Gadis atau Ayam?

Gadis atau Ayam?

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Saudaraku,
Andai kita memiliki hewan piaraan, sebagai contoh ayam, maka ketika tiba saatnya yaitu saat butuh uang, kita akan jual ayam-ayam piaraan itu ke pasar atau ke pedagang.

Dan saat proses jual beli ayam itu berlangsung, proses tawar menawar dari satu penawar ke penawar lainnya, pastilah ayam tersebut akan kita lepas pada penawar tertinggi.

Kita tidak akan rela melepaskan ayam-ayam piaraan kita kepada sembarang orang.

Sangat lumrah apabila kita menginginkan ayam piaraan dibeli dengan harga mahal, apalagi jika piaraan tersebut adalah kesayangan kita.
Jika dalam urusan ayam piaraan kita berusaha mencari pembeli dengan penawaran tertinggi, tapi ironisnya untuk urusan jodoh anak perempuan, banyak dari kita yang hanya menanti dan enggan untuk menawarkan, sehingga penawaran tinggi pun jarang menghampiri.
Banyak orangtua rela melepaskan anak gadis kesayangannya kepada sembarang lelaki yang datang melamar putrinya. Bahkan banyak orangtua yang justru ego atau gengsi jika menawarkan putrinya kepada lelaki biasa, padahal predikat biasa itu hanya menurut sisi duniawi namun istimewa dari sisi yang lain.

Bukan penawaran istimewa berupa uang atau barang yang dimiliki, namun penawaran istimewa berupa pendidikan agama, tanggung jawab dan perlindungan.

Akankah ayam lebih bernilai anak gadisnya?

Karena itu tidak perlu malu dalam menawarkan anak gadis kita, dengan catatan bukan menawarkan kepada sembarang lelaki, namun tawarkan kepada lelaki yang sholeh yang siap menjadi suami yang sholeh dan bertanggung jawab.
Teladanilah Syu’aib ‘alaihissalam ketika beliau menawarkan putrinya kepada lelaki miskin namun sholeh yaitu nabi Musa ‘alaihissalam:

قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَى أَن تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِندِكَ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ

Ia (Syu’aib ) berkata: aku hendak menikahkanmu dengan salah satu dari kedua putriku ini, dengan ketentuan engkau bekerja padaku (menggembala kambing-kambingku) selama delapan tahun, dan jikalau engkau menggenapkannya menjadi sepuluh tahun maka itu sepenuhnya adalah kebaikan darimu (berpulang kepadamu), sedangkan aku tidak ingin menyusahkanmu. Dan insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sholeh (baik). (Al Qashash 27)

Karenanya saudaraku, para ayahanda sekalian, jangan ragu dan malu.. bahkan hanya terus menunggu, tapi segera tawarkan putri anda. Itu juga bagian dari Sunnah!

Wallohu A’lam
Wabillahit Taufiq

Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)

TAUSIYAH
Bimbinganislam.com
Jumat, 21 Ramadhan 1438H / 16 Juni 2017M

CATEGORIES
Share This

COMMENTS