Muamalah

Tiga “Kedustaan” Yang Dilakukan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, Apa Saja?

Tiga “Kedustaan” Yang Dilakukan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, Apa Saja?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tiga “kedustaan” yang dilakukan nabi Ibrahim ‘alaihissalam, apa saja? Selamat membaca.


Pertanyaan:

Bismillāh. Assalāmu’alaikum ustadz. Semoga Allāh selalu merahmati ustadz dan seluruh umat muslim. Ustadz apakah benar nabi Ibrāhīm pernah berbohong sebanyak 3 kali? Terutama ketika ditanya siapa yang menghancurkan berhala-berhala? Syukron wa jazākallāhu khairan.

(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban:

Waalaikumsalam warahmatullah wabarokatuh

Aamiin, terima kasih atas doa yang terlontar, semoga juga Allah selalu melindungi kita semua.

Dari lafadz yang disebutkan dalam riwayat terkait hal itu, benar disebutkan dengan kata kebohongan, walaupun sebenarnya itu bukan kebohongan ataupun kalau itu dipaksakan dengan makna bohong, maka dalam konteks tersebut adalah kebohongan yang diperbolekan karena ada keadaan yang mengancam nyawa manusia untuk diselamatkan.

Melihat kembali dari riwayat yang menyebutkan tiga Kedustaan Yang Dilakukan oleh Nabi Ibrahim alaihissalam sebagaimana yang diceritakan di dalam riwayat Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda: “Nabi Ibrahim ‘alaihi sallam tidak pernah sama sekali berdusta dalam hidupnya kecuali tiga kali. Adapun dustanya yang kedua kali adalah berkaitan dengan Dzatnya Allah Shubhanahu wa taalla, yaitu yang telah tercantum dalam firman Allah Ta’ala: “Kemudian ia berkata:”sesungguhnya aku sakit”. (QS. Ash-Shaffat: 89). Dan yang kedua, sebagaimana yang tercantum dalam firman Allah Ta’ala: “Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, Maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara”. (QS. Al-Anbiyaa’: 63).

Baca Juga:  Tatacara Membayar Zakat Mal yang Tidak Dibayarkan Beberapa Tahun?

Adapun yang terakhir adalah dustanya tentang Sarah (istrinya).

Kisahnya, pada suatu ketika Ibrahim pernah mendatangi sebuah negeri yang dipimpin oleh raja yang fajir, dan beliau bersama istrinya Sarah, dia adalah seorang wanita yang sangat cantik.

Maka Ibrahim mewanti istrinya: “Sesungguhnya raja yang fajir ini, jika sampai mengetahui engkau adalah istriku, tentu ia akan mengambilmu dariku secara paksa.

Oleh karena itu, apabila ia menanyakan kamu, kabarkan padanya bahwa kamu adalah saudaraku. Engkau adalah sudaraku se-Islam, karena saya tidak mengetahui ada di dalam negeri ini seorang muslim pun selain aku dan dirimu”.

Maka ketika mereka berdua telah memasuki kota, ada beberapa punggawa raja fajir yang melihatnya, dengan cepat ada yang segera melapor padanya, sungguh telah datang dinegerimu seorang perempuan yang sangat menawan, tidak layak dimiliki melainkan olehmu, kata orang tersebut.

Sang raja langsung mengutus untuk mendatangkan Sarah ke hadapannya. Kemudian tidak berapa lama ia pun di bawa menghadap. Sedangkan di kejauhan sana, Ibrahim berdiri mengerjakan sholat.

Tatkala Sarah memasuki istananya, sang raja tidak sabar lagi, maka dengan segera ia menjulurkan kedua tangannya untuk memeluknya. Namun tangannya terkunci dengan kuat, sehingga ia tidak sanggup untuk melepasnya.

Lalu ia berkata padanya: “Berdo’alah kepada Allah Shubhanahu wa taalla, agar melepaskan kedua tanganku ini, saya berjanji tidak akan menyakitimu”. Sarah menuruti kemauannya.

Tatkala telah terlepas ia mengulurkan tangannya ingin memeluknya, akan tetapi, kedua tangan terkunci kembali, dan sekarang lebih keras dari yang pertama.

Lalu ia meminta supaya dido’akan agar dilepas kuncian tangannya oleh Allah Shubhanahu wa ta alla. Sarah pun melakukannya. Namun, ketika terlepas ia mengulangi kembali ingin memeluknya.

Akan tetapi kedua tangannya kembali terkunci, bahkan lebih keras lagi dari yang sebelumnya. Ia lalu menyeru padanya: “Doa’kanlah kepada Allah Shubhanahu wa ta alla, supaya melepaskan tanganku, demi Allah, saya berjanji tidak akan menyakitimu”. Sarah lalu menuruti permintaannya, maka kedua tangannya terlepas.

Kemudian sang raja memanggil orang yang membawa Sarah di hadapannya: “Wahai kamu, apa yang kamu bawa ini, sesungguhnya engkau membawa setan padaku bukan seorang manusia!”

Bawa ia keluar dari negeriku dan berilah ia seorang budak Hajar. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam kemudian melanjutkan: “Kemudian Sarah berpaling darinya, berjalan meninggalkannya.

Tatkala Ibrahim ‘alaihi sallam melihatnya, ia segera menyudahi sholatnya lalu menyambut istrinya, dan menanyakan kabarnya: “Apa yang terjadi?” “Baik, Allah Shubhanahu wa ta alla telah menahan untukku dari jamahan tangan orang fajir, dan ia memberi kita seorang pembantu”.

Berkata Abu Hurairah: “Itulah ibu kalian wahai Bani air yang turun dari langit”. (Hadits ini shahih, di keluarkan oleh Bukhari dan Muslim.)

Namun bila diperhatikan dengan itu semua, Syekh bin Baz menjelaskan terkait penyebutan dusta yang dikatakan atau dinisbatkan nabi Ibrahim kepada dirinya sendiri, Syekh menyebutkan,”

مِن ورعه عليه الصلاة والسلام سماها كذبًا، وهو أراد بذلك التعريض، لكن سماها كذبًا بالنسبة إلى ما يظهر للناس يعتبرونها كذبًا،

“(bahwa kalimat itu) adalah dari bentuk kesalehan /kerendahan hati Nabi Ibrahim alaihissholatu wasallam ketika menamakan itu sebuah dusta. Padahal yang ia maksudkan adalah ta`ridh ( kata kiasan untuk memalingkan sesuatu/ tauriyah, seakan dusta padahal yang dikatakan hakikatnya adalah benar). Beliau menyebutkannya dengan kedustaan (dengan menempatkan diri) dari apa yang terlihat pada mata manusia bahwa itu seolah sebuah kedustaan (padahal tidak, pent)..” (https://binbaz.org.sa/fatwas/22725)

Sehingga, tetaplah kita tidak mengatakan bahwa nabi Ibrahim telah melakukan sebuah kedustaan, dengan melihat alasan beliau melakukan hal tersebut. Dan sesungguhnya apa yang dikatakan adalah benar, bila melihat dari sisi yang lain. Sehingga, tidak elok kita menyebut beliau berdusta atau dipergunakan seseorang untuk menghalalkan perbuatan dusta.

Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Senin, 18 Dzulhijjah 1443 H/ 18 Juli 2022 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di sini

Baca Juga:  Bolehkah Menerima Pembayaran dengan Kartu Kredit?

Ustadz Muhammad Ihsan, S.Ag., M.HI.

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2011 – 2015, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2016 – 2021 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Dauroh Syaikh Sulaiman & Syaikh Sholih As-Sindy di Malang 2018, Beberapa dars pada dauroh Syaikh Sholih Al-’Ushoimy di Masjid Nabawi, Dauroh Masyayikh Yaman tahun 2019, Belajar dengan Syaikh Labib tahun 2019 – sekarang | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Kegiatan bimbingan islam

Related Articles

Back to top button