak terdapat dalam diri seorang ulama hanya karena ilmu yang dimilikinya saja. Dan tidak mungkin ada seseorang yang berani memutuskan hukum seperti ini begitu saja.

Ada kemungkinan ketika ada orang berderajat tinggi tapi di sana ada orang lain yang lebih utama dari dia. Maka hendaknya dilihat keadaan si ulama, hasil dari ilmu ia tebarkan, dan apa saja kekurangannya. Demikian pula dilihat keadaan si syuhada’, hasil dari kesyahidan dia, apa yang terjadi pada dia. Sehingga keputusan untuk menentukan siapa yang lebih utama sangat tergantung pada amalananya dan juga hasil dari amal tersebut. Berapa banyak seorang syuhada’ dan ulama’ berhasil meminimalisir kesulitan serta memecahkan masalah.

Berdasarkan hal ini, maka bisa saja seorang syuhada’ itu lebih utama dari sekelompok ‘ulama’, dan satu orang ulama’ lebih utama dari banyak syuhada’. Semua bergantung kepada keadaannya serta kepada buah dari ilmu serta amal yang ia lakukan”. (Faidhul Qadir : 6/603).

Yang ketiga, ada beberapa ayat maupun nukilan dari perkataan para ulama bahwa secara asal aktivitas menuntut ilmu agama itu lebih utama dari berjihad. Berikut kami ketengahkan beberapa diantaranya :

  1. Allah ta’ala berfirman :

(وَلَوْ شِئْنَا لَبَعَثْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ نَذِيرًا (51) فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا (52

 

Baca Juga:  Tentang Pengkafiran Khawarij

“Dan andaikata Kami menghendaki benar-benarlah Kami utus pada tiap-tiap negeri seorang yang memberi peringatan (rasul). Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan al-Quran dengan jihad yang besar” (Qs. al-Furqon: 51-52).

Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah ketika menerangkan makna ayat ini beliau berkata :

ولهذا كان الجهاد نوعين : جهادٌ بِاليَدِ والسِّنَانِ ، وهذا المُشَارِكُ فيه كَثِيرٌ !والثاني : الجِهَادُ بِالحُجَّةِ وَالبَيَانِ ، وهذا جِهَادُ الخاصَّةِ مِنْ أتْبَاعِ الرُّسُلِ وَهْوَ جِهَادُ الأَئِمَّةِ ، وَهْوَ أَفْضَلُ الجِهَادَيْن لِعِظَمِ مَنْفَعَتِهِ ، وَشِدَّةِ مُؤْنَتِهِ ، وَكَثْرَةِ أَعْدَائِهِ، قَال الله تعالى في «سُورة الفرقان  وهي مكية : ولو شئنا لبعثنا في كلِّ قريةٍ نذيراً * فلا تُطِعِ الكافرين وجاهدهم به جهاداً كبيراً  . فهذا جِهَادٌ لهم بالقرآن وهو أكبرُ الجِهَادَيْن

“ Oleh karenanya  jihad itu ada dua jenis, pertama  : Jihad dengan tangan dan pedang. Jihad jenis ini pengikutnya banyak. Yang kedua : Jihad dengan hujjah dan argumentasi. Ini adalah jenis jihad yang khusus dilakukan oleh para pengikut rasul, ini adlah jihadnya para imam. Jihad jenis ini lebih utama dari jihad jenis lain, karena besar manfaatnya, sukar jalannya, dan banyak sekali musuhnya. Allah berfirman di dalam (QS. Al-Furqon : 51-52) ini surat turun di Mekah.  Inilah jihad dengan al-Qur’an dan inilah jihad yang paling agung. “(Mitaah Daar As Sa’adah: 1/70).

B. Al-Imam Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menyatakan :

 

Baca Juga:  Dzikir Asmaul Husna Bilangan Tertentu

ومن أعظم الجهاد: سلوك طرق التعلّم والتعليـم؛ فإن الاشتغـال بذلك لمن صحـت نيـتـه لا يوزنه عمل من الأعمال، لما فيه من إحياء العلم والدين، وإرشاد الجاهلين، والدعوة إلى الخير، والنهي عن الشر، والخير الكثير الذي لا يستغني العباد عنه؛ فمن سلك طريقاً يلتمس فيه علماً سهل له به طريقاً إلى الجنة

 

“Dan diantara bentuk jihad yang paling agung adalah menempuh jalan untuk menuntut ilmu dan mengajarkannya. Karena menyibukan diri dengan kedua hal tersebut bagi yang lurus niatnya maka tidak bisa ditandingi oleh amal manapun. Karena di dalamnya terdapat usaha untuk menghidupkan ilmu dan agama, menunjuki orang-orang jahil, menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran serta kebaikan yang sangat banyak sekali yang sangat dibutuhkan oleh semua hamba. Dan barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu maka Allah akan mudahkan jalan baginya ke syurga”. (Al-Fatawa As-Sa’diyah, Masalah ke-9 : 45).

Wallahu ta’ala a’lam.

Referensi :

  • Fatwa Islam Soal Jawab No. 11920

  • Shahihul Jami’

  • Silsilah Ahadits Ash-Shahihah

  • Shahih Sunan An-Nasa’i ketiganya oleh Al-Imam Al-Albani

  • Faidhul Qadir oleh Al-Imam Al-Munawi

  • Miftah Daris Sa’adah oleh Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

  • Al-Fatawa As-Sa’diyah oleh Syaikh Abdurrahman bin Nasir As-Sa’di

 

Konsultasi Bimbingan Islam

Ustadz Abul Aswad Al Bayati