Muamalah

Status Keuntungan Dari Usaha Bermodalkan Pinjaman Riba

Pendaftaran Grup WA Madeenah

Status Keuntungan Dari Usaha Bermodalkan Pinjaman Riba

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut pembahasan tentang keuntungan dari usaha bermodalkan pinjaman riba. Selamat membaca.


Pertanyaan:

Bismillah, ustadz saya ingin bertanya. Saya seorang pelajar yang belum mencari nafkah sendiri dan masih ikut dengan orang tua. Sedangkan orang tua berjualan dengan modal pinjam dari pegadaian yang di mana ada bunganya dan termasuk riba.

Apa hukum keuntungan dari hasil usaha orang tua saya? Lalu bagaimana solusi seorang anak yang belum mampu menasihati orang tuanya dan masih memakan/memakai dari harta orang tuanya tersebut.

Dan apa status hukum barang, uang, dan makanan yang diberikan kepada saya?

Jazakallahu khayran ustadz.

(Ditanyakan oleh Sahabat BIAS melalui Grup WA)


Jawaban:

1. Keuntungan usaha halal adalah halal, modal pinjaman dari pegadaiaan yang ada bunganya hukumnya haram, sebaiknya segera melunasi seluruh pinjaman dan berlepas diri dari jeratan riba/bunga haram. Bila bisa pinjam modal usaha tanpa riba/bunga, maka ini lebih baik.

2. Solusi bagi anak yang belum mampu bekerja adalah belajar agama yang rajin, amalkan perintah yang wajib dan yang dianjurkan dalam agama, lanjutkan pendidikan dengan baik dan berprestasi, bantu orang tua sekuat mungkin, dan jangan bebankan mereka dengan kebutuhan dan keinginan yang kurang penting, serta banyak berdoa pada Allah Yang Maha Pemurah agar orang tua diberikan rizki dari yang halal saja.

3. Status makanan, atau barang yang Anda terima dari orang tua sebagai nafkah wajib bagi sang anak adalah halal menurut salah satu pendapat yang kuat.

Seperti seorang anak menerima nafkah dari orang tuanya meskipun itu uang riba. Tetapi anak menerimanya bukan dengan cara riba tetapi dengan cara yang halal yaitu nafkah. Imam Ibnu Utsaimin menyatakan tatkala ditanya tentang anak yang diberi nafkah orang tuanya dari hasil yang haram:

أقول : خذوا النفقة من أبيكم ، لكم الهناء وعليه العناء ؛ لأنكم تأخذون المال من أبيكم بحق ؛ إذ هو عنده مال وليس عندكم مال ، فأنتم تأخذونه بحق ، وإن كان عناؤه وغرمه وإثمه على أبيكم فلا يهمكم ، فها هو النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم قبل الهدية من اليهود ، وأكل طعام اليهود ، واشترى من اليهود ، مع أن اليهود معروفون بالربا وأكل السحت ، لكن الرسول عليه الصلاة والسلام يأكل بطريق مباح ، فإذا ملك بطريق مباح فلا بأس

انظر مثلاً بريرة مولاة عائشة رضي الله عنهما ، تُصَدِّق بلحم عليها ، فدخل النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم يوماً إلى بيته ووجد البُرمة القدرعلى النار ، فدعا بطعام ، فأتي بطعام ولكن ما فيه لحم ، فقال : ألم أر البرمة على النار؟ قالوا : بلى يا رسول الله ، ولكنه لحم تُصدق به على بريرة . والرسول عليه الصلاة والسلام لا يأكل الصدقة ، فقال : (هو لها صدقة ولنا هدية) فأكله الرسول عليه الصلاة والسلام مع أنه يحرم عليه هو أن يأكل الصدقة ؛ لأنه لم يقبضه على أنه صدقة بل قبضه على أنه هدية

“Aku katakan ambillah nafkah dari ayah kalian, nikmat bagi kalian dan siksa bagi ayah kalian (pelaku riba). Karena kalian mengambil harta dari ayah kalian dengan cara yang benar. Ayah kalian memiliki harta dan kalian tak punya harta. Dan kalian mengambilnya dengan cara yang benar.

Meski siksanya, tanggungannya dan dosanya menjadi tanggung jawab ayah kalian jangan kalian risaukan. Ini dia Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dari Yahudi, memakan makanan Yahudi, beliau juga membeli dari Yahudi. Padahal Yahudi dikenal dengan praktek riba serta kecurangan.

Akan tetapi Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memakannya dengan cara yang boleh. Apabila seseorang memiliki harta itu dengan cara yang boleh maka tidak mengapa.

Lihat misalnya Barirah maula Aisyah radhiyallahu anhuma, ia diberikan sedekah berupa daging. Lantas Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumah dan melihat panci sedang dipanasi. Beliau lantas meminta untuk didatangkan makanan. Lantas didatangkan makanan tetapi tidak ada dagingnya. Beliau lantas bertanya :

Bukankah aku tadi melihat panci yang dipanasi?

Orang-orang menjawab : Benar wahai Rasulullah akan tetapi daging itu statusnya sedekah untuk Barirah. Sedangkan rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak boleh memakan sedekah. Beliau berkata: Daging itu statusnya sedekah bagi Barirah dan menjadi hadiah bagi kita.

Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam lantas memakannya padahal beliau dilarang dari memakan sedekah. Akan tetapi beliau mendapatkannya bukan sebagai sedekah akan tetapi sebagai hadiah.”

(Al-Liqa’ Asy-Syahri : 16/45).

Meski demikian si anak harusnya tetap mendakwahi orang tuanya agar berhenti dari praktik riba secara bijak. Mengingatkannya, menasehatinya dengan lemah lembut, penuh santun. Mengajaknya menghadiri pengajian, mendoakan kebaikan serta hidayah baginya di waktu-waktu yang mustajabah.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Jumat, 22 Syaban 1443 H/ 25 Maret 2022 M


Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik di sini

Ustadz Fadly Gugul, S.Ag

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2012 – 2016 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Takhosus Ilmi di PP Al-Furqon Gresik Jawa Timur | Beliau juga pernah mengikuti Pengabdian santri selama satu tahun di kantor utama ICBB Yogyakarta (sebagai guru praktek tingkat SMP & SMA) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Dakwah masyarakat (kajian kitab), Kajian tematik offline & Khotib Jum’at

Related Articles

Back to top button
dentoto situs togel situs togel https://getnick.org/ toto togel https://seomex.org/ situs togel dentoto dentoto dentoto dentoto dentoto situs togel http://e-bphtb.pandeglangkab.go.id/products/ slot demo slot pulsa toto slot slot gacor