Tentang Infak, Sedekah, Hibah Dan Hadiah

Tentang Infak, Sedekah, Hibah Dan Hadiah

Pertanyaan

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

Ustadz, ana ingin bertanya.
Apa perbedaan antara infak, sedekah, hibah, dan hadiah?

Di masyarakat penggunaan kata sedekah sepertinya bermakna pemberian baik untuk orang mampu maupun tidak mampu.

Manakah yang paling kita dahulukan dalam sedekah atau infak setelah keluarga?
Apakah yayasan panti asuhan (umum) dekat rumah atau untuk pembangunan ma’had sunnah atau wakaf Al-Quran?

Syukron, Ustadz.
Jazaakallaahu khoiron wa baarakallaahu fiik.

(Fulanah, Sahabat BiAS T05 G2-G28M)

Jawaban

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Mengenal Islam lebih dekat salah satu caranya adalah dengan mengetahui istilah-istilah syari’at, sehingga dapat dikatakan sebagai hal yang negatif apabila kita sebagai ummat Islam lebih familiar dengan istilah-istilah asing dibanding dengan istilah yang menjadi acuan dalam syari’at.

Salah satu yang rancu dalam istilah syari’at adalah perbedaan antara infak-sedekah, hibah-hadiah. Semoga penjelasan berikut dapat mengurai kerancuan dalam istilah-istilah tersebut.

Kata *Infak* dalam Al-Qur’an dan Hadits memiliki makna yang sangat luas dan umum, karena mencakup semua jenis pembelanjaan harta kekayaan.

Alloh Ta’ala berfirman, yang artinya:

وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُواْ لَمۡ يُسۡرِفُواْ وَلَمۡ يَقۡتُرُواْ وَكَانَ بَيۡنَ ذَٰلِكَ قَوَامٗا (٦٧)

_“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”_
(QS. Al-Furqan: 67)

Bahkan infak dapat diperuntukkan kesiapapun dan untuk tujuan apapun, baik untuk tujuan yang dibenarkan syariat atau yang diharamkan, semuanya disebut infak.

Coba kita perhatikan sikap dan ucapan orang-orang munafik ketika merencanakan kejahatan kepada Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, Alloh ta’ala berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُمۡ لِيَصُدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ فَسَيُنفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيۡهِمۡ حَسۡرَةٗ ثُمَّ يُغۡلَبُونَۗ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ جَهَنَّمَ يُحۡشَرُونَ (٣٦)

_“Sesungguhnya orang-orang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi penyesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka Jahanamlah orang-orang kafir itu dikumpulkan.”_
(QS. Al-Anfal: 36)

Karena itulah jika kita berinfak, hendaklah disertai dengan penjelasan infak di jalan Alloh, sebagaimana yang Alloh firmankan:

وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ … (١٩٥)

_“Dan infakkanlah/belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah.”_
(QS. Al-Baqarah: 195)

Adapun *sedekah* maknanya lebih khusus dibanding infak, karena sedekah terkhusus pada kebaikan. Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

كُلُّ مَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ

_”Setiap kebaikan adalah sedekah”_ [HR. Muslim 1005].
Imam an-Nawawi rohimahulloh mengomentari hadits di atas: “Maksudnya setiap kebaikan itu memiliki hukum yang sama dengan sedekah dalam hal pahala.”
[Syarah Shahih Muslim VII/91]

Dalam hadits yang lain Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam mencontohkan macam-macam sedekah:

تَبَسُّمُكَ فِـيْ وَجْهِ أَخِيْكَ لَكَ صَدَقَةٌ ، وَأَمْرُكَ بِالْـمَعْرُوْفِ وَنَهْيُكَ عَنِ الْـمُنْكَرِ صَدَقَةٌ ، وَإِرْشَادُكَ الرَّجُلَ فِـيْ أَرْضِ الضَّلاَلِ لَكَ صَدَقَةٌ ، وَبَصَرُكَ لِلرَّجُلِ الرَّدِيْءِ الْبَصَرِ لَكَ صَدَقَةٌ ، وَإ ِمَاطَتُكَ الْـحَجَرَ وَالشَّوْكَةَ وَالْعَظْمَ عَنِ الطَّرِيْقِ لَكَ صَدَقَةٌ ، وَإِفْرَاغُكَ مِنْ دَلْوِكَ فِـيْ دَلْوِ أَخِيْكَ لَكَ صَدَقَةٌ

_”Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah, engkau menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran adalah sedekah, engkau memberi petunjuk kepada orang di tempat ia tersesat adalah sedekah, engkau menuntun/menunjuki orang yang lemah penglihatannya adalah

Sedekah, engkau menyingkirkan batu, duri, dan tulang dari jalan adalah sedekah, dan engkau menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu adalah sedekah.”_
[HR At-Tirmidzi 1956]

Bahkan, sedekah itu bukan hanya kebaikan dari sisi kita sebagai pemberi, namun juga dari sisi Alloh, sebagaimana dalam hadits shahih yang membahas tentang shalat qoshor:

صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللهُ بِـهَا عَلَيْكُمْ ؛ فَاقْبَلُوْا صَدَقَتَهُ

_“Ia adalah sedekah yang diberikan Allah kepada kalian, maka terimalah sedekah-Nya.”_  [HR. Muslim no. 686, Ahmad I/25, Abu Dawud no. 1199]

Dan kata sedekah sejatinya juga memiliki makna yang sama dengan kata zakat, sebagaimana disebutkan pada ayat berikut, yang artinya:

خُذۡ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡ صَدَقَةٗ تُطَهِّرُهُمۡ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيۡهِمۡۖ … (١٠٣)

_“Ambillah sedekah atau zakat dari sebagian harta mereka, dengan sedekah/zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.”_
(QS. At Taubah: 103)

Berdasarkan ayat di atas, Imam Mawardi menyimpulkan: Sedekah adalah zakat dan zakat adalah sedekah. Dua kata yang berbeda teksnya namun memiliki arti yang sama. (al-Ahkam as-Sulthaniyyah, Hal. 145)

Inilah yang menjadikan sedekah itu tujuannya hanya mengharap ridho Alloh ‘Azza wa Jalla semata. Karenanya, sering kali kita tidak perduli bahkan mungkin tidak merasa perlu untuk mengenal nama penerima sedekah kita.

Dan berkenaan tentang *Hibah dan Hadiah*, ini dua kata yang hampir semakna, yang membedakan hanya latar belakang sebab pemberiannya saja. Ketika Anda memberikan sebagian harta kepada orang lain yang tujuan utama dari pemberian Anda adalah rasa iba dan keinginan menolong orang lain, maka pemberian seperti ini diistilahkan dengan hibah.

Rasa ibalah yang menjadi tolok ukur utama Anda ketika melihat kondisi penerima pemberian dibanding kesadaran untuk memohon pahala dari Allah.
Sementara hadiah, lebih pada hal yang sifatnya umum, tanpa harus didasari rasa iba. Bahkan biasanya didasari rasa sayang atau cinta. Mengapa? Karena biasanya kita tidak akan mudah memberikan suatu hadiah pada orang lain, melainkan karena hal spesial atau tujuan tertentu.
Singkatnya, hanya orang-orang spesial dalam hidup Anda lah yang berhak atau yang biasanya mendapatkan hadiah Anda.

Lalu pertanyaan tentang prioritas sedekah setelah keluarga, antara yatim piatu atau panti asuhan sekitar tempat tinggal dengan yayasan sunnah. Jawabannya adalah seimbang, keduanya memiliki keutamaan dengan sudut pandang tertentu. Dan adilnya, adalah dengan menyeimbangkan keduanya. Kenapa?

1. Dengan memberikan sedekah pada yayasan sunnah, maka berarti kita membantu mengembangkan dakwah sunnah atau salaf, serta ikut berpartisipasi dalam mensyiarkan manhaj para salafus sholih.

2. Adapun sedekah pada yatim piatu atau panti asuhan disekitar tempat tinggal kita, berarti kita mensyiarkan kebaikan pada sekeliling, menjadikan diri kita model manusia muslim bermanhaj salaf yang peka terhadap keadaan sekitar, membuktikan bahwa orang yang menegakkan sunnah juga peduli pada lingkungannya, bukan hanya mementingkan ibadah namun juga adab terhadap sesama. Serta menjadi pelunak hati bagi orang-orang sekitar yang masih antipati terhadap dakwah sunnah atau salaf.

Wallohu A’lam
Wabillahit Taufiq

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله

Tanya Jawab
Grup WA Bimbingan Islam T05
Jum’at, 25 Jumadil Akhir 1438H / 24 Maret 2017M

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS