Adab & Akhlak

Terlarangnya Buang Hajat Menghadap Kiblat Jika Tanpa Sekat

Mahad Bimbingan Islam (BIAS) belajar Islam terstruktur

Terlarangnya Buang Hajat Menghadap Kiblat Jika Tanpa Sekat

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan pembahasan tentang terlarangnya buang hajat menghadap kiblat jika tanpa sekat. Selamat membaca.


Pertanyaan:

Bismillaah, ustadz, semoga Allah memberkahi ilmu dan umur ustadz sekeluarga juga tim Ma’had Bimbingan Islam. Aamiin. Mohon izin bertanya.

Apakah diperbolehkan buang hajat menghadap kiblat/membelakanginya dengan dasar membedakan antara jihadul ka’bah/menghadap dan ‘ainu ka’bah/melihat ka’bah/menghadap ka’bah tanpa sekat sehingga bisa melihatnya?

Pendapat ini dikuatkan dengan hadits bahwasanya seorang sahabat pernah melihat Nabi sedang buang hajat dengan membelakangi kiblat di tempat tertutup. Mohon penjelasannya ustadz. jazaakumullaahu khoiron.

(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban:

Waalaikumsalam warahmatullah wabarokatuh

Daftar Grup WA Bimbingan Islam Gratis

Aamiin,

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله، وصحبه، أما بعد:

Semoga juga Allah ta`ala juga selalu memberikan kepada Anda dan keluarga keberkahan serta kebahagiaan, di dunia dan akhirat.

Memang ada perbedaan di dalam hukum menghadap dan membelakangai kiblat ketika membuang hajat. Yang rojih, insyaallah apa yang di ambil oleh mayoritas para ulama bahwa bolehnya hal tersebut di dalam ruangan dan bukan di luar ruangan/ruang terbuka.

Sebagaimana hadist Ibnu Umar yang telah Anda sebutkan.

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ قَالَ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى بْنِ حَبَّانَ عَنْ وَاسِعِ بْنِ حَبَّانَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ ارْتَقَيْتُ فَوْقَ ظَهْرِ بَيْتِ حَفْصَةَ لِبَعْضِ حَاجَتِي فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْضِي حَاجَتَهُ مُسْتَدْبِرَ الْقِبْلَةِ مُسْتَقْبِلَ الشَّأْمِ

Telah menceritakan kepada kami [Ibrahim bin Al Mundzir] berkata, telah menceritakan kepada kami [Anas bin ‘Iyadl] dari [‘Ubaidullah] dari [Muhammad bin Yahya bin Hibban] dari [Wasi’ bin Hibban] dari [‘Abdullah bin ‘Umar] berkata, “Aku pernah naik di rumah Hafshah karena suatu urusanku. Maka aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam buang hajat membelakangi kiblat menghadap Syam.” ( Shahih Bukhori hadist no 144)

Mengomentari hadist di atas, berkata Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Baari, pada kitab wudhu bab tidak menghadap kiblat ketika membuang hajat kecuali di dalam ruangan berupa tembok atau semisalnya,”Dan dibedakan antara di dalam ruangan dan Shohroo (gurun/ ruangan terbuka). Ini adalah pendapat jumhur ulama, pendapatnya Imam Malik, imam Syafi`I dan Ishaq.

Dan ini adalah pendapat yang paling tepat karena menggabungkan semua dalil. Dan ia kuatkan dari teori yang telah lalu dari ibnu Munir bahwa menghadap di dalam ruangan terkait dengan tembok/ pembatas ruangan, karena fungsinya memang untuk itu (buang hajat), ia sebagai tempat keberadaan setan, sehingga ia tidak layak dijadikan sebagai kiblat, hal ini berbeda ketika berada di gurun.”

Khusus perempuan, apakah kamu tahu Akademi Shalihah (AISHAH) Online?

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa di antara alasan terhadap larangan menghadap atau membelakangi arah kiblat (dengan berbagai pengertian yang Anda sebutkan (ainul ka`bah, jihatul ka`bah atau yang lainnya), di tempat terbuka, bukan di ruangan khusus untuk buang air adalah terkait dengan layak dan tidaknya tempat tersebut di jadikan sebagai kiblat untuk sholat.

Sehingga selama suatu tempat difungsikan untuk buang hajat dan ia berada di dalam ruangan bersekat, walaupun tidak diberikan penutup/atap maka seseorang diperbolehkan untuk menghadap atau membelakangi kiblat.

Namun walau begitu, menghindarinya dengan tidak menghadap atau membelakangi kiblat ketika buang hajat, baik di dalam ruangan ataupun di tanah lapang/ruang terbuka hal itu lebih utama dan baik, serta selamat/ khuruj dari khilaf. Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Senin, 7 Ramadan 1443 H/ 11 April 2022 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik disini

Baca Juga:  Cara dan Adab Menuntut Ilmu Agama Islam
Akademi Shalihah Menjadi Sebaik-baik Perhiasan Dunia Ads

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button