FiqihKonsultasi

Tanggung Jawab Pelunasan Utang Anak Yang Bercerai

Pendaftaran Grup WA Madeenah

Tanggung Jawab Pelunasan Utang Anak Yang Bercerai

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Tanggung Jawab Pelunasan Utang Anak Yang Bercerai, selamat membaca.


Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ustadz ana mau bertanya “Ada si fulanah memiliki anak yang dimana sudah menikah, terus anak si fulanah ini ikut suaminya merantau. Nah terus berselang waktu berlalu si anak fulanah ini bercerai dengan suaminya karena ada sebab sesuatu yang sangat fatal. Dan Anak si fulanah ini banyak meninggalkan utang di tempat kerja mantan suaminya. Awalnya anak si fulanah ini gak mau ikut pulang kerumah Si fulanah dikarenakan mau melunasi utang sambil bekerja.

Tetapi utang tersebut gak kunjung lunas malah tambah banyak. Istilahnya Gali lubang tutup lubang gali lubang tutup lubang. Terus utang utangnya ini di lunasi oleh si fulanah. Tapi ada anaknya si fulanah yang lainnya merasa iri karena utang utang anaknya yang bercerai ini di lunasi sedangkan utang utang anaknya yang berstatus bersuami tidak di lunasi. Padahal si fulanah ini sudah lansia yang dimana sudah waktunya beristirahat di rumah.

Terus pertanyaannya siapa yang bertanggung jawab atas utang dari anak yang sudah bercerai, dan apakah layak anak yang bersuami yang masih mampu, masih kuat melunasi utang tersebut meminta lunasi utangnya ke si fulanah tersebut. Sedangkan si fulanah ini hidupnya pas-pas an.

Ana minta penjelasannya ustadz biar saudara-saudara ini tidak memiliki iri hati terhadap saudara lainnya. Karena saudara yang satu ke saudara yang satunya lagi suka menggosip atau meluapkan ke irian hatinya.

جزاك اللهُ خيراً

Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Pada asalnya ibu tidak ada kewajiban untuk membayarkan hutang anaknya di masa hidup atau wafat,
Ibnu Qudamah Rahimahullah mengatakan:

فَإِنْ لَمْ يَخْلُفْ تَرِكَةً، لَمْ يُلْزَمْ الْوَارِثُ بِشَيْءٍ؛ لِأَنَّهُ لَا يَلْزَمُهُ أَدَاءُ دَيْنِهِ إذَا كَانَ حَيًّا مُفْلِسًا، فَكَذَلِكَ إذَا كَانَ مَيِّتًا

“Jika mayit tidak meninggalkan harta waris sedikitpun, maka ahli waris tidak memiliki kewajiban apa-apa. Karena mereka tidak wajib melunasi hutang si mayit andai ia bangkrut ketika masih hidup, maka demikian juga, mereka tidak wajib melunasinya ketika ia sudah meninggal(Al Mughni, 5/155).

Tapi disunnahkan atau dianjurkan untuk membantu melunasi hutang mayit oleh ahli warisnya.

Al Bahuti mengatakan:

فإن تعذر إيفاء دينه في الحال، لغيبة المال ونحوها استُحب لوارثه ، أو غيره : أن يتكفل به عنه

“Jika hutang mayit tidak bisa dilunasi ketika ia meninggal, karena tidak adanya harta padanya, atau karena sebab lain, maka dianjurkab bagi ahli waris untuk melunasinya. Juga dianjurkan bagi orang lain untuk melunasinya” (Kasyful Qana, 2/84)

Tapi jika sudah telanjur melunasi yang sampai membuat anak-anak cemburu maka minta pengertiannya atas perbuatan yang sudah dilakukan dan mungkin kalo ibu punya uang lebih ibu bantu tapi kamu liat ya keadaan ibu.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh: 
Ustadz Fikri Hilabi, S.Ag. حافظه الله

Related Articles

Back to top button