Sukses di Bumi Perantauan

Sukses di Bumi Perantauan

 

Hakikat Perantauan

Keberadaan bangsa manusia di muka bumi ini sebenarnya adalah keberadaan yang semu. Ia bukanlah tempat singgah selamanya, bukan pula tempat yang menjanjikan bagi siapa saja yang menyinggahinya. Memang gemerlapnya dunia kerap kali membuat orang terlena akan keadaannya yang sesungguhnya. Angan-angannya selalu saja mendidik manusia untuk terus membangun dunianya. Berapa banyak waktunya yang ia habiskan untuk kepentingan dunia, hingga lupa akan kehidupan berikutnya yang kekal abadi.

Bertahun-tahun orang mengenyam pendidikan demi sebuah dunia yang diimpikannya. Tak ayal jika seandainya kegagalan pendidikan dinilai sebagai kegagalan dunia. Seakan sudah tidak ada lagi harapan berikutnya. Ini semua bermuara kepada dunia yang diorientasikan.

Sebaliknya, ketidaktahuan dalam perkara akhirat (baca: agama) justru dianggap remeh seakan tak memiliki efek yang berarti. Berapa banyak hukum-hukum Allah yang sama sekali terluput, namun sangat mahir mengenai keduniaan. Sepanjang hidupnya merasa puas dengan predikat awam, namun tidak rela awam mengenai keduniaan.

 يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (Q.S. Ar-Rum 30:7)

Aduhai, alangkah malang orang-orang yang disinggung ayat ini!?

Bukankah Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah mewanti-wanti:

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ فِي قَلْبِهِ ، وَشَتَّتَ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْهَا إِلا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ أَكْبَرَ هَمِّهِ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ ، وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

Sesiapa yang orientasinya adalah dunia, Allah akan mencerai urusannya, dan menjadikan kemiskinan ‘menghantuinya’, dan ia tidak akan memperoleh dunia melainkan apa yang telah ditetapkan untuknya. Sedangkan orang yang cita-cita terbesarnya adalah akhirat, maka Allah menjadikan kekayaan dalam hatinya, menghimpunkan urusannya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.” (HR Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban)

Bunga Indah Dunia

Dalam Al-Quran, Allah menyifati dunia bagaikan bunga kehidupan. Allah berfirman:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Q.S. Thaha 20: 131)

Kenapa demikian? Sebab bunga itu nyaman dilihat, memikat siapa saja yang memandangnya, bahkan tak pernah jemu meliriknya hingga sering timbul hasrat untuk memetiknya untuk kemudian dibawa pulang. Namun tahukah kita seaindainya bunga mekar itu benar-benar kita petik dari tangkainya? Tentu tidak berapa lama akan layu pula dan kesudahannya hanya akan dibuang di tempat sampah!

Akan tetapi kalau kita mau sedikit saja bersabar membiarkan bunga tersebut berada di tangkainya, seiring berjalannya waktu ia akan berubah menjadi buah yang tidak kalah eloknya. Bukan saja nikmat untuk dilihat, tetapi lezat untuk dimakan. Permasalahannya ialah hanya butuh sedikit sabar.

Bagai Awak Kapal Lupa Daratan

Dunia pun demikian. Ia begitu menawan nun mempesona. Siapa saja memiliki hasrat untuk bersenang-senang di dalamnya. Namun keindahan dunia hanyalah fatamorgana. Ia tidaklah kekal abadi.

Allah berfirman:

مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (Q.S. Asy-Syura 42:20)

Sungguh betapa indah permisalan yang dibawakan oleh Imam Abu Hamid Al-Ghazali –rahimahullah– dalam Ihya’ ‘Ulumiddin (III/231-232). Beliau berujar, “Ketahuilah bahwa perumpamaan penduduk dunia dalam pada kelalaian mereka laksana suatu kaum yang menaiki kapal hingga membawa mereka sampai pada suatu pulau tertentu. Maka nahkoda kapal pun menyuruh awak kapal supaya turun kapal untuk menyelesaikan keperluan masing-masing dan mengingatkan mereka agar tidak tinggal di pulau tersebut, ia juga mewanti-wanti bahwa kapal akan segera berlayar kembali. Awak kapal pun pada berhamburan ke berbagai sudut pulau.

Di antara mereka pun pergi menunaikan keperluannya dan kemudian bergegas kembali ke kapal. Namun tatkala demikian itu ia menjumpai suatu tempat yang senggang. Ia pun kemudian memilih tempat yang paling luas dan enak untuk keinginannya.

Sebagian yang lain ada yang berdiam di pulau itu melihat-lihat cahaya, bunga-bunganya yang menakjubkan, pepohonannya yang saling menyelimuti, nyanyian burung-burungnya yang amat memukau. Ia juga tertegun oleh tanahnya, bebatuannya, permatanya, logamnya yang beragam warna dan bentuknya yang indah menawan hingga memikat siapa pun yang melihatnya.

Di saat demikian itu ia pun baru menyadari bahwa ia akan tertinggal oleh kapal. Bergegaslah ia menuju kapal namun ternyata ia hanya mendapati sebuah tempat yang amat sempit. Akhirnya ia pun bertinggal di sana.

Di sana pun ada beberapa orang yang semisalnya. Berpencar ke berbagai pulau mencari sesuatu yang indah-indah untuk dibawanya pulang hingga sebagiannya merasa khawatir akan hewan buas yang mengintainya, sebagiannya merasa takut tertinggal oleh kapal, dan sebagiannya ada yang tersesat bingung jalan kembali menuju kapal.

Sedangkan orang-orang yang berhasil menuju ke kapal dengan berbagai ‘oleh-oleh’ yang mereka dapat dari pulau berupa bunga yang menawan dan batu-batu mulia, di kemudian waktu merasa terbebani dengan bawaannya itu. Bunga yang awalnya indah mulai membusuk, warna bebatuan yang memudar menjadi buruk rupa sehingga karena terganggu dengan itu semua, tak ada jalan lain melainkan membuangnya ke lautan. Sedangkan apa yang sempat dimakannya, di kemudian waktu mulai timbul reaksi negatif yang pada akhirnya sepulangnya dari kapal ia pun sakit dari busuknya makanan tadi.

Demikianlah perumpamaan orang yang disibukkan oleh kesenangan dunia yang sementara dan melupakaan tempat kembali dan kampung halamannya.”

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di Antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani; kemuidan (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning  kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada zab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.” (Q.S. Al-Hadid 57: 20)

Allah juga berfirman:

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (Q.S. Al-‘Ankabut 29: 64)

Padahal, tujuan Allah menciptakan manusia tidak lain dan tidak bukan adalah untuk semata-mata menyembah-Nya. Allah Ta’ala menyatakan,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Q.S. Adz Dzaariyat 51:56)

Mengenai ayat ini, Imam An-Nawawi berkomentar, “Ini merupakan penegasan bahwa manusia diciptakan dengan tujuan ibadah. Oleh karena itu mereka wajib mencurahkan perhatiannya terhadap tujuan mereka diciptakan itu dan berpaling dari perkara-perkara keduniaan dengan cara bersikap zuhud (baca: mengambil dunia secukupnya), sebab dunia adalah kehidupan semu, tidak kekal, tempat untuk sekedar lewat, bukan tempat tinggal yang menyenangkan.

Hakikat Kampung Halaman

Dengan demikian, keberadaan manusia, demikian juga jin, di muka bumi ini selayaknya mengikuti tujuan yang telah Allah tetapkan. Sehingga siapa yang mau mewujudkan tujuan ini, akan memperoleh kehidupan sentosa di akhirat kelak, kampung halaman umat manusia. Ya, surga adalah kampung halaman dan kehidupan yang sesungguhnya. Bukankah Nabi Adam, bapak manusia, dahulunya di surga? Dan kelak akan Allah kembalikan ke surga setelah masa dunia telah usai? Maka benarlah apa yang dikatakan bahwa, “Cinta tanah air bagian daripada iman,” jika yang dimaksud tanah air di sini adalah kampung akhirat. Bahkan iman seseorang tidak bisa dikatakan sah jika mengingkari adanya kehidupan akhirat. Demikian keterangan yang pernah penulis dengar dari guru penulis, Al-Ustadz Aris Munandar –hafizhahullah-.

Oleh sebab itu, jadilah hamba-hamba Allah yang cerdik, mengerti apa yang semestinya diprioritaskan, mampu membedakan mana yang lebih penting dan mana yang hanya sampingan belaka. Sungguh alangkah indahnya untaian syair yang pernah dikutib Imam Abu Zakariya An-Nawawi –rahimahullah– dalam muqaddimah Riyadhush Shalihin (Taman Orang-orang Shalih):

طَلَّقُوا الدُّنْيَا وَ خَافُوا الفِتَنَا

إِنَّ لِلهِ عِبَادًا فُطَنَا

أَنَّهَا لَيْسَتْ لِحَيٍّ وَطَنَا

نَظَرُوا فِيْهَا فَلَمَّا عَلِمُوا

صَالِحَ الأَعْمَالِ فِيْهَا سُفُنَا

جَعَلُوْهَا لُجَّةً وَ اتَّخَذُوْا

“Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang cerdik, mereka menceraikan dunia, khawatir terjerumus dalam fitnah

Mereka memperhatikan dunia sampai kemudian mereka mengetahui bahwa dunia bukanlah kampung halaman.

Merekapun menilainya sebagai lautan dan amal shalih sebagai sampannya.”

Ali bin Abu Thalib pernah berkata, “Dunia akan pergi berlalu, sementara Akhirat akan datang. Dan masing-masing dari keduanya memiliki anak-anak. Oleh karena itu jadilah anak Akhirat, jangan menjadi anak dunia. Hari ini hanya ada amal perbuatan, tidak ada perhitungan (hisab), sedangkan esok hanya ada perhitungan, tidak ada amal perbuatan.”

Ketahuilah bahwa masing-masing daripada dunia dan akhirat itu saling menarik satu sama lain. Masing-masing memiliki konsekuensi, sebagaimana kata Abu Musa Al-Asy’ari, “Sesiapa yang mencintai dunianya, maka akan membahayakan akhiratnya. Sedangkan barangsiapa yang mencintai akhiratnya, maka otomatis akan membayahayakn dunianya. Oleh karena itu, dahulukan apa yang kekal daripada apa yang binasa.”

Ditulis Oleh:
Ustadz Firman Hidayat Marwadi حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)



Ustadz Firman Hidayat Marwadi حفظه الله
Pesantren Asy-Syifa Yogyakarta – Pesantren Hamalatul Quran Yogyakarta – Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab Jakarta (LIPIA)
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Firman Hidayat Marwadiحفظه الله
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS