KonsultasiNikah

Suami Menyembunyikan Masalah Sejak Sebelum Menikah

Suami Menyembunyikan Masalah Sejak Sebelum Menikah

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan Suami Menyembunyikan Masalah Sejak Sebelum Menikah, selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagaimana hukum sebuah pernikahan yang di dalamnya dari awal sudah ada kebohongan?
kemudian apakah mempelai laki-laki termasuk anak durhaka?

Di mana mempelai laki-laki telah berbohong terhadap wanita di masa lalunya, laki-laki ini telah membuat skenario pernikahan yang indah yang telah dirancang dengan membawa nama orang tuanya terutama ibunya yang dia seret dalam skenario itu. Sampai dia memberitahu jika umur ibunya itu sudah tidak lama lagi dan laki-laki itu mau berbakti. Itu semua untuk melabui wanita di masa lalunya.

جزاك الله خيرا

(Dari Fulanah Anggota Grup WA Sahabat BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Suami Menyembunyikan Masalah Dari Sebelum Menikah

Sesuatu yang dimulai dari niat buruk, jika pelakunya tidak bertaubat kepada Allah Yang Maha Kuasa, maka hanya akan berakhir dengan sebuah penyesalan. Begitu juga dengan ibadah pernikahan, ia adalah fase di mana setiap muslim dan muslimah dengan penuh kejujuran dan kesungguhan ingin mahligai rumah tangganya berhasil serta selalu mendambakan rumah tangga penuh cinta dan keberkahan. Akan tetapi jika pernikahan itu jauh dari kata kejujuran yang terjadi adalah malapetaka.

Ikatan pernikahan bukanlah persoalan kecil dan sepele, tapi merupakan persoalan penting dan besar. ‘Aqad nikah dari sebuah perkawinan dipandang sebagai suatu perjanjian yang kokoh dan suci (mitsaqon gholizhoo).

Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman;

وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَىٰ بَعْضُكُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غغَلِيظًا

“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat”. (QS. An-Nisa: 21).

Karena itu, diharapkan semua pihak yang terlibat di dalamnya, khusunya suami istri, memelihara dan menjaganya secara sunguh-sungguh dan penuh tanggung jawab.

Jika ada masalah yang disembunyikan dari sebelum menikah oleh suami, hendaklah diselesaikan dengan cara baik-baik dan komunikasi dua arah antara suami istri setelah menikah. Selama itu tidak mengurangi hak istri, baik itu nafkah batin maupun lahir, maka yakinlah selalu ada jalan keluar bagi orang-orang bertaqwa.

Dalam kehidupan rumah tangga, seorang suami dan istri harus saling memahami kekurangan dan kelebihannya, serta harus tahu pula hak dan kewajibannya serta memahami tugas dan fungsiya masing-masing yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Sehingga upaya untuk mewujudkan pernikahan dan rumah tangga yang mendapat keridhaan Allah Ta’ala dapat terealisir, akan tetapi mengingat kondisi manusia yang tidak bisa lepas dari kelemahan dan kekurangan, sementara ujian dan cobaan selalu mengiringi kehidupan manusia, maka tidak jarang pasangan yang sedianya hidup tenang, tentram dan bahagia mendadak dilanda “kemelut” perselisihan dan percekcokan.

Mengalah Untuk Kebaikan Besar, Kenapa Tidak?

Mari bertanya kepada sang istri, “Siapa yang lebih Buruk, Suami Anda atau Fir’aun?” Namun demikian sejelek apapun Fir’aun ternyata tidak mengahalangi istrinya yaitu Asiyah bin Muzahim menjadi wanita penghuni surga. Bahkan kisah dan ketegaran batinnya diabadikan dalam ayat Al Qur’an;

وَضَرَبَ اللَّه مَثَلًا لِلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَة فِرْعَوْن إِذْ قَالَتْ رَبّ ابْن لِي عِنْدكك بَيْتًا فِي الْجَنَّة

“Dan Allah membuat istri Fir’aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata : “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” (QS. At Tahrim: 11)

Istri Ingin Bahagia?!

Bagi anda sebagai seorang istri yang mendambakan kebahagiaan, percayalah bahwa kebahagian itu hanya Allah Maha Kaya yang punya, bila anda beriman dengan baik, pasti anda bahagia, sebagaimana Asiyah bin Muzahim bisa tetap berbahagia walau suaminya adalah manusia paling jahat di dunia.

Selama anda mengharapkan kebahagiaan dari suami anda niscaya anda kecewa dan menderita.

Namun setiap kali anda fokus menunaikan tugas dan kewajiban anda sebagai istri, sedangkan hak dan kebahagian hidup anda, hanya anda pinta kepada Allah Yang Maha Kuasa, niscaya anda bahagia, siapapun suami anda.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

”Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyeujuk mata (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al Furqan: 74).

Suami Yang Berbakti Kepada Orang Tua

Adapun persoalan anak ingin berbakti kepada ibunya, maka ini persoalan lain dan ada bab tersendiri yang sangat penting. Kewajiban anak lelaki tetap berbakti kepada orang tuanya, walaupun ia telah menikah. Tugas istri adalah membantu dan mendukung kebaktian suaminya kepada orang tuanya, sebagaimana kelak ia juga akan menjadi ibu bagi anak-anaknya dengan izin Allah Ta’ala.

Sungguh indah ucapan penyair;

Wahai para istri
Jika ingin anak – anakmu kelak berbakti pada-mu
Dukung lah suami-mu untuk berbakti pada ibunya

كما تدين تدان

“Sebagaimana engkau berbuat,
begitu pula engkau akan dibalas”

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Kamis, 8 Shafar 1443 H/ 16 September 2021 M


Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini

 

Baca Juga :  Memajang Foto Keluarga di Rumah Menurut Islam

USTADZ FADLY GUGUL, S.Ag

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2012 – 2016 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Takhosus Ilmi di PP Al-Furqon Gresik Jawa Timur | Beliau juga pernah mengikuti Pengabdian santri selama satu tahun di kantor utama ICBB Yogyakarta (sebagai guru praktek tingkat SMP & SMA) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Dakwah masyarakat (kajian kitab), Kajian tematik offline & Khotib Jum’at

Related Articles

Back to top button