Home Konsultasi Tafsir “Seseorang yang Berdosa Tidak Akan Memikul Dosa Orang Lain”

Tafsir “Seseorang yang Berdosa Tidak Akan Memikul Dosa Orang Lain”

Tafsir
Para pembaca yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain

Tafsir “Seseorang yang Berdosa Tidak Akan Memikul Dosa Orang Lain”

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang tafsir “seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain”.
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemudahan kepada kita semua agar tetap istiqamah di atas manhaj salaf, aamiin.

‘Afwan yaa Ustadz, mohon ijin bertanya.

“Seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” (QS. Az-Zumar ayat 7).

Apa makna ayat di atas dengan dosa jariyah, misal seseorang pelopor bid’ah sehingga banyak orang yang mengamalkan bid’ah tersebut?

Jazaakallahu khairan, wa baarakallaahu fiik.

(Disampaikan oleh Fulanah, sahabat BiAS).


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

 

Secara tampak sekilas antara dua hal tersebut memberikan kesan bertentangan, yaitu antara apa yang disebutkan di ayat 7 bahwa seorang yang berdosa akan memikul beban dosanya sendiri dan tidak akan memikul dosa orang lain, namun dalam keterangan yang lain nyatanya pelaku/pelopor kebidahan dan kesesatan kelak akan mendapat dosa jariah dari orang-orang yang mengikutinya, seperti yang disebutkan dalam hadits,

Baca Juga:  Menghadiri Undangan Makan Caleg?

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

“Barangsiapa yang mencontohkan sunnah yang baik di dalam Islam maka baginya pahala dan pahala orang yang mengerjakan sunnah tersebut setelahnya tanpa mengurangi dari pahala-pahala mereka dan barangsiapa yang mencontohkan sunnah yang buruk di dalam Islam maka baginya dosa dan dosa yang mengerjakan sunnah yang buruk tersebut setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa sedikitpun pelakunya”. (HR. Muslim no. 1017, Tirmidzi no. 2675).

Lantas Bagaimana Memahami Dua Hal Tersebut?

Satu sisi dikatakan bahwa seseorang tidak menanggung beban kesalahan orang lain, di sisi yang lain dikatakan bahwa pelopor kesesatan mendapat dosa jariyah dari para pengikut yang ikut menjadi tersesat karena sebabnya.

Baca Juga:  Menghadapi Fitnah Di Jalan Raya

Untuk mengkompromikannya, bisa kita melihat apa yang disampaikan dalam fatwa islamqa.com dibawah asuhan Syaikh Muhammad Solih al-Munajjid berikut ini,

أئمة الكفر والضلال، الذين دعوا الناس إلى الكفر، أو الضلال ، أو المعاصي، فتأثروا بهم ، وعملوا بأعمال السوء التي تعلموها من سادتهم وكبرائهم ؛ سوف يتحمل هؤلاء السادة والكبراء وزر من تبعهم على هذه الأعمال. وليس ذلك لأنهم يتحملون ذنب غيرهم ، ولا أنهم يزرون أوزار الناس؛ لا ، بل هم يتحملون وزر أنفسهم هم ، ووزر عمل الدعوة إلى الضلال، وسنن السوء التي سنوها للناس ، ويبقى إثم أتباعهم على السوء والمعاصي عليهم

“Para imam kekufuran dan kesesatan, mereka para penyeru pada kekufuran atau kesesatan atau kemaksiatan, kemudian menjadikan orang-orang terpengaruh dengan mereka, lantas mereka beramal buruk dari apa yang mereka pelajari melalui pembesar mereka yang sesat, maka para pembesar tersebut kelak akan menanggung dosa orang yang mengikuti mereka, hal tersebut bukan dimaknai bahwa mereka menanggung dosa dari pengikutnya, atau mereka membawa dosa orang lain, namun sejatinya mereka menanggung dosa mereka sendiri, dosa perbuatan menyeru pada kesesatan, dosa memberikan contoh buruk yang ditinggalkan untuk manusia, namun tetaplah dosa dan kesalahan para pengikut, mereka sendirilah yang menanggungnya”. Lihat: https://islamqa.info/ar/answers/318698/الجمع-بين-قوله-تعالى-ولا-تزر-وازرة-وزر-اخرى-مع-وضع-السيىات-على-بعض-الناس

Baca Juga:  Akhwat Jadi Youtubers? Apa Sudah Tahu Hukum Akhwat Upload Video ke Youtube?

Kesimpulan

Jadi kesimpulan maknanya adalah benar bahwa setiap orang akan menanggung dosa dan kesalahan mereka sendiri, orang-orang yang tersesat akan memikul dosa atas kesesatan mereka, dan hal tersebut tidak dilimpahkan kepada orang lain.

Adapun para pembesar/imam kesesatan, mereka sejatinya memikul dosa kesesatan mereka sendiri, namun mereka juga ditambah memikul dosa karena menjadi sebab sesatnya orang lain, yang mana hal tersebut juga sejatinya adalah bagian dari upaya dan perbuatan mereka sendiri.

Wallahu a’lam.

 

Dijawab oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Jum’at, 26 Sya’ban 1442 H/ 9 April 2021 M



Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله 
klik disini