Status Sembelihan Ahli Kitab yang Tidak Disebut Nama Allah padanya

Status Sembelihan Ahli Kitab yang Tidak Disebut Nama Allah padanya

Status Sembelihan Ahli Kitab yang Tidak Disebut Nama Allah padanya

Salah satu syarat halalnya sembelihan adalah Tasmiyah, yaitu menyebut nama Allah ketika menyembelih, dan ini adalah pendapat Madzhab Dhahiri yang dirajihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah. Apabila seseorang dengan sengaja tidak menyebut nama Allah ketika menyembelih, maka dagingnya haram untuk dimakan dan ia berdosa. Sebagaimana jika ada orang shalat tapi sengaja tidak wudhu. Maka shalatnya tidak sah dan ia berdosa besar.

Akan tetapi jika si penyembelih lupa menyebut nama Allah, maka ia tidak berdosa, tapi tetap saja sembelihannya haram untuk dimakan. Sebagaimana wudhu adalah syarat sah shalat. Apabila orang lupa wudhu, dan baru teringat ketika ia ditengah shalat, maka wajib baginya untuk membatalkan shalatnya dan berwudhu, karena shalatnya tidak sah jika ia lanjutkan. Tapi di kasus kedua ini, orang yang lupa tersebut tidak berdosa. Maka para ulama menggariskan sebuah ketentuan:

الشُّرُوْطُ فِي بَابِ الْمَأْمُــوْرَاتِ لَا تَسْـقُطُ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ

Syarat dalam perkara yang diperintahkan,  tidak gugur dengan kejahilan dan lupa.

Dalil wajibnya tasmiyah, atau menyebut nama Allah ketika menyembelih adalah firman Allah,

وَلَا تَأْكُلُواْ مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ ٱسْمُ ٱللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُۥ لَفِسْقٌۗ

Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. (QS. Al-An’am : 121)

Sudah pernah kita sebutkan di artikel yang sebelumnya tentang syarat-syarat halalnya sembelihan, bahwasanya sembelihan ahli kitab adalah halal untuk dimakan, dan mereka adalah orang Nasrani dan Yahudi. Ibnu Qudamah berkata di dalam kitabnya, Al Mughni Li Ibni Qudamah (9/309), tentang ijmaknya para ulama akan halalnya sembelihan ahli kitab, berasarkan firman Allah Ta’ala,

ٱلْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ ٱلطَّيِّبَٰتُۖ وَطَعَامُ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلْكِتَٰبَ حِلٌّ لَّكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَّهُمْۖ

Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (QS. Al-Maidah : 5)

Disebutkan oleh Imam Al-Bukhari Rahimahullah tentang tafsir Ibnu Abbas radhiyallahuanhu tentang makna makanan ahlu kitab pada ayat di atas. Beliau mengatakan, “sembelihan mereka.” Mujahid, Qotadah, dan Ibnu Mas’ud pun sependapat dengan beliau.

Yang mungkin menjadi ganjalan bagi kita adalah, haruskah mereka (orang-orang ahlu kitab) menyebutkan nama Allah juga sebagaimana orang muslim ketika menyembelih harus membaca nama Allah.

Ibnu Qudahmah rahimahullah menyebutkan di dalam kitabnya, Al Mughni Li Ibni Qudamah (9/402), salah satu pendapat Imam Ahmad,

فَإِنْ تَرَكَ الْكِتَابِيُّ التَّسْمِيَةَ عَنْ عَمْدٍ أَوْ ذَكَرَ اسْمَ غَيْرِ اللَّهِ لَمْ تَحِلَّ ذَبِيحَتُهُ.

Jika ada seorang ahlu kitab (yahudi atau nasrani) sengaja tidak menyebut nama Allah, atau menyebut nama selain Allah, maka sembelihannya tidak halal.

Adapun Al-Khatib Asy-Syarbini dari madzhab Syafi’iyah di kitab Mugni Al-Muhtaj (5/105) mengatakan bahwasanya seandainya Ahlu Kitab meninggalkan tasmiyah, sekalipun sengaja, maka halal sembelihannya. Dikarenakan Allah menghalalkan sembelihan ahlu kitab, berdasarkan firman Allah, “Makanan orang-orang ahlu kitab adalah halal bagi kalian (orang muslim).” Dan sejatinya mereka tidak pernah menyebut bertasmiyah.

Atau kesimpulan perkataan beliau adalah, bagaimana kita harus mensyaratkan tasmiyah kepada ahlu kitab, padahal mereka pada asalanya juga tidak pernah bertasmiyah.

Adapun kami berpendapat bahwasanya dalam hal ini haruslah diperinci permasalahanya. Berikut beberapa rincian terkait masalah ini:

1. Tasmiyah sebelum atau ketika menyembelih adalah syarat halalnya hewan sembelihan. Dan syarat tidak gugur dikarenakan jahil atau lupa. Syarat ini berlaku juga bagi ahli kitab, berdasarkan keumuman ayat yang sudah kami sebutkan di atas. Tidak juga dijumpai satu dalil pun yang mengkhususkan ahlu kitab dari muslim.

2. Apabila kita mendengar ada ahlu kitab menyebut nama Allah ketika menyembelih, maka sah sembelihannya, dan halal dagingnya untuk kita makan. Analogi terbaliknya, jika kita mendengar atau melihat ada seorang yang menyembelih dan tidak atau lupa menyebut nama Allah, maka sembelihannya menjadi haram untuk kita konsumsi.

3. Kalau kita tidak tahu, tidak mendengar atau tidak melihat seorang ahlu kitab ketika menyembelih apakah ia telah menyebut nama Allah atau tidak, maka hukum asal daging ini adalah halal. Dan kita tidak wajib mengklarifikasi kepadanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu pernah makan daging sembelihan pemberian orang yahudi, dan beliau tidak menanyakan kepadanya apakah ia tadi ketika menyembelih menyebut nama Allah atau tidak. Aisyah radhiyallahu ‘anha juga pernah menceritakan tentang sekelompok orang yang meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُولَ اللَّهِ  إِنَّ قَوْمًا يَأْتُونَنَا بِاللَّحْمِ  لَا نَدْرِي أَذَكَرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ أَمْ لَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( سَمُّوا اللَّهَ عَلَيْهِ وَكُلُوهُ)

 “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada kaum yang datang kepada kami dengan membawa daging, kami tidak tahu apakah mereka sudah menyebut nama Allah atau tidak.” Maka Rasulullah pun bersabda, “Sebutlah nama Allah pada kalian makanlah. (HR. Al-Bukhari no. 2057)

Lajnah Da’imah pernah ditanya tentang status sembelihan ahlu kitab pada fatwa nomor 387/22. Maka keluarlah fatwa yang berbunyi,

“Seorang Ahlu Kitab jika menyembelih hewan sembelihan, jika kita tahu bahwasanya ia menyebut nama Allah sembelum ia menyembelih, maka boleh (bagi kita) memakan sembelihan mereka. Dan jika kita mengetahui, bahwa ia menyebut nama selain Allah, maka tidak boleh bagi kita memakan sembelihannya tersebut. Hal ini berdasarkan keumuman ayat,

وَلَا تَأْكُلُواْ مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ ٱسْمُ ٱللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُۥ لَفِسْقٌۗ

Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. (QS. Al-An’am : 121)

Tapi apabila kita tidak tahu apakah ia sudah menyebut nama Allah atau belum, atau mungkin ia menyebut nama selain Allah dan kita tidak tahu, maka hukum asal sembelihannya adalah halal.

Oleh maka itu, jika kita mendengar dan tahu ada seorang nasrani, misalnya, menyebut “demi bapak anak dan ruh kudus” atau yang semisal dengannya ketika menyembelih, maka haram bagi kita memakan sembelihannya.

Oleh maka itu, bagi seseorang yang bepergian ke negeri kafir yang mayoritasnya adalah ahlu kitab, entah itu yahudi atau nasrani, maka tidak mengapa bagi mereka untuk memakan daging sembelihan yang dijual atau disediakan di negeri tersebut. Kecuali jika kita tahu bahwasanya mereka membunuh hewan tersebut tidak dengan cara disembelih atau tidak menyebut nama Allah. Dan tidak ada kewajiban bagi kita untuk mencari tahu, karena itu termasuk takaluf (membebani diri) dalam beragama.

Wallahu a’lam

Ditulis Oleh:
Ustadz Kukuh Budi Setiawan, S.S., S.H. حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)

Beliau adalah Alumni UNS dan STDI Imam Syafi’i, Pengajar Pondok Pesantren Al-Irsyad Tengaran dan Pondok Pesantren Muslim Merapi Boyolali

CATEGORIES
Share This

COMMENTS