Pasang Jebakan Tikus Di Rumah Berdosakah?

Pasang Jebakan Tikus Di Rumah Berdosakah?

Pasang Jebakan Tikus Di Rumah Berdosakah?

Berdosakah kita jika lupa mengeluarkan tikus dari jebakan berhari-hari bahkan sampai mati?

Pertanyaan:

بسم الله الرحمن الر حيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Afwan ustadz, kita pasang jebakan tikus (yang jenis kurungan).

Namun kita lupa mengeluarkannya selama satu sampai dua hari, hingga terkadang tikusnya sudah mati duluan di dalam jebakan kurungan tersebut.

Pertanyaannya, apakah kita berdosa sebagaimana dalam hadist yang seseorang mengurung kucing tanpa diberi makan, akhirnya sampai mati ?

Syukron wa jazākumullāh  khairan

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ditanyakan oleh Sahabat BiAS N08

Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ الله

Alhamdulillāh

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Afwan Wajazākallāh  khairan katsiran atas pertanyaan dan do’a yang antum sampaikan,

Semoga Allāh menjauhkan kita semua dari sifat lalai dan lupa.

Hadits yang dimaksud adalah hadits Ibnu Umar radhiallāhu ‘anhuma, ketika Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengancam orang yang menyiksa binatang atau tidak memenuhi makan dan minumnya ketika dikurung beliau bersabda,

عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ فِى هِرَّةٍ سَجَنَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ ، فَدَخَلَتْ فِيهَا النَّارَ ، لاَ هِىَ أَطْعَمَتْهَا وَلاَ سَقَتْهَا إِذْ حَبَسَتْهَا ، وَلاَ هِىَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الأَرْضِ

“Ada seorang wanita yang disiksa karena seekor kucing. Wanita itu mengurung seekor kucing hingga mati, akibatnya wanita itupun masuk neraka. Ketika dia mengurung kucing, dia tidak memberinya makan, tidak juga memberinya minum, tidak juga ia membiarkannya pergi mencari makanan sendiri dengan menangkap serangga” [HR Bukhari 2365 dan Muslim 2242]

Di sisi yang lain, tikus merupakan binatang mengganggu yang boleh dibunuh, bahkan boleh membunuhnya saat dalam keadaan ihram (yang normalnya tidak boleh membunuh binatang saat haji/umrah). Sebagaimana disebutkan dalam hadits ‘Aisyah radhiallāhu ‘anha;

خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِى الْحَرَمِ الْفَأْرَةُ ، وَالْعَقْرَبُ ، وَالْحُدَيَّا ، وَالْغُرَابُ ، وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ

“Ada lima jenis hewan fasiq (berbahaya) yang boleh dibunuh ketika sedang ihram, yakni tikus, kalajengking, burung rajawali, burung gagak dan anjing galak atau rabies”  [HR Bukhari 3314 dan Muslim 1198]

Bolehkah menyiksa hewan yang diperintahkan dibunuh?

Lalu bolehkah kita “sedikit menyiksa” hewan yang memang diperintahkan untuk dibunuh?
Jika menyiksanya dengan api jelas ada larangannya, Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda

لَا يُعَذِّبُ بِالنَّارِ إِلَّا رَبُّ النَّارِ

“Tidak boleh menyiksa dengan api kecuali Penguasa api (yakni Allāh)”  [HR Abu Daud 2673]

Begitupula dengan keumuman Hadits,

فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ

“Apabila kalian membunuh, maka bunuhlah dengan baik” [HR Muslim 1955]

Sebaliknya, jika kita enggan membunuhnya pun juga tidak boleh memeliharanya. Ibnu Hajar Al-Haitami rahīmahullāhu, salah satu ulama syafi’iyah menjelaskan:

وَيَحْرُمُ حَبْسُ شَيْءٍ مِنْ الْفَوَاسِقِ الْخَمْسِ عَلَى وَجْهِ الِاقْتِنَاءِ

“Diharamkan mengurung lima binatang pengganggu untuk dipelihara” [Tuhfatul Muhtaj fi Syarh Minhaj, 9/377]

Bahkan Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahīmahullāhu, dari ulama Hambali menetapkan sebuah kaidah,

وما وجب قتله حرم اقتناؤه

”Binatang yang wajib untuk dibunuh, haram untuk dipelihara” (Al-Mughni, 9/373)

Lantas bagaimana status orang yang lupa melepaskan tikus dalam perangkap atau kurungannya? Insyaallāh tidak mengapa jika memang ia lupa atau tidak sengaja, sebab Allāh adalah Dzat Yang Maha Pengampun. Seperti yang dijelaskan dalam hadits;

إِنَّ اللهَ تَـجَاوَزَ لِـيْ عَنْ أُمَّتِيْ الْـخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ

”Sesungguhnya Allāh jalla wa ‘alā memaafkan kesalahan (yang tanpa sengaja) dan (kesalahan karena) lupa dari umatku serta kesalahan yang terpaksa dilakukan”  [HR Ibnu Majah 2045]

Semoga Allāh mengkaruniakan kepada kita semua hati yang lembut dan sifat yang hati-hati.

Wallāhu a’lam
Wabillahittaufiq.

Dijawab dengan ringkas oleh:
👤 Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله

📆 Kamis, 30 Shafar 1440H / 8 November 2018M

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS