FiqihKonsultasiWanita

Thawaf Wada Bagi Wanita Haid Atau Nifas

Pendaftaran Grup WA Madeenah

Thawaf Wada Bagi Wanita Haid Atau Nifas

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Thawaf Wada Bagi Wanita Haid Atau Nifas, selamat membaca.


Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Pada pelaksanaan Haji, saat melaksanakan Thawaf Wada maka hukumnya wajib kecuali bagi wanita yang sedang haid atau nifas. Apakah ini artinya wanita yang sedang haid atau nifas tersebut tidak wajib melaksanakan Thawaf Wada tetapi dikenakan Dam? Mohon penjelasannya.

جزاك اللهُ خيراً

(Ditanyakan Oleh Mahad Bimbingan Islam)


Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Dalam masalah ini terdapat silang pendapat antara para ulama. Jumhur mengatakan bahwa dia harus menunggu sampai suci kemudian thawaf. Pendapat abu Hanifah dan riwayat Imam Ahmad bahwa dia boleh thawaf meskipun dalam keadaan haid (darurat), hal ini juga dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, karena beberapa alasan;

Misalkan Dalam Thawaf Wada’ Tatkala Haji.

1. Haji termasuk amalan yang hukumnya wajib,

Dan tidak ada satupun ulama yang mengatakan bahwa wanita haid tidak wajib haji. Dan bagian dari prinsip syariah, kewajiban tidak menjadi gugur disebabkan karena tidak mampu memenuhi salah satu syaratnya. Sebagaimana orang yang tidak mampu bersuci ketika hendak shalat, dia tetap wajib shalat meskipun dengan tayamum atau bahkan tanpa wudhu dan tayamum, seperti orang yang lumpuh dan tidak ada yang membantunya.

2. Haid yang dialami para wanita, sama sekali bukan kesalahannya. Muni ketetapan dari Allah.

Karena itu, pendapat yang mengatakan bahwa dia harus kembali ke rumahnya dan melakukan qadha haji di tahun berikutnya adalah pendapat yang tidak benar. Karena berarti mewajibkan wanita ini dua kali safar haji disebabkan sesuatu yang itu bukan berasal dari kesalahannya. Dan ini tidak sejalan dengan prinsip syariah.

3. Wanita tidak mungkin berangkat haji kecuali bersama rombongan.

Sementara rutinitas haid datang pada waktu yang dia terkadang tidak tahu. Sehingga bisa jadi, ketika dia berangkat di tahun berikutnya, dia juga mengalami haid. Sehingga sangat sulit baginya untuk bisa thawaf dalam kondisi suci.

4. Bagian dari prinsip syariat bahwa orang yang tidak mampu memenuhi semua syarat ibadah

Maka syarat itu menjadi gugur baginya. Sebagaimana ketika seseorang tidak bisa berjalan atau naik kendaraan, dia boleh ditandu untuk thawaf. Karena Allah berfirman,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

”Bertaqwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. at-Thaghabun: 16)

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Apabila aku perintahkan kalian untuk melakukan sesuatu, maka kerjakanlah semampu kalian. (HR. Bukhari 7288).

(Majmu’ Fatawa, 26/242).

Wallahu Ta’ala A’lam.

 

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul, S.Ag. حافظه الله

Related Articles

Back to top button