Tidak Jadi Ibadah Karena Merasa Niat Belum Ikhlas, Apakah Boleh?

Tidak Jadi Ibadah Karena Merasa Niat Belum Ikhlas, Apakah Boleh?

Tidak Jadi Ibadah Karena Merasa Niat Belum Ikhlas, Apakah Boleh?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang mencintai Allah ta’ala berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang tidak jadi ibadah karena merasa niat belum ikhlas, apakah boleh?
selamat membaca.

Pertanyaan :

بسم اللّه الرحمن الر حيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz saya ingin bertanya.

Saya sering merasa bahwa niat saya melakukan amal ibadah bukanlah ikhlas karena ALLAH, contohnya saya ingin berpuasa sunnah karena ingin berhemat.
ketika itu saya sadar bahwa niat saya bukan untuk ALLAH, sehingga saya mencoba untuk ikhlas karena ALLAH, tapi dalam hati saya, saya masih takut bahwa saya beramal bukan karena ALLAH.
Oleh karena itu, saya malah tidak jadi berpuasa dan semenjak itu saya tidak puasa sunnah karena takut niat saya salah.

Apakah yg saya lakukan salah?
Dan bagaimana definisi ikhlas karena  ALLAH serta cara agar ikhlas dapat ditanamkan dalam hati kita Ustadz?

Jazakallahu khayran wa barakallahu fiik

Tanya Jawab AISHAH – akademi shalihah
(Disampaikan Oleh Fulanah – SahabatAISHAH Klaten)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Alhamdulillāh wa shalātu wa salāmu ‘alā rasūlillāh.

Ketahuilah, setan tidak akan berhenti menggoda manusia untuk tidak beribadah kepada Allah. Sehingga setan mendatangkan syubhat-syubhat yang membuat seseorang berhenti beramal.

Ketahuilah saudariku, jangan sampai rasa takut berbuat riya’ membuat kita meninggalkan ibadah, fudhail bin ‘iyadh berkata:

تَرْكُ الْعَمَلِ مِنْ أَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ، وَالْعَمَلُ مِنْ أَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ وَالْإِخْلَاصُ أَنْ يُعَافِيَكَ اللهُ عَنْهُمَا

“Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya’, beramal karena manusia adalah syirik, dan ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya”
(Syu’abul iman: 9/184).

Begitu juga, jangan sampai kita merasa bahwasanya kita telah ikhlas ketika beramal, sesungguhnya para nabi عليهم السلام dan para ulama رحمهم الله dari kalangan para sahabat dan orang-orang setelahnya, mereka ketika beramal berada antara pengharapan dan rasa takut, ketika mereka melihat kepada kasih sayang Allah, mereka berahap ibadah mereka diterima, namun ketika mereka melihat kepada kekurangan diri mereka, timbul rasa takut kalau-kalau ibadah mereka tidak diterima.

Diriwayatkan bahwa rasulullah ﷺ pernah menjenguk seorang pemuda yang hendak meninggal, beliau bertanya:

«كَيْفَ تَجِدُكَ؟»، قَالَ: وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أَرْجُو اللَّهَ، وَإِنِّي أَخَافُ ذُنُوبِي، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ فِي مِثْلِ هَذَا المَوْطِنِ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ مَا يَرْجُو وَآمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ

“Bagaimana engkau mendapati dirimu?
Pemuda itupun menjawab: demi Allah Wahai Rasulullah, aku mengharap Allah, namun aku juga takut akan dosa-dosaku.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah dua hal (khauf dan raja’) terkumpul dalam jiwa seorang hamba pada keadaan seperti ini, kecuali Allah akan mengabulkan apa yang dia harapkan dan memberikan keamanan dari apa yang dia takutkan.”
(HR: Tirmidzi: 983, dinyatakan hasan oleh syaikh Albany).

Oleh karenanya, hendaklah kita selalu beramal, sembari berusaha untuk selalu ikhlas kepada Allah ﷻ.
Wallahu a’lam

 

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
Jum’at, 24 Shafar 1441 H / 22 Oktober 2019 M



Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS