Sunnah Membersihkan Bekas Haid Dengan Kapas dan Minyak Wangi

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang sunnah membersihkan bekas haid dengan kapas dan minyak wangi.
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga ustadz selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ustadz izin bertanya..
Saya pernah membaca, bahwa kalau mandi nifas atau haid itu menggunakan kapas yang diberi minyak wangi, kemudian bersuci dengan kapas tersebut… Apakah ini benar, sebab saya tidak menemukan tata cara ini sebelumnya, dan kalau benar apakah ini dilakukan setelah selesai mencuci kaki (bagian akhir cara mandi wajib)?
Syukron ustadz..

(Disampaikan oleh Fulanah, Member grup WA BiAS)


Jawaban :

Baca Juga:  Pendapat Ulama Besar Madzhab Syafi'i Tentang Musik

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Alhamdulillāh wa shalātu wa salāmu ‘alā rasūlillāh.

Ketika seorang wanita telah selesai dari haidh dan nifas maka dia diwajibkan mandi junub untuk mengangkat hadats besar dari dirinya sebelum dia melaksanakan sholat atau ibadah lainnya yang mengharuskan thoharah.

Sedangkan kapas yang diberi minyak wangi dianjurkan untuk digunakan setelah mandi bukan untuk bersuci melainkan untuk menghilangkan aroma dari bekas haidh/nifas.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tatkala ditanya tentang bersuci dari haidh:

تَأْخُذُ إحْداكُنَّ ماءَها وسِدْرَتَها، فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ، ثُمَّ تَصُبُّ عَلى رَأْسِها فَتَدْلُكُهُ دَلْكًا شَدِيدًا حَتّى تَبْلُغَ شُؤُونَ رَأْسِها، ثُمَّ تَصُبُّ عَلَيْها الماءَ، ثُمَّ تَأْخُذُ فِرْصَةً مُمَسَّكَةً فَتَطَهَّرُ بِها» فَقالَتْ أسْماءُ: وكَيْفَ تَطَهَّرُ بِها؟ فَقالَ: «سُبْحانَ اللهِ، تَطَهَّرِينَ بِها» فَقالَتْ عائِشَةُ: كَأنَّها تُخْفِي ذَلِكَ تَتَبَّعِينَ أثَرَ الدَّمِ

“Wanita tersebut mandi dengan air dan daun bidara. kemudian dia siramkan air ke atas kepalanya, lalu dia gosok-gosok sampai ke kulit kepalanya, kemudian barulah dia membasahi seluruh badannya. Kemudian ambillah sepotong kain/kapas yang telah dibubuhi minyak wangi dan bersucilah dengannya.
Asma pun berkata: bagaimana cara bersuci dengan kain dan kapas tersebut?
Rasulullah pun berkata: Subhanallah, bersucilah dengan kapas tersebut. (rasulullah risih untuk menjelaskannya).
Maka Aisyah pun segera berbsisik kepada Asma, engkau bersihkan area yang terkena darah haidh.”
(HR. Muslim : 332).

BACA JUGA
Baca Juga:  Cucu Juga Ahli Waris Kakek, Ini Syaratnya

Imam Nawawi berkata:

أنَّ المُرادَ تَطَيُّبُ المَحَلِّ وإزالَةُ الرّائِحَةِ الكَرِيهَةِ وأنَّ ذَلِكَ مُسْتَحَبٌّ لِكُلِّ مُغْتَسِلَةٍ من الحيض اوالنفاس سَواءٌ ذاتَ الزَّوْجِ وغَيْرَها وتَسْتَعْمِلُهُ بَعْدَ الغُسْلِ

“Maksudnya adalah mewangikan serta menghilangkan aroma yang tidak sedap dari area tersebut. perbuatan ini disunnahkan untuk setiap wanita yang mandi junub dari haid atau nifas, baik wanita tersebut memiliki suami atau tidak, wewangian tersebut digunakan setelah mandi.”
(Syarh shohih Muslim: 4/14).

Wallahu a’lam

Dijawab oleh :
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
Jum’at, 26 Rabiul Akhir 1442 H / 11 Desember 2020 M



Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini

Baca Juga:  Haji Namun Menunggu Lama, atau Umrah yang Langsung Berangkat?