FiqihIbadah

Sudah Hamil Tapi Masih Ada Hutang Puasa 7 Hari, Wajib Qodho Dan Fidyah?

Pendaftaran AISHAH Online Angkatan 2

Sudah Hamil Tapi Masih Ada Hutang Puasa 7 Hari, Wajib Qodho Dan Fidyah?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Sudah Hamil Tapi Masih Ada Hutang Puasa 7 Hari, Wajib Qodho Dan Fidyah? selamat membaca.

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh Ustadz, temen ana puasa ramadhan tahun kemarin bolong 7 hari, skrg mau mengqodho keburu hamil, usia kandungan ny sudah 6 bln dan tdak kuat untuk berpuasa krn magh nya lg bermasalah dan kemungkinan nanti dia lahiran sudah memasuki bulan puasa.

Bagaimana untuk mengqodho yg 7 hari itu ya ustadz ?

Ditanyakan oleh Santri Mahad Bimbingan Islam


Jawaban:

Waalaikumsalam warahmatullah wabarokatuh

Sebagaimana pendapat jumhur ulama ( Hanafiyah,syafi`iyah, Hanabilah dan yang lainnya) , yang tetap mewajibkan seorang wanita yang tidak berpuasa karena hamil/menyusui karena kekhawatiran terhadap dirinya dan janin/anaknya bila berpuasa, ia tetap meng qodho puasa yang telah ditinggalkannya.

Sebagaimana hadist Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنْ الْمُسَافِرِ نِصْفَ الصَّلَاةِ وَالصَّوْمَ وَعَنْ الْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ

“Sesungguhnya Allah meringankan separuh shalat dari musafir, juga puasa dari wanita hamil dan menyusui.”

(HR. An Nasai no. 2274 dan Ahmad 5/29. Syaikh Al Albani dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Imam Nawawi berkata, “Wanita hamil dan menyusui ketika tidak berpuasa karena khawatir pada keadaan dirinya, maka keduanya boleh tidak puasa dan punya kewajiban qadha’. Tidak ada fidyah ketika itu seperti halnya orang yang sakit. Permasalahan ini tidak ada perselisihan di antara para ulama. Begitu pula jika khawatir pada kondisi anak saat berpuasa, bukan pada kondisi dirinya, maka boleh tidak puasa, namun tetap ada qadha’. Yang ini pun tidak ada khilaf. Namun untuk fidyah diwajibkan menurut madzhab Syafi’i.” (Al Majmu’, 6: 177) 

Bila keadaan seseorang tidak bisa mengqodho puasanya karena sebab tertentu, maka kapanpun ia mampu maka hendaknya ia lakukan.

Sebagaimana keumumuman dari ayat yang menjelaskan tentang beban syariat agama kepada orang yang mampu, bukan kepada orang yang tidak mampu, firman Allah ta`ala,”

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al-Baqarah: 286).

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS. Al-Baqarah: 185).

[TS_Poll id="2"]

Namun, bila tidak ada sebab seseorang mengakhirkan qodho puasa sebelum ia mendapatkan penghalang puasa berikutnya, maka sebagian ulama mewajibkan bertaubat dari kelalian dan harus membayar fidyah sebagai bentuk sangsi terhadap kelalaiannya, di samping ia harus membayar puasa di waktu yang ia mampu, bila tiba ramadhan berikutnya.

Sebagaimana yang di fatwakan oleh syekh bin Baz rahimahullah ta`ala ketika di tanya dengan seseorang yang tidak bisa membayar puasanya sampai datang ramadhan berikutnya,”

“ يلزم السائل وفقه الله أن يبادر بالصوم في هذه المدة الباقية، وأن يقضي ما عليه من الصوم، هذا الواجب عليه قبل رمضان، ولا يجوز له التأخير والتساهل، لكن لو غلبه أمر كمرض منعه من الصوم فإنه يصوم بعد رمضان، وعليه إطعام مسكين عن كل يوم؛ بسبب التساهل الذي ألجأه إلى التأخير، أما الآن فيلزمه الصوم، يلزمه أن يبادر ويصوم ما عليه ويقضي قبل رمضان، هذا هو الواجب عليه، إلا إذا منعه مانع من المرض، كالمرض ما استطاع فلا بأس أن يؤجل، إذا عجز بسبب المرض حتى جاء رمضان فإنه يؤجله ويصومه بعد رمضان إن شاء الله، وعليه إطعام مسكين عن كل يوم؛ لأنه تساهل في التأخير قبل المرض، أما لو أخره بسبب المرض في جميع السنة، يعني: من حين أفطر وهو في مرض إلى الآن في مرض حتى جاء رمضان فلا شيء عليه إلا القضاء، يقضي بعد ذلك إذا عافاه الله يقضي بعد رمضان ولا شيء عليه، أما الذي أخر الصيام تساهلاً وعدم عناية فإن هذا عليه التوبة والاستغفار، وعليه أن يقضي ويطعم إذا أخره إلى ما بعد رمضان، أما إذا صام في رجب أو في شعبان لا بأس، ما عليه شيء، يصوم ولا حرج عليه. نعم.ل
وفقه الله أن يبادر بالصوم في هذه المدة الباقي

Baca Juga:  Meningkatkan Bacaan Al Qur’an Harian Agar Hajat Terkabul

“Hendaknya si penanya( semoga Allah memberikan taufik kepadanya)- harus segera mengganti puasa di waktu yang tersisa, sesuai jumlah hari puasa ( yang ditinggalkannya).

Wajib untuk di lakukan sebelum datang ramadhan berikutnya. Tidak boleh untuk menunda dan meremahkannya. Bila terhalang dengan sesuuatu, semisal sakit yang menghalanginya dari puasa, maka boleh membayar puasa setelah romadhan (berikutnya).

Namun ia harus memberikan makan kepada seorang miskin sesuai dengan jumlah harinya.dasarnya karena kelalaian yang menjadikan ia tertunda menjalankannya.

Adapun sekarang ia harus berusaha melakukan puasa ( bila mampu), harus dan segera berpuasa untuk membayar hutang puasanya sebelum romadhan berikutnya, ini yang wajib baginya.

Kecuali bila ia terhalang dengan suatu penyakit yang tidak memungkinkan untuk berpuasa maka tidak mengapa ia menundanya sampai datang romadhan berikutnya, kemudian berpuasa setelahnya atas izin Allah.

Namun wajib baginya untuk memberikan makan kepada seorang yang miskin,sehari satu orang miskin.karena telah menyepelekan menunda puasa sebelum sakitnya.

Namun, bila sebab menundanya karena dari awal tahun ia sakit sampai datang romadhan berikutnya maka tidak ada kewajiban baginya kecuali hanya mengqadha puasanya saja.

Ia ganti hutang puasa nya kapan ia sembuh dan tidak ada kewajiban lainnya ( dari membayar fidyah/memberikan makan).،

Yang mengakhirkan puasa karena malas dan tidak perhatian maka hendaknya ia bertaubat dan beristighfar, dan ia harus memberi makan/fidyah bila sampai ia akhirkan setelah ramadhan berikutnya.

Jika ia lakukan puasa pada bulan rajab atau syaban ( sebelum tiba ramadhan) maka tidak mengapa, tidak ada kewajiban apapun, ia puasa dan tidak mengapa.”

Wallahu A’lam

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله

Kamis, 27 Jumadil Akhir 1444H / 19 Januari 2023 M 


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di sini

Akademi Shalihah Menjadi Sebaik-baik Perhiasan Dunia Ads

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button