Teknologi Dan Peradaban Dalam Sorotan Islam – Bagian Terakhir

Teknologi Dan Peradaban Dalam Sorotan Islam – Bagian Terakhir

Teknologi Dan Peradaban Dalam Sorotan Islam – Bagian Terakhir

Para pembaca Bimbinganislam.com yang selalu mencari keridhoan Allah berikut kami sajikan pembahasan tentang teknologi dan peradaban dalam sorotan islam, serta bagaimana cara kita menyikapi teknologi yang ada dan akan datang.
selamat membaca.


Boleh jadi akan ada di masa yang akan datang, perkembangan teknologi dan kemajuannya melampaui imajinasi kita yang sekarang berada di era digital, ini merupakan sebuah keniscayaan sebagaimana orang-orang terdahulu kebanyakan mereka belum membayangkan apa yang terjadi sekarang ini.

Berangkat dari sini, para ulama Islam membuat patokan kaidah bahwa hukum asal alat teknologi modern dan memanfaatkannya dalam kebutuhan dan kebaikan adalah boleh karena ini termasuk urusan dunia, sampai ada dalil yang melarangnya, karena mengandung kerusakan dan berbahaya.

Pemanfaatan Penemuan Dan Produksi Kemajuan Teknologi Non Muslim

Jika ada yang berkata:
“Bagaimana bila alat dunia modern tersebut ditemukan oleh orang kafir. Apakah tetap boleh menggunakannya ataukah tidak?  karena termasuk larangan tasyabbuh dengan orang kafir?!”

Jawabannya:
Hukum asalnya adalah boleh sekalipun hasil penemuan kaum kafir.
Bukankah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam saat perang dahulu menerima strategi pembuatan parit sebagaimana usulan sahabat Salman al-Farisi radhiallahu’anhu ketika Perang Khandaq?!
Jadi, Nabi Shallallahu’alaihi wasallam tetap menerima strategi tersebut walaupun belum dikenal bangsa Arab, karena berasal dari orang-orang kafir penyembah api, dan Nabi kita yang mulia Shallallahu’alaihi wasallam tidak mengatakan bahwa strategi perang ini najis dan kotor karena berasal dari otak orang kafir.

Demikian juga, tatkala Nabi Shallallahu’alaihi wasallam berhijrah ke Madinah, beliau meminta bantuan dan mengupah seorang penunjuk jalan yang kafir bernama Abdullah al-Uraiqith.

Semua itu menunjukkan bolehnya mengambil manfaat dari orang-orang kafir dalam masalah duniawi dengan tetap mewaspadai virus agama mereka.

Syaikh Muhammad ibn Shalih al-Utsaimin rahimahullah  berkata :
“Yang dilakukan oleh musuh-musuh Allah dan musuh-musuh kita yaitu orang-orang kafir terbagi menjadi tiga bagian: (1) ibadahibadah, (2) adat-adat kebiasaan, dan (3) teknologi, keahlian-keahlian, dan pekerjaan-pekerjaan.

Adapun (1) ibadah-ibadah maka termasuk yang dimaklumi bahwa tidak boleh bagi seorang muslim pun untuk menyerupai mereka di dalam ibadah-ibadah orang-orang kafir.
siapa saja yang menyerupai mereka di dalam ibadah-ibadah mereka, maka sungguh dia dalam bahaya yang besar, maka kadang-kadang hal itu membawa kepada dosa kekufuran dan bahkan keluar dari agama Islam.

Adapun (2) adat kebiasaan mereka seperti pakaian dan yang lainnya yang menjadi ciri khas, maka sejatinya diharamkan menyerupai mereka di dalamnya berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi wasallam;

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.”
(hadits Shahih. HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031)

Adapun (3) teknologi-teknologi dan keahlian-keahlian yang di dalamnya ada maslahat untuk umum, maka tidak mengapa kita mempelajari dari hasil produksi yang mereka buat dan mengambil faedah darinya.
Serta ini bukanlah termasuk bagian tasyabbuh, melainkan termasuk bab keikutsertaan di dalam pekerjaan-pekerjaan yang mubah bermanfaat yang pelakunya tidak dianggap bertasyabbuh dengan mereka.
(lihat Kitab Majmu’ Fatawa wa Rasa‘il Ibn Utsaimin 3/40).

Etika Seorang Muslim Dalam Kehidupan Super Modern

Di manapun bumi dipijak, dan selama langit masih dijinjing, maka seorang muslim sejati selalu mempunyai ciri khas dan sikap yang jelas guna menjaga agamanya mulia dan mempertahankan keimanannya dari berbagai macam cobaan dan ujian.

Berikut ini beberapa sikap yang patut ditempuh dan harus dilalui di tengah gegap gempita arus kemajuan teknologi modern :

1. Semuanya Membutuhkan Ilmu

Sebuah kaidah berbunyi :

الْحُكْمُ عَلَى الشَّيْءِ فَرْعٌ عَنْ تَصَوُّرِهِ

“Menghukumi sesuatu adalah cabang dari gambaran permasalahannya.”

maka setiap orang yang hendak mempelajari hukum suatu masalah, khususnya masalah-masalah kekinian, hendaknya dia menempuh beberapa langkah berikut:

• Mengetahui gambaran masalah secara jelas,
Mencari dalil atau kaidah yang sesuai dengan hukum masalah,
Mempraktikkan hukum syar’i tersebut pada permasalahan.

Jangan heran kalau imam Bukhari rahimahullah membuat judul Bab dalam kitab Shahihnya “Bab Ilmu sebelum berucap dan berbuat”. Oleh Sebab itu, seorang mukmin yang berkomitmen dengan agamanya, sebelum menggunakan alat-alat teknologi dan segala pernak-pernik kemajuannya, hendaknya mempelajari terlebih dahulu apakah alat (atau teknologi) tersebut boleh digunakan ataukah tidak?!.

Apabila seorang muslim tidak mampu untuk mengetahui permasalahan agama secara detil maka harus bertanya kepada orang yang berilmu yang jujur keilmuannya dan memiliki kredibilitas.
Dan jika telah berusaha mencari dan bertanya kepada ahli ilmu, namun dia belum mendapatkan ahli yang benar-benar dapat dipercaya maka hendaklah dia tawaqquf (berdiam diri) tidak memasuki ranah permasalahan yang mana belum mengetahui ilmu tentangnya.

Perhatikanlah apa yang dikatakan seorang alim di zamannya :
“Barang siapa (mendapat) kesulitan tentang sesuatu humum perkara maka hendaknya berhenti, tidak boleh baginya untuk menisbahkan kepada Allah Ta’ala suatu ucapan dalam agama-Nya padahal tidak ada dalilnya.
Hal ini tiada perselisihan di kalangan ulama umat semenjak dahulu hingga sekarang. Perhatikanlah.”
(Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi oleh Ibnu Abdil Bar, 2/848).

2. Menjaga keimanan dan istiqomah di atasnya

Zaman berubah, islam kembali menjadi asing di tengah-tengah rusaknya peradaban, maka yang harus selalu diingat adalah terus istiqomah di atas kebenaran.

Allah Ta’ala berfirman:

وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”.
(QS. Al-Baqarah Ayat 132)

Menghadapi  kemajuan teknologi berupa alat-alat modern super canggih ini ibarat sebuah pisau bermata dua, ada sisi positif dan negatifnya tergantung pada siapa yang menggunakannya.
Islam, pada dasarnya, tidak melarang perkembangan dan kemajuan teknologi karena memang hukum asalnya boleh.

Namun, harus disadari bahwa para setan dari kalangan jin dan manusia tidak akan duduk saja berpangku tangan. Mereka (para setan itu) berusaha menjadikan semua sarana teknologi tersebut tersebut guna memangsa korban yang lalai untuk dirusak iman dan akhlak mereka.
Sungguh betapa banyak kerusakan dan kemaksiatan yang sumbernya adalah kemajuan yang datang setelah ketertinggalan sebelumnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلاَّ وَالَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ

“Tidak datang kepada kalian suatu zaman kecuali zaman setelahnya lebih jelek darinya (yakni dari zaman sebelumnya) hingga kalian bertemu dengan Rabb kalian.”
(Hadits Shahih, HR. Bukhari, no. 706).

3. Mawas diri dan Cross check

Memasuki dunia keterbukaan melalui dunia nyata maupun maya menjadikan setiap insan terus berhati-hati dan bersikap tatsabbut (memeriksa dengan teliti) setiap interaksi yang ada di sekitarnya.

apa yang diucapkan, yang dia dengarkan, yang dia baca, dan yang dia nukil, harus dipastikan kebenaran sumbernya. karena tidak semua yang ada pasti benar adanya.
Bahkan betapa banyak gosip dan berita miring di era ini, hanyalah kepalsuan alias hoax belaka!!
Allah Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن جَآءَكُمْ فَاسِق بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَافَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

 “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
(QS. al-Hujurat [49]: 6)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga memberikan arahan dalam sabdanya:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang berdusta jika menyampaikan semua yang dia dengar.”
(Hadits Shahih. HR. Muslim 1/8).

Sejatinya semua kaum muslimin harus memperhatikan ayat ini dengan benar, untuk mereka baca, pelajari tafsirnya, renungi, kemudian beradab dengan adab yang ada padanya.

Betapa banyak fitnah yang terjadi akibat berita dusta yang disebarkan orang fasiq yang jahat!
Betapa banyak darah yang tertumpah, jiwa yang terbunuh, harta yang terampas, kehormatan yang terkoyakkan, akibat berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan!
Berita yang dibuat oleh para musuh Islam dan musuh dalam selimut dari umat ini. Dengan berita itu, mereka hendak menghancurkan persatuan umat ini, mencabik-cabiknya dan mengobarkan api permusuhan diantara umat Islam. “Adakah yang mau mengambil pelajaran???”

Semoga Allah Ta’ala memberikan Taufiq kepada semuanya.
Wallahu Ta’ala A’lam bis Shawab.

Disusun oleh:
Ustadz Fadly Gugul حفظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)



Ustadz Fadly Gugul حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS