Tentang Pengkafiran Khawarij

Pertanyaan :


السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Bagaimana kabar, Ustadz?  Semoga Ustadz dan keluarga dalam kondisi sehat wal ‘afiat sehingga kami bisa menerima manfaat ilmu lewat Antum.

Mau bertanya tentang firqoh khawarij, Ustadz. Sebatas pengetahuan kami, khawarij berstatus tidak kafir, akan tetapi mereka melepaskan diri dari pemerintah dan jika mereka tidak bertaubat, maka mereka akan meninggal dalam kondisi jahiliah. Akan tetapi, di sisi lain, mereka mengkafirkan orang-orang di luar jamaah mereka atau yang tidak mau berbaiat ke pemimpin mereka. Lantas bagaimana menghubungkan atau mengkompromikan dengan hadits Rasululloh  Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.



أَيُّمَا امْرِئٍ قَالَ لِأَخِيهِ: يَا كَافِرُ، فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا، إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ، وَإِلَّا رَجَعَتْ عَلَيْهِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَفِي رِوَايَةِ مُسْلِمٍ إِذَا كَفَّرَ الرَّجُلُ أَخَاهُ

“Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya (se-agama) : Wahai kafir, maka pengkafiran ini akan kembali kepada salah satu dari keduanya, jika dia benar dalam pengkafirannya (maka tidak mengapa), tapi jika tidak maka ucapan itu akan kembali kepadanya” [HR Al-Bukhari : 6104 dan dalam riwayat lain Imam Muslim : 111 ‘Apabila seseorang mengkafirkan saudaranya muslim …].

Mohon penjelasannya, Ustadz..

Jazakallohu Khoiron


(Dari Abu Ahmad di Jawa Tengah Anggota Grup WA Bimbingan Islam  N04-60).

Jawaban :

وعليكم السلام ورحمة الله وبر كاته

Baik alhamdulillah, semoga Allah juga menganugrahkan kepada antum dan keluarga antum kesehatan, kebaikan, tambahan hidayah serta semangat di dalam memperlajari agama Allah ta’ala.

Tentang kekafiran yang kembali kepada si penuduh maksudnya ialah kufur ashghar atau kekafiran kecil yang tidak mengeluarkan dari islam. Kecuali jika si penuduh menghalalkan apa yang Allah haramkan maka itu masuk kategori kufur akbar.

Al-Imam Ibnu Baz ditanya tentang maksud hadis ini, beliau berkata ;

هذا لا أعرف صحته الآن ولكن معناه صحيح، فقد قال صلى الله عليه وسلم: (من قال لأخيه: يا عدو الله، أو قال: يا كافر، فقد باء بها أحدهما)، يعني إذا لم يكن من قيل له ذلك صالحاً لها رجعت إلى من قالها، فلا يجوز للمسلم أن يكفر أخاه ولا يقول يا عدو الله ولا يا فاجر إلا بدليل، الذي رمى أخاه بالكفر وليس فيه ذلك رجع إليه كلامه، والمعنى: التحذير وليس معناه أنه كفر أكبر، بل معناه التحذير من هذا الكلام السيئ وأن صاحبه على خطر عظيم إذا قاله لأخيه، فينبغي حفظ اللسان وألا يتكلم إلا عن بصيرة.

“Hadis ini aku tidak mengetahui keshahihannya akan tetapi maknanya benar. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Barangsiapa berkata kepada saudaranya ‘wahai musuh Allah’ atau ia berkata ‘wahai si kafir’ kadang perkataan itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya’. Maksudnya jika tuduhan itu tidak benar maka tuduhan tersebut akan kembali kepada orang yang menuduh.

Jadi tidak boleh bagi seorang muslim mengkafirkan saudaranya, tidak boleh pula ia mengatakan pada saudaranya ‘wahai musuh Allah’, atau ‘wahai orang fajir/jahat’ kecuali disertai dalil. Orang yang menuduh saudaranya dengan kekafiran padahal tidak kafir, maka tuduhannya berbalik kembali kepadanya. Dan makna kembalinya tuduhan kafir ini adalah ‘larangan’ bukan berarti kufur akbar. Akan tetapi maksudnya adalah peringatan keras agar tidak mengucapkan perkataan buruk ini, dan si penuduh berada dalam bahaya besar jika ia melakukannya. Maka hendaknya lisan ini dijaga serta tidak berbicara kecuali dengan dalil”. (Fatawa Syaikh Bin Baz No. 695).

Al-Imam Ibnu Abdil Barr mengatakan ;

والمعنى فيه عند أهل الفقه والأثر _أهل السنة والجماعة_ النهي عن أن يكفر المسلم أخاه المسلم ، بذنبٍ أو بتأويلٍ ، لا يخرجه من الإسلام عند الجميع ، فورد النهي عن تكفير المسلم ، في هذا الحديث وغيره بلفظ الخبر ،ـ دون لفظ النهي ، وهذا موجود في القرآن والسنة ،ومعروف في لسان العرب “.

“Dan hadis ini menurut ahli fiqih dan atsar, menurut ahlis sunnah wal jama’ah maknanya adalah larangan dari mengkafirkan orang islam yang melakukan dosa, atau karena salah takwil, dan ini tidak mengeluarkan dari islam menurut semua ulama. Ada larangan dari mengkafirkan orang islam dalam bentuk lafadz khabar di hadis ini dan hadis lainnya tanpa lafadz larangan, ini ada terdapat di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah dan metode ini satu hal yang sudah ma’ruf di lisan arab”. (At-Tamhid : 14/17).

Maka dari itu pendapat yang rajih yang lebih tepat khawarij itu tidak kafir berikut keterangan Al-Imam Ibnu Utsaimin :

اختلف العلماء في كفرهم ، والصحيح أنهم لا يكفرون ؛ فقد سئل عنهم علي بن أبي طالب رضي الله عنه : أكفار هم ؟ قال : ” من الكفر فروا ” ، فهم وقعوا في بدعة التكفير ، فلا نقع نحن في بدعة التكفير فنكفرهم ، هذا هو القول الراجح إن شاء الله تعالى

“Para ulama berbeda pendapat akan kekafiran khawarij, pendapat yang benar mereka tidak kafir. Ali bin Abi Thalib pernah ditanya ; ‘apakah khawarij kafir?’. Beliau menjawab ; ‘Mereka lari dari kekafiran’.

Maka khawarij ini terjerumus ke dalam bid’ah pengkafiran, dan kita tidak mau terjerumus seperti mereka dengan ikut-ikutan mengkafirkan mereka. Ini adalah pendapat yang lebih benar insya’Allah ta’ala”. (Syarah Lum’atul I’tiqad : 7/26).

Namun jika seseorang berkeyakinan halalnya mengkafirkan orang islam maka ia kafir dengan kekafiran besar yang mengeluarkan dari islam karena ia menghalalkan apa yang ALlah haramkan. Al-Imam An-Nawawi berkata ketika menafsirkan maksud hadits di atas :

أنه محمول على المستحل لذلك، فعلى هذا معنى ((باء بها)):أي بكلمة الكفر أي رجع عليه الكفر.

“Hadis ini dibawa kepada orang yang menganggap halal hal tersebut (pengkafiran orang islam). Inilah makna ucapan nabi ; ‘tuduhan kafir kembali pada si penuduh’.” (Syarah Shahih Muslim : 2/49).

Wallahu a’lam.

Referensi :

  • Fatawa Syaikh Bin Baz

  • At-Tamhid oleh Imam Ibnu Abdil Barr

  • Syarah Shahih Muslim oleh Imam Nawawi

  • Syarah Lum’atul I’tiqad oleh Imam Ibnu Utsaimin

Konsultasi Bimbingan Islam

Ustadz Abul Aswad Al Bayati

Baca:  Apakah Setan Masih Menggoda Jika Kita Sudah Hijrah dari Maksiat ke Taat?